Monday, 24 October 2022
Sunday, 18 July 2021
REST IN PEACE
Bergoncengan di atas motor, saya pernah bercerita kepada seorang teman...
"Rasanya mati di saat pandemi merupakan momen yang baik. Yang benar-benar peduli akan langsung mendoakan dalam hatinya. Tak ada yang akan datang melayat hanya karna ikut-ikutan, atau bahkan agar tampak peduli. Keluarga tak perlu menjelaskan berulang-ulang kronologis menjelang ajal. Tak perlu ada pula kerabat yang menghabiskan uang demi perjalanan jauh mengantar ke liang lahat. Saya akan meninggal dalam sepi. Dalam damai."
Lalu hari ini, kabar duka kembali mampir di telinga saya.
Tunggu, rasanya penggunaan kata 'kabar duka' tidak tepat digunakan apabila merujuk pada paragraf sebelumnya. Mari kita sebut saja 'kabar meninggalnya seseorang'.
Saya tidak tahu apakah Beliau berpikiran sama, tentang waktu yang baik untuk mati. Tapi jelas tidak ada momen yang baik untuk kehilangan. 'Kabar duka' memang rasanya berlebihan. Tak pantas saya menyematkan nilai 'duka' padahal saya tidak pernah bertanya secara langsung, "Bagaimana rasanya mati?".
Rest in peace, Aki.
Friday, 23 April 2021
Yang Ditulis Usai Berpisah
Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi
lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki
sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak
menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan
perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi
bodoh bersama.
Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari
kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut
didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan
tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.
Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.
Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.
Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.
Wednesday, 17 February 2021
Senja yang Paling Tidak Menarik
Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.
Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.
Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.
Monday, 15 February 2021
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan
Wednesday, 29 July 2020
Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?
Monday, 25 May 2020
Sister Fillah, You'll Never Be Alone
*buku yang saya maksud, ini
Friday, 15 May 2020
Memperdebatkan Muslimah Kemudian Hijrah (Tapi Ga Berani Jauh-jauh, Takut Nyasar!)
Wednesday, 22 April 2020
Empat Penampilan Menghadiri Pertemuan Daring Selama #DiRumahAja
Tuesday, 14 April 2020
The Feminist Minds – Two Years of Collected Essays from Magdalene
Saturday, 7 March 2020
Percuma!
Kamu, yang telah memiliki pandangan akan ku, tetaplah kan berdiri sana, menilai ku dari sudut pandangmu sendiri.
Kamu telah memilih kata-katamu sendiri.
Aku tak menyalahkan jika rasa percaya akan dirimu lebih dari rasa percayamu akan aku.
Aku pun begitu.
Cobalah sepatuku sekali-sekali.
Pinjamkan sepatumu sekali-sekali.
Tarik aku ke tempat favoritmu saat mengamati banyak hal.
Pilihkan aku kaca mata terbaik dan terburuk yang kau punya.
Sebab percuma jika kita berbaring bersisian menghadap langit yang sama bila aku tak sanggup memandang bintang yang kau pandang.
Percuma kau genggam tanganku sepanjang malam jika tak sekalipun kau biarkan ku menunjuk satu bintang.
Monday, 24 February 2020
23 Februari 2020
Monday, 14 October 2019
Mereka Memayungiku Serupa Langit
Saturday, 14 September 2019
Am I There Yet? Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa
Wednesday, 11 September 2019
#WorldSuicidePreventionDay
Contoh sederhana, gagal mencapai sesuatu. Padahal rasanya segala upaya sudah dikerahkan, orang-orang sekeliling turut mendukung, hanya saja ada orang yang lebih bernasib baik. Jika sudah berjuang sehormat-hormatnya, mengapa bersedih?
Belum lagi perihal asmara. Untuk seorang berengsek yang tak pantas mendapat waktu dan curahan perhatian, mengapa pula masih mencurahkan air mata?
Dan demi menutupi duka, sering kali saya memilih luka.
Menenggak alkohol sampai lupa diri hingga di keesokan hari saya hanya perlu ke kantor dan mengerahkan seluruh sisa-sisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan kemudian mulai berpesta lagi.
Atau membubuhkan sayatan di pangkal paha agar logika membenarkan saya menangis.
Beruntunglah sebelum saya menyayat daging lebih dalam, seseorang menarik saya ke komunitas sepeda. Ia memperkenalkan saya pada lintasan-lintasan menantang. Awalnya, saya bergabung gara-gara logika saya bilang saya akan mati lebih terhormat jika jatuh ke jurang akibat bersepeda daripada mati bunuh diri. Setidaknya keluarga saya tak menjadi omongan tetangga. Namun ternyata ketika memegang setang sepeda, otak saya bekerja lebih baik mencari cara menyelesaikan lintasan sampai garis akhir alih-alih membelokkannya ke jurang.
Pada #worldsuicidepreventionday ini saya ingin menyampaikan, menangislah sebanyak dan selama apapun yang kamu mau. Hatimu butuh itu. Bantu dengan tubuh, berolahragalah. Berlarilah, ambil kelas zumba, atau bahkan kick boxing. Mungkin kaurasa hatimu telah mati. Tapi ia masih punya harapan untuk pulih jika tak kau matikan tubuhmu.
Walau sekarang saya masih bersedih saat terkenang dirinya, saya tak lagi mencari-cari alasan menyakiti diri untuk menangis. Bahkan saya tersenyum jika melihat lebam dan bilur saat terjatuh dari sepeda. Senyum bangga karena sanggup melewati masa terepih meski harus sompel di sana-sini.
Yaaa walau tetap tak mampu menahan air mata kala luka dibubuhi obat merah sih :'))
Friday, 6 September 2019
Rumah Kopi Singa Tertawa & Muslihat Musang Emas
Thursday, 22 August 2019
Save Me!
Cita-cita : Bisa nyanyiin ini tanpa nangis.....
It started off so well
They said we made a perfect pair
I clothed myself in your glory and your love
How I loved you
How I cried
The years of care and loyalty
Were nothing but a sham it seems
The years belie we lived a lie
I'll love you 'til I die
Save me! Save me! Save me!
I can't face this life alone
Save me! Save me! Save me!
I'm naked and I'm far from home
The slate will soon be clean
I'll erase the memories
To start again with somebody new
Was it all wasted?
All that love?
I hang and I advertised
A soul for sale or rent
I have no heart
I'm cold inside
I have no real intent
Wednesday, 10 July 2019
Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
“Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”
Tuesday, 11 September 2018
BHINNEKA TUNGGAL IKA
Ayah Bugis! Ibu Dayak! Istri Batak! Apakah saya harus menutupi semua itu?
Pemaknaan Bhineka Tunggal Ika yang menitikberatkan pada 'satu' alih-alih menerima terlebih dahulu bahwasannya kita 'berbeda-beda' membuat kaum minoritas mempunyai tendensi untuk menerka maksud tersembunyi di balik pertanyaan 'kamu orang apa?'. Takut tak diterima karena bukan bagian dari mayoritas, saya lebih sering menjawab 'orang Indonesia dong' padahal saya mengerti betul pertanyaan tersebut mempertanyakan suku atau agama saya. Dampak dari acuhnya terhadap perbedaan ini membuat kebanyakan kawan sebaya saya tidak mengenal bahasa orangtuanya. Lupa kalau kita bersumpah untuk berbahasa satu dan bukan bersumpah untuk mengenal satu bahasa saja.

















