Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi
lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki
sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak
menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan
perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi
bodoh bersama.
Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari
kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut
didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan
tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.
Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.
Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.
Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.

0 comments:
Post a Comment
Leave a word here..