Showing posts with label (not) a poem. Show all posts
Showing posts with label (not) a poem. Show all posts

Monday, 14 October 2019

Mereka Memayungiku Serupa Langit

Menyediakan matahari dan bulan dan pelangi.
Memberi hujan walau kadang ku sedang ingin bermain di luar.
Membiarkan ku bersembunyi, meski mereka tahu, mereka jauh lebih indah dari langit-langit kamarku.

Mereka memayungiku serupa langit.

Mereka ada.
Tanpa diminta.
Yang tanpanya tak kan ada kehidupan.


Friday, 8 June 2018

Negeri Hoaks

Setiap minggu kau berulang menyuarakan Tuhan yang Maha Esa.
Namun kau tak sepakat Tuhanku dan Tuhanmu sama.
Jadi yang menciptakan dunia ini Tuhanku atau Tuhanmu?

Mengaku manusia yang adil dan beradab.
Namun dengan gampang kau serukan perang pada orang-orang yang tak sepaham denganmu.
Lantang berteriak 'binasakan' padahal mereka tak pernah mencelakakanmu.

Hiduplah persatuan, katamu.
Namun kau tak mau melebur dengan mereka yang bekerja dengan cangkul.
Memandang rendah mereka yang pendidikannya lebih rendah darimu!

Apa? Musyawarah?
Tapi kau menjunjung tinggi demokrasi?
Kau tahu, demokrasi itu sistem yang memungkinkan orang dengan pemikiran kerdil menang hanya karna jumlah mereka lebih banyak!

Hak milik tanah cuma mampu ditebus oleh orang-orang kelas atas.
Jangankan pendidikan, untuk berkehidupan layak pun kami dinilai tak pantas.
Masih berani kau menyebut-nyebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat?

Aku....
tinggal di negeri hoaks ya?



*posted on instagram, January 24th 2018 for #30haribercerita with theme "hoaks"

Tuesday, 29 November 2016

Lebih Menyakitkan dari yang Tak Berbalas

Perasaan yang lebih menyakitkan
dari cinta yang tak berbalas
adalah yang tak tersampaikan

Apabila kau merasakan cinta tak berbalas,
mungkin kau akan jatuh

Tapi di situlah kehebatannya:
ia akan mengajarkanmu berdiri
bangkit dari sebuah keterpurukan
dan berjalan dengan lebih tegap kemudian
Mendapat sebuah pelajaran dari sebuah pengalaman cinta

Namun apabila kau merasakan cinta tak tersampaikan:

Kau terlalu takut untuk menunjukkan isi hatimu
membiarkan dirimu larut dalam dunia yang penuh khayal akan-nya

Kau hanya mampu berdiri
berdiri di tempat di mana kau berpijak sekarang
menunggu dan berharap ia akan menoleh kepadamu

Kau tidak dapat mundur
tapi juga tak mampu untuk melangkah maju

Ketika ia datang menghampirimu
kau hanya dapat tersenyum
tak dapat melompat dan memuntahkan luapan bahagia dalam dirimu

Dan ketika ia pergi lagi
kau juga hanya perlu tersenyum
menutup semua perasaan
memendam semua kesedihanmu
tetap berdiri di situ........

Tuesday, 26 July 2016

Jatuh

Lagi-lagi aku terjatuh
salah perhitungan
tak kuprediksi ada lubang di sana
memang tak dalam
tapi jelas sakit.

Aku mensyukuri tragedi ini, kadang
setidaknya aku punya alasan berhenti berjalan
untuk sesaat atau mungkin beberapa saat
hingga aku merasa baik-baik saja berjalan kembali

Tapi jujur saja
aku benci jatuh kali ini
ia berjalan beriringan denganku, mengapa cuma aku yang jatuh?
ketika ku jatuh, mengapa dia tak membantuku berdiri?
aku memanggil namanya, mengapa ia terus berjalan?



Lubang itu
tak bernama seperti lubang buaya

Lukaku
tak terlihat, tak menyisakan lebam pada kulit

Jatuhku
dikenal orang-orang

Cinta, kata mereka
jatuh cinta.

Sunday, 5 June 2016

Kemarilah, mendekatlah...

Kemarilah...
Ada yang ingin ku sampaikan padamu
Sesuatu yang telah sekian lama aku ketahui
Dan kini aku tak sanggup memendamnya lebih lama lagi.

Mendekatlah...
Tempelkan telingamu ke bibirku
Tak ingin ku angin mencuri dengar.
Aku akan mengatakannya sepelan mungkin
Hingga tak sepatah katapun didengar oleh telingaku.

Kemarilah, mendekatlah...
Hanya dirimu yang boleh mendengar ini
Aku ingin mengatakan sesuatu
Bahwa sebenarnya aku . . . . . . . . .

Monday, 30 May 2016

Untukmu, Pujangga

Jatuh cinta padamu, Pujangga, sungguh adalah suatu petaka
Semua sikapmu sama sekali tak terbaca
Aku hanya mampu memendam rasa.

Tulisanmu muncul di dunia maya, menggambarkan seseorang yang berbahagia
Padahal beberapa saat sebelumnya kau menemuiku dan bercerita dengan penuh lara.

Kadang, saat kita sedang tertawa bersama
Kau mengganti statusmu dengan rasa kecewa.

Apakah sebegitu hebatnya dirimu hingga kau hanya perlu membayangkan kemudian lahirlah tulisan?
Atau memang, ada sesorang di sana, yang membuatmu kecewa, bahagia, jatuh cinta..... hingga diriku tak pantas diperhitungkan keberadaannya?

Wednesday, 4 May 2016

#NyalaUntukYuyun

Berita seorang perempuan diperkosa 14 laki-laki beredar sudah.
Satu hal yang membuat saya jengah.
Ada saja yang akhirnya berpesan, "Makanya jangan pake yang mini yah."

Hahahahahahahaha
BANGSAAAAAAT!!! KEPARAT!! BIADAB!!

Tuan...... tuan.........
Kenapa kami yang disalahkan ketika kalian tak dapat manis berkelakuan?
Kenapa harus kami yang menjadi penjaga iman kalian?
Apakah semata karna kami ....perempuan?

Monday, 28 September 2015

Sebelum kau pergi....,

Dekaplah aku
Hingga sesak di dadaku lenyap terganti debar jantungmu

Kecup kedua mataku
Agar tak kembali hujan menyombongkan rinainya

Kunci bibirku dengan bibirmu
Biar semua isak terbungkam, semua kata terpendam

Ah, atau kau bunuh saja aku
Toh melepaskanmu pergi sama saja dengan berjalan menuju pemakamanku sendiri.

Friday, 7 August 2015

Lesak

Memberontak ia
Tak terima dirantai dibelenggu
Teriak
Pekik
Amuk..
Tangis
Keluar juga melalui mata
Mengalir di pipi hingga dagu
Membuktikan ku tak kuasa menahan lesakan itu lebih lama
Tak inginkah kau datang, sayang?
Agar air mata ini berubah menjadi haru
Sebelum aku menggelantang diri di bawah langit biru

Thursday, 2 July 2015

Aku Benci Pernyataan Merambang!

Tanpa kode.
Tanpa taka-teki.
Tanpa petunjuk.
Kau hanya melantunkan pernyataan-pernyataan merambang.
Dan bahkan tanpa pertanyaan!
Membuat ku tak tahu harus berfokus pada apa.
Benci!
Aku benci!
Aku benci menginterpretasi!
Karna itu membuat ku berpegang pada sesuatu yang tak pasti benar.
Tak bisakah?
Tak bisakah kau?
Tak bisakah kau menyatakannya?
Tak bisakah kau menyatakannya secara gamblang?
Bahwa kau mencintaiku....
Atau bahwa kau, tak mencintaiku lagi.

Wednesday, 1 July 2015

Saturday, 6 June 2015

Tuhan........,

Tuhan, mengapa harus selalu ada akhir di dunia ini?

Mengapa aku tak bisa selamanya bermain sebagai anak kecil?
Tak bisa selamanya menikmati hijaunya dedaunan dari bangku taman favoritku?
Selamanya mendekap orang yang ku cintai?
Mengapa suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibuku.......?

Tuhan, Engkau lucu.........
Engkau mengadakan sebuah arena yang disebut dunia
Kemudian Engkau menurunkan jutaan rintangan
Siapa yang berhasil menaklukan rintangan-rintangan itu, akan kembali bersama-Mu di Nirwana
Siapa yang gagal, akan Engkau kirim ke tempat penyiksaan yang bernama neraka

Tak bisakah Engkau mencipta dan meletakkan kami di sisi-Mu, Tuhan?
Mengapa ???!

Apakah Engkau begitu ingin dipuja sehingga menurunkan berjuta manusia dan bersabda bahwa aku ini begitu hina?
Apakah Engkau menikmati setiap rintihan dan air mata yang ku cucurkan ketika ku tersandung berjalan melewati rintangan-Mu?
Ah.... atau apakah Engkau ingin ku anggap Pahlawan? Hingga menciptakan skenario turun ke bumi dan mati di kayu salib demi menyelamatkanku
Tuhan, Kau................................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................

tolong aku.................., Tuhan

Saturday, 21 March 2015

me tasting heaven

It's raining now
and I'm cold
My mind goes to you
At the moment we spent the day together . . . .

It wasn't the sun radiating heat
It was you
Did the conduction
by a little quick kiss
at my waist
when you laid your head on my lap

Just a moment before
You said it is heaven
'Surgee'.... then you laid your head closer to me
Put your hands on my left and my right, felt like you were hugging me
And it turns to
me tasted heaven

........shit!
How can I remember all of those?!
Even my skin can recall that sensation;
my flesh be a conductor, transferring warmth
to my chest
to my head
to my thighs, my knees

I feel warm
Though my fingers' tips can't feel this embossed keyboard

'Fall in love, vi?'
'Seems like.. and I fall depth this time'

Saturday, 14 March 2015

Manusia Modern

'Manusia modern' itu egois.

Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga adatnya.
Padahal ia telah lupa akan kebudayaannya.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya tetap tinggal di rumah tradisional.
Padahal ia membangun rumah kotak-kotak dari beton dan kaca.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menggarap lahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal ia taunya hanya memBELI bahan makanan di pasar ber-AC.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga alamnya.
Padahal ia yang merusak hutan demi memperkaya diri.
Berkata "bukan pedalaman namanya kalau masih terjangkau kendaraan" "bukan pedalaman namanya kalau penduduknya punya ponsel".
Padahal apa salah mereka kalau mereka ingin MAJU? ingin MEMPERMUDAH hidup? ingin MELIHAT dunia luar?
Berkata masyarakat pedalaman itu tidak mencintai INDONESIA!
Padahal apa salah mereka menukar sayur menjadi minyak goreng dan gula di negara sebelah?
Sedangkan ia ke negara lain untuk SHOPPING! TRAVELLING! Sekedar FOTO2!

Merasa pintar dan berpendidikan.
Seolah mereka yang tidak sekolah itu bodoh dan lebih rendah derajatnya.
Merasa paling tahu karena sudah membaca buku-buku terbitan luar.
Padahal yang lebih mengenali alam itu MEREKA!!
Merasa mereka itu syirik dan patut dilaknat karena melakukan persembahan dan ritual-ritual.
Padahal nilai luhur mereka menaungi hati-hati yang jauh lebih bersih!
Merasa menang karena mempunyai banyak investasi.
INVESTASI APA??
Tanah yang seharusnya bisa ditinggali orang lain?
Rumah-rumah yang tak dihuni dan membuat harga material meroket?

Salah mereka? yang tak mampu menahan perkembangan teknologi.
Salah mereka? yang tak mampu melawan arus globalisasi.
Salah mereka? yang tak mampu bersilat lidah di hadapan para investor.
Salah KAMU, MANUSIA MODERN!!
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di balik layar laptop.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di gedung bertingkat tinggi.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila semuanya tinggal KLIK, tinggal SENTUH, tinggal SURUH!

Friday, 5 December 2014

dua minggu setelah dari sana

Seminggu di sana artinya udah ikhlas bilang tidur di 'kamar'
Walau tempatnya sama ketika ingin membuat dadar.

Seminggu di sana artinya udah berani ke wc walau bukan untuk buang air besar.
Bukannya selama ini takut, tapi males keluar.
Banyak sarang-sarang lebar, lengkap dengan laba-laba jumbo yang bikin jantung berdebar.
Mesti melewati susunan kayu yang udah memakan 3 korban.
Kalau mau pipis, pas mandi aja mendingan.
Kan mandinya di sungai tuh, nah pipisnya sekalian.

Seminggu di sana artinya udah pada lihai nyuci piring!

Udah ga ada yang menyisakan pasir kuning.
Tak ada pula sisa minyak di atas mangkuk bening.

Seminggu lebih di sana artinya cewek dan cowok lebih membaur.
Nonton bareng sampai pandangan mata kabur.
Dulu, kalau ada yang ngajak mandi bareng itu ngawur.
Tapi nggak lagi sejak ada tragedi mandi di kala mentari menghadap timur.

Seminggu lebih di sana artinya udah bisa bangun siang.
Malam pertama ketika tiba, tidur gak tenang!
Terlalu banyak serangga yang bersarang.
Semua bangun pagi tanpa mengerang, padahal rencana kegiatan masih di awang-awang.

Seminggu lebih di sana artinya wc mampet!

Tiba-tiba dibombardir sebelas orang setiap hari gimana ga mampet.
Hari-hari terakhir mesti tahan walau perut udah mumet.
Daripada mesti bolak-balik ngangkut air sampai singset!

Padahal sebelum berangkat saling ngingetin supaya mulut diatur!
Eh dua minggu di sana omongan udah pada nggak disadur.
Syukur masih tau cara sopan bertutur.

Ah, kangen mandi di sungai!
Kangen ngajar bocah2 n ngebuktiin kalau mereka itu pandai.
Kangen naik motor pake trek ala roler koster!
Kangen ngeliatin gunung yang tertutup awan kayak di poster2.
Pingin nggendong Rafles lagi!
Pingin minta rokok daunnya Pak Biden lagi!
Pingin ........ ke Sungai Bening lagi . . . . . . . . . . . . . .


Saturday, 15 March 2014

Takkan mungkin jatuh hati ...(?)

Memang salahku yang tak takut api. Tak takut kau datang dan dekati. Meladenimu sambil meyakinkan diri: takkan mungkin ku jatuh hati. Namun ternyata aku salah prediksi. Ada rasa di sini, untukmu yang telah mempunyai istri.
Ah... ternyata rasa itu sesakit ini, mencintai seseorang yang tak bisa dimiliki.....

Friday, 14 March 2014

Siapa yang bodoh?

Masih ingat berapa kali kau menyatakan cintamu padaku?
Berapa kali kau menerima penolakan?
Tapi toh kau tetap berjuang
Kau mencintaiku.... akumu

Lalu kenapa semua berakhir seperti ini?
Kau mengatakan aku yang memberimu jalan untuk keluar
Tapi kau yang memilih untuk pergi
Kau yang memilih untuk melepasku....

Siapa yang bodoh??

Kau! ya, kau...
dan Aku
yang tak memintamu untuk tinggal
yang tak memohonmu untuk kembali
yang tak menunggumu pulang
yang juga memilih tuk meninggalkan rumah kita

Tuesday, 18 February 2014

Tak Cukupkah?

Apa dia tak cukup cantik bagimu
. . . hingga kau masih mendekatiku?

Apa dia tak cukup lembut bagimu
. . . hingga kau masih membelaiku?

Apa dia tak cukup kuat bagimu
. . . hingga kau masih bersandar padaku?

Apa dia tak cukup hangat bagimu
. . . hingga kau masih mendekapku?

APA DIA TAK CUKUP BAGIMU HINGGA KAU MASIH MENGINGINKANKU?!!
Lalu . . . apa aku tak cukup bagimu hingga kau tak kunjung melepas dirinya??

Monday, 10 February 2014

Kamu Lintah!

KAMU ITU LINTAH! yang doyannya menghisap darah
Tapi justru karena itu aku perlu kamu.. untuk menghisap darahku
Salahku, memang, lebih memilihmu daripada alat penghisap darah lainnya
Karna kau makhluk tak tau diuntung
Kau menyedot darahku dengan penuh nafsu
Terpaksa aku mengusirmu yang membawa serta cabikan kulitku.

Ku abaikan lukaku. Ku lupakan sakitku. Aku perlu kamu.
Tapi DASAR KAU LINTAH!
Kau benar-benar makhluk tak tau diuntung
Ku beri kau kesempatan mencicipi darah segar
Tapi kau malah menggerayangi tubuhku dan menghisap darah dari tiap inchi-nya
Aku meringis. Kau tak peduli.

Sakitku sembuh. Lukaku memudar. Aku kembali mencarimu.
Bodohnya aku percaya kau bisa kenyang
Tololnya aku berharap kau bisa bosan
Ku tempelkan lagi dirimu ke tubuhku
Ku rasakan sakit mendalam yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Ternyata kau bukan lagi lintah
KAU ULAR! yang menancapkan taringmu dan menyebarkan racun ke tubuhku.

Thursday, 6 February 2014

Kehidupan Sesudah Mati

Kehidupan sesudah mati
Keberadaanya masih misteri
Dikatakan berbeda dg bumi yg penuh penghuni.
Sungguh senang mendengar teori
Mengetahui ku kan tetap berdiri
Walau tanpa urat nadi.
Pantaskah ku percaya pada mitos ini?

Tapi tetap saja
Tubuhku terlanjur tumbuh dalam cinta
Walau tiap hari bermandi air mata.
Tak inginku menjatuhkan diri dari atas menara
Atau membiarkan lidah terbakar racun serangga.
Tak mampu ku menodongkan pistol ke kepala
Atau menghujam pisau tepat di dada.

Kenapa kau harus pergi?

Benarkah kau tak kembali?
Mungkinkah kita kan bertemu suatu saat nanti?
Pada yang keberadaannya masih misteri.
Di kehidupan sesudah mati.