Tuesday, 11 September 2018

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Apapun suku, agama, bahkan ras kita, kita tetap satu, Indonesia.

Sebuah semboyan yang begitu indah karena negara ini tak akan memandang warna kulit, lurus atau keritingnya rambut, atau bagaimana cara kita berdoa, selama kita mengaku bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia. Namun hemat saya, ada salah penekanan dalam pemaknaan Bhineka Tunggal Ika.

Jika saya berkata 'kamu China' karena kamu memang China, mengapa merasa tersinggung?
Ayah Bugis! Ibu Dayak! Istri Batak! Apakah saya harus menutupi semua itu?
Pemaknaan Bhineka Tunggal Ika yang menitikberatkan pada 'satu' alih-alih menerima terlebih dahulu bahwasannya kita 'berbeda-beda' membuat kaum minoritas mempunyai tendensi untuk menerka maksud tersembunyi di balik pertanyaan 'kamu orang apa?'. Takut tak diterima karena bukan bagian dari mayoritas, saya lebih sering menjawab 'orang Indonesia dong' padahal saya mengerti betul pertanyaan tersebut mempertanyakan suku atau agama saya. Dampak dari acuhnya terhadap perbedaan ini membuat kebanyakan kawan sebaya saya tidak mengenal bahasa orangtuanya. Lupa kalau kita bersumpah untuk berbahasa satu dan bukan bersumpah untuk mengenal satu bahasa saja.

Negara menolak pernikahan antardua warga yang berbeda agama meski mereka mengamini benar Indonesia. Saya mereka-reka, sepertinya yang sepakat membuat peraturan menolak pernikahan antaragama ini terbiasa berdoa dipimpin saat menghadiri acara-acara umum. Lupa bahwa kita ini berbeda-beda sehingga membiarkan salah satu pemuka agama memimpin doa dengan cara yang diyakininya. Dan kebiasaan ini masih lestari hingga sekarang! Membuat saya bertanya-tanya: tak adakah yang merasa tersinggung karena perbedaannya tak diterima oleh forum saat berdoa? Hahahahaha, maaf atas pertanyaan bodoh saya. Tentu jawabannya tak seorangpun berhak tersinggung sebab pembacaan doa di Upacara Negara Indonesia tercintaku ini juga dipimpin oleh satu agama saja. Argumentasi bahwa sikap ini adalah pengejawantahan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa niscaya membuat saya terbahak. Saya percaya, sila pertama dalam ideologi Pancasila bermakna bahwa Indonesia akan menjamin warga negaranya untuk beragama. Bukan untuk mengambil peran agama (yang melarang pernikahan beda keyakinan).

Hahahahaha, maaf lagi-lagi saya tertawa atas kebodohan saya. Saya baru menyadari bodoh sekali saya mempermasalahkan ihwal berdoa dan pernikahan antaragama, sedang Indonesia hanya mengakui beberapa agama saja. Mana agamanya impor semua lagi. Negara enggan melegalkan kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, Kejawen, entah apa alasannya.

Ah, mungkin sebaiknya saya mencari pengimplementasian dari Bhineka Tunggal Ika yang dimaksud oleh Negara dulu. Ada yang bisa membantu?

0 comments:

Post a Comment

Leave a word here..