Monday, 24 October 2022
Friday, 23 April 2021
Yang Ditulis Usai Berpisah
Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi
lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki
sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak
menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan
perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi
bodoh bersama.
Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari
kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut
didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan
tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.
Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.
Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.
Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.
Wednesday, 17 February 2021
Senja yang Paling Tidak Menarik
Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.
Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.
Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.
Monday, 15 February 2021
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan
Wednesday, 29 July 2020
Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?
Monday, 25 May 2020
Sister Fillah, You'll Never Be Alone
*buku yang saya maksud, ini
Friday, 15 May 2020
Memperdebatkan Muslimah Kemudian Hijrah (Tapi Ga Berani Jauh-jauh, Takut Nyasar!)
Tuesday, 14 April 2020
The Feminist Minds – Two Years of Collected Essays from Magdalene
Saturday, 14 September 2019
Am I There Yet? Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa
Friday, 6 September 2019
Rumah Kopi Singa Tertawa & Muslihat Musang Emas
Wednesday, 10 July 2019
Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
“Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”
Saturday, 29 October 2016
Ben Hur, Snowden, Inferno, & Doctor Strange
Friday, 22 January 2016
Renjana Dyana - order and chaos
yang menulis beberapa novel termasuk Renjana Dyana;
yang kata-katanya dalam chapter order and chaos saya ketik dan kalian baca barusan.
I like the way he describes time flies fast when we are happy.
I like the way he tells how suffer we are when our heart hurt.
And most of all, he slaps me on my face by writing about pray and hope.
Yeah, pengharapan.
I kinda know what does she (the woman in the novel) feel.
I only pray when I have pengharapan, when I believe that that thing cannot be held by me but there is Someone who can.
I just agree to every word he choose. That's it.
And that's why, I made this and suggest you to read and buy the book.
PS.
I haven't finished read the book.
What do you think adimodel means 'ini' in the last line?
Her sadness?
Or her life, perhaps?














