Kalis Mardiasih mengumumkan peluncuran buku terbarunya di
Bulan April lalu. Saya, yang memang doyan dengan tulisan Mba Kalis bahkan sebelum
Mojok sempat mati suri, turut memesan buku tersebut meski gagal paham dengan
judulnya, Sister Fillah, You’ll Never Be
Alone. Sangka saya 'fillah' itu nama! Berhubung waktu pesannya cukup lama,
sekitar dua minggu belum termasuk waktu pengiriman, saya jadi turut mencari
buku Mba Kalis yang sebelumnya urung saya baca karna terdengar Islami sekali,
Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.
Feminisme,
gerakan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan
perempuan diejawantahkan dengan baik di buku Muslimah yang Diperdebatkan. Teramat
baik malah, karena isu-isu feminis yang kerap dipandang bertentangan dengan
nilai keagamaan, dijabarkan secara sederhana melalui kegiatan sehari-hari dari
sudut pandang Islam. Mba Kalis menyatakan dalam epilog bukunya bahwa Islam
hadir lebih nyata di telinga, mata, bahkan aliran darahnya dalam ide feminisme
tersebut.
Dogma
masyarakat mayoritas dapat dengan mudah saya tepis dengan “saya bukan Islam”,
tapi tentu tidak semudah itu untuk para muslimah. Hukum halal-haram sering kali
dijatuhkan lebih awal pada mereka ketika berusaha menyuarakan relitasnya. Ya,
harus kita akui bahwa tekanan justru datang lebih banyak dari lingkungan
terdekat, termasuk keluarga.
Kendati tema
cerita buku ini tidak seberagam buku mengenai perempuan lainnya yang pernah
saya baca, buku ini teramat ‘membebaskan’. Kemuliaan muslimah yang selama ini
digambarkan melalui simbol (panjang kerudung misalnya), penyerahan diri (yang
mungkin disalahartikan sebagai taat pada suami), laku anggun, dan hal
sebangsanya harus dipertanyakan kembali. Apa lagi saat diperhadapkan dengan
realitas pengalaman perempuan yang berbeda-beda.
Kalau dilihat dari judul, buku ketiga Mba Kalis terkesan ‘Mojok’
banget, Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!. Tedengar sedikit nakal tapi
banyak akal, ternyata isinya cukup serius jika dibandingkan dengan Muslimah yang
Diperdebatkan, tapi ya tetap saja nakal!. Saya menilai buku ini serius karena
ada banyak istilah keisalaman dan tokoh-tokoh Islam yang sangat awam bagi saya.
Di halaman pertama prolognya saja saya sudah harus mencari arti Lailahailallah Muhamadan Rasullah di
laman peramban.
Buku ini terbit di tahun 2019 sebagai repons terhadap fenomena
‘iklan hijrah’ yang marak di berbagai media, termasuk media sosial. Ada lima
bab di buku ini: Islam dan Kebaikan Anak-anak, Islam dan Kemanusiaan, Islam dan
Akal Sehat, Islam dan Contoh Baik, dan Islam dan Modernitas. Masing-masing
berisikan tujuh hingga delapan tulisan pendek yang secara tak langsung mengajak
kita untuk berhijrah ke dalam diri.
Kedua buku
ini bukan buku perihal hukum-hukum Islam. Saya yang bukan Islam dapat
menikmatinya tanpa harus pusing dengan dalil ataupun ayat. Konsep muslimah yang
digambarkan pada Muslimah yang Diperdebatkan sangat saya harapkan juga
tergambar di perempuan Kristen seperti saya, serta perempuan-perempuan lainnya.
Dan apabila suatu saat saya memutuskan untuk memeluk agama Islam, mungkin buku Mba
Kalis adalah buku yang akan saya dekap erat agar mampu berhijrah tanpa nyasar
haha. Di buku yang sama saya juga belajar untuk memanusiakan manusia, tak
seperti konsep agama surgawi yang acap kali digaungkan belakangan ini.

0 comments:
Post a Comment
Leave a word here..