Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Wednesday, 17 February 2021

Senja yang Paling Tidak Menarik

 

Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.

Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.

Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.

Monday, 15 February 2021

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung. Ia mencurahkan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya dan tidak membiarkan apa pun melukai mereka. Sebagai pasangan, ia juga setia tanpa bergantung kepada pasangannya. Ia mampu melindungi diri sendiri, anak-anak, dan kelompoknya. Di sisi lain, serigala betina mendorong anaknya untuk mandiri, untuk mampu melindungi dirinya sendiri. Sepaham dengan Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian dan psikolog etnoklinis, Ester Lianawati menggunakan serigala betina sebagai representasi dari arketipe perempuan liar. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam.

Buku ini terdiri atas tiga bagian:
Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana; 
Semesta yang Tak Terlihat; dan 
Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan. 

Bagian pertama menceritakan tentang teori-teori psikologi feminis dan perkembangannya, bermula bahkan sebelum ada yang secara resmi disebut “psikolog”. Kendati penjelasannya tak runut dan tak dalam, Ester menyertakan tujuh halaman Daftar Pustaka sehingga memudahkan pembaca jika tertarik akan informasi tertentu. Saya sangat menyukai kalimat penutup bagian ini: à chacum son cerveau (tiap orang punya otaknya sendiri). Kalimat dari Cathrine Vidal untuk mempertegas bahwa sejatinya tidak ada otak laki-laki dan otak perempuan, tidak seperti teori populer yang “mencap” perempuan cenderung neurotik dan tidak secakap pria karena faktor biologis. 
Bagian kedua merupakan yang paling mengasyikkan untuk dibaca karena Ester menyajikan realitas dalam masyarakat, yang tentu saja sangat berkenaan dengan kehidupan keseharian kita, kehidupan patriarkis yang dipaparkan sedari kita dini dan acap kali kita langgengkan keberadaannya. Penjabaran ihwal serigala betina ada pada bagian ini. Sayangnya, terjadi repetisi beberapa contoh dan cerita di bagian ini sehingga terasa kurang seru.
Bagian ketiga dapat dikatakan yang terbaik. Pertanyaan pada sinopsis, “Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri?” dapat saya jawab dengan jawaban yang sama dengan penulisnya, “Saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya”.

Wednesday, 29 July 2020

Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?




Man bisa jadi laki-laki atau perempuan, tapi woman pasti perempuan.
Perempuan dapat berpakaian seperti laki-laki dan dipandang normal karena maskulinitas bersifat netral, tapi tidak ada laki-laki ‘normal’ yang berkebaya ataupun menggunakan rok tutu.
Laki-laki bersifat universal. Jika ingin memahami manusia, kita akan membaca cerita yang sama-sama dialami oleh laki-laki dan perempuan. Kita tak perlu repot membaca buku tentang persalinan, sebab melahirkan tidak termasuk pengalaman manusia. Melahirkan adalah pengalaman perempuan.

Demikianlah dunia bekerja hingga tak pantas jika kita menyalahkan Adam Smith, Bapak ilmu ekonomi, yang meniadakan pekerjaan perempuan dalam perhitungan ekonominya. Pada 1776 ia menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri-sendiri.” Ia memandang motif ekonomi sebagai penggerak tindakan manusia, seolah lupa bahwa hampir sepanjang hayatnya, Smith dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya.

Pekerjaan merawat (yang lazim dilakukan oleh perempuan) memang masih dipandang rendah oleh dunia hingga kini, dua setengah abad kemudian, walau tak dapat dinafikan bahwa pekerjaan merawatlah yang membuat kehidupan tetap berputar. Bahkan para ekonom berkelakar bahwa jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, Pendapatan Domestik Bruto negaranya turun, tapi jika ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.

Dengan kocak, dan tentu saja cerdas, Katrine Marçal membeberkan fakta, menggiring kita memahami jalan pikirannya tanpa menghakimi pihak manapun. Ia menceritakan sejarah ekonomi mulai dari manusia baru mengenal konsep uang hingga akhirnya kapitalisme menyatukan orang lebih banyak daripada agama apapun, menceritakan perempuan melalui pengalaman yang acap kali ditemui di belahan dunia manapun, lalu mengaduk semuanya...

Monday, 25 May 2020

Sister Fillah, You'll Never Be Alone



Jajan bukunya Mba Kalis kali ini berasa jajan buku dari luar negeri. Saya pesan tanggal 18 April, nyampainya tanggal 13 Mei! Tentu paketnya dibuka secara menggebu-gebu walau ternyata saya tidak termasuk 1000 pemesan pertama sehingga tidak mendapatkan post card :’). Selama masa penantian, saya membaca dua buku Mba Kalis yang terbit tahun lalu (lihat resensinya di sini).

Buku ini memuat dua puluh satu tulisan Kalis Mardiasih bertemakan perempuan. Berbeda dengan Muslimah yang Diperdebatkan yang mengangkat hal-hal trending di media sosial, di Sister Fillah ada beberapa pengalaman perempuan yang dibahas lebih jauh, seperti hak reproduksi dan pendidikan seks. Mba Kalis juga mengutip beberapa ayat Quran, sesuatu yang tidak dilakukannya di dua buku sebelumnya. Mungkin karena penerbit kali ini berbeda, Penerbit Qanita yang masih di bawah PT. Mizan Pustaka, bukannya Buku Mojok selaku penerbit Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Judul Sister Fillah, You’ll never Be Alone membuat saya berekspektasi penulis sedang berbicara kepada pembacanya, yang juga seorang perempuan. Namun gaya penulisan Mba Kalis masih sama dengan yang biasa saya baca di mojok.co, berbicara kepada ulama yang seolah memulikan perempuan, kepada masyarakat patriarki dengan menggunakan kata ganti ‘kami’ (kaum perempuan) alih-alih ‘kita’. Keintiman yang saya harapkan ada di buku ini ternyata tak terbangun sedemikian rupa.

Halaman di buku ini cukup berwarna (dalam arti sebenarnya). Namun sayang, saya kurang menyukai pemilihan warnanya, terlalu mencolok mata, padahal gradasi pink di sampul lembut sekali. Font pada ilutrasi juga beragam.

Di buku ini dapat ditemukan jargon-jargon seperti ‘Perempuan adalah hidup. Perempuan adalah Cinta.’ As a feminist, saya lebih percaya kita (manusia) adalah cinta, bukan hanya perempuan. Ada pula ‘Saya lebih memilih istilah keragaman atau keberagaman daripada menyebut perbedaan’, padahal bukannya kita harus sadar benar dalam menemukan perbedaan baru kita bisa menilai bahwa kita beragam? 

Jika Muslimah yang Diperdebatkan saya nilai ‘membebaskan’ dan menjadi salah satu buku favorit, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone hanya sedikit di atas dari buku pink kumpulan esai media feminis yang saya baca sebelumnya*.


*buku yang saya maksud, ini

Friday, 15 May 2020

Memperdebatkan Muslimah Kemudian Hijrah (Tapi Ga Berani Jauh-jauh, Takut Nyasar!)



Kalis Mardiasih mengumumkan peluncuran buku terbarunya di Bulan April lalu. Saya, yang memang doyan dengan tulisan Mba Kalis bahkan sebelum Mojok sempat mati suri, turut memesan buku tersebut meski gagal paham dengan judulnya, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone. Sangka saya 'fillah' itu nama! Berhubung waktu pesannya cukup lama, sekitar dua minggu belum termasuk waktu pengiriman, saya jadi turut mencari buku Mba Kalis yang sebelumnya urung saya baca karna terdengar Islami sekali, Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Feminisme, gerakan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan diejawantahkan dengan baik di buku Muslimah yang Diperdebatkan. Teramat baik malah, karena isu-isu feminis yang kerap dipandang bertentangan dengan nilai keagamaan, dijabarkan secara sederhana melalui kegiatan sehari-hari dari sudut pandang Islam. Mba Kalis menyatakan dalam epilog bukunya bahwa Islam hadir lebih nyata di telinga, mata, bahkan aliran darahnya dalam ide feminisme tersebut.

Dogma masyarakat mayoritas dapat dengan mudah saya tepis dengan “saya bukan Islam”, tapi tentu tidak semudah itu untuk para muslimah. Hukum halal-haram sering kali dijatuhkan lebih awal pada mereka ketika berusaha menyuarakan relitasnya. Ya, harus kita akui bahwa tekanan justru datang lebih banyak dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

Kendati tema cerita buku ini tidak seberagam buku mengenai perempuan lainnya yang pernah saya baca, buku ini teramat ‘membebaskan’. Kemuliaan muslimah yang selama ini digambarkan melalui simbol (panjang kerudung misalnya), penyerahan diri (yang mungkin disalahartikan sebagai taat pada suami), laku anggun, dan hal sebangsanya harus dipertanyakan kembali. Apa lagi saat diperhadapkan dengan realitas pengalaman perempuan yang berbeda-beda.

Kalau dilihat dari judul, buku ketiga Mba Kalis terkesan ‘Mojok’ banget, Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!. Tedengar sedikit nakal tapi banyak akal, ternyata isinya cukup serius jika dibandingkan dengan Muslimah yang Diperdebatkan, tapi ya tetap saja nakal!. Saya menilai buku ini serius karena ada banyak istilah keisalaman dan tokoh-tokoh Islam yang sangat awam bagi saya. Di halaman pertama prolognya saja saya sudah harus mencari arti Lailahailallah Muhamadan Rasullah di laman peramban.

Buku ini terbit di tahun 2019 sebagai repons terhadap fenomena ‘iklan hijrah’ yang marak di berbagai media, termasuk media sosial. Ada lima bab di buku ini: Islam dan Kebaikan Anak-anak, Islam dan Kemanusiaan, Islam dan Akal Sehat, Islam dan Contoh Baik, dan Islam dan Modernitas. Masing-masing berisikan tujuh hingga delapan tulisan pendek yang secara tak langsung mengajak kita untuk berhijrah ke dalam diri.

Kedua buku ini bukan buku perihal hukum-hukum Islam. Saya yang bukan Islam dapat menikmatinya tanpa harus pusing dengan dalil ataupun ayat. Konsep muslimah yang digambarkan pada Muslimah yang Diperdebatkan sangat saya harapkan juga tergambar di perempuan Kristen seperti saya, serta perempuan-perempuan lainnya. Dan apabila suatu saat saya memutuskan untuk memeluk agama Islam, mungkin buku Mba Kalis adalah buku yang akan saya dekap erat agar mampu berhijrah tanpa nyasar haha. Di buku yang sama saya juga belajar untuk memanusiakan manusia, tak seperti konsep agama surgawi yang acap kali digaungkan belakangan ini.


Tuesday, 14 April 2020

The Feminist Minds – Two Years of Collected Essays from Magdalene



Magdalene proclaimed itself as a Jakarta-based women-focused online media outlet known for its bold and daring coverage that pushes the envelope and advocates equality and progressive values. A channel for the voices of feminists, pluralists, and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual orientations. After five years (Magdalene came to being in September 2013), they decided to put in print some of the articles and essays from the two years of their publication as appreciation to their contributors, so here came the book.

The contents divided into seven parts: I am Magdalene, womanhood, gender and feminism, faith and identity, relationship, gender and sexuality, and leisure and culture. Each part separated by a pink-and-gray-two-page illustration with a powerful quotation. There are fifty-six articles written by males and females with different backgrounds in this not-so-pink book (I seriously like the shades). But since this is an online media and written in English, we know that the contributors are not that diverse.

Two articles that I like are Kartini the Forgotten Nationalist, written by Devi Asmarani, Magdalene Editor-in-Chief and May 1998 and How It Changed Me by Elisa Sutanudjaja, a full-time mom (which she finds a bit odd because how can you determine part time or full time for motherhood?) (yes, you can know the writers’ background, it is available on the last pages). Some (or most?) articles feel too judgemental and some are too shallow. I mean, yeah we are being judged by others but why you also judge the others and try to show that you are the one who right? If I had to rate the book, it would be three out of five. The shallowness is forgiven because (maybe) Magdalene wants to bring feminism issues to the tiniest level of our daily life.

By the way, please kindly check magdalene.co, it does not only serve articles to be read but also podcasts to be listened.



Saturday, 14 September 2019

Am I There Yet? Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa



Judul asli buku ini: Am I There Yet? The Loop-de-Loop, Zigzagging Journey to Adulthood. Penulisnya, Mari Andrew menggambarkan hidup ibarat musim. Mungkin kalau kita tinggal di negara subtropis seperti penulis, kita juga akan turut menyenangi musim semi. Cuaca yang tak dingin tapi juga tak terlalu panas, penuh bunga, dan warna-warna. Namun tentu saja kita tak bisa meminta musim semi ada sepanjang tahun. Bunga dan dedaunan butuh gugur untuk mekar kembali.

Demikian pula hidup, masa senang akan bergulir digulingkan masa susah untuk kemudian ditumbangkan oleh hal-hal membahagiakan yang diikuti oleh hal-hal pematah hati hingga kita mampu bangkit demi terjatuh kembali! Belum lagi saat rerata orang di sekitar kita tampak menjalankan hidupnya dengan baik. Sedang kita masih kesusahan menemukan jati diri dan menentukan tujuan hidup!

Buku ini saya beli di Malang. Penat karena berhari-hari lembur mulu, saya kabur ke Togamas saat break magrib. Lihatlah sampul biru muda dengan tulisan tangan yang lucu itu! Seakan membawa kesegaran dan kejenakaan. Yaa walau pas kembali saya cuma bisa memandanginya saja karena harus fokus pada kerjaan dan baru membaca isinya setelah tiba di Pontianak.

Awalnya saya mengira saya terlambat 4 tahun bertemu dengan buku ini. Usia saya 25 sekarang, seorang dewasa, bukan yang sedang menuju dunia orang dewasa. Terberkatilah saya menganal sketsa Mari Andrew sekarang, saat saya berada di musim dingin pribadi saya. Saya bahkan berkaca-kaca saat memasuki bab 6 Menghadapi Kekecewaan (entah karena prosanya menyentuh atau saya sedang dalam masa premenstrual syndrome saja).

Buku ini jauh dari kesan menggurui. Mari Andrew menceritakan perjalanannya menuju dunia orang dewasa, bagaimana ia menemukan rumah di kota yang bukan kota kelahirannya, kehilangan orang tersayang, indahnya cinta satu malam, membuat dirinya menjadi sosok yang ia sendiri cintai, berlatih bahasa asing demi bisa memesan bir dengan lancar, termasuk hal-hal receh seperti menemukan koin di jalan. “That’s life” memang digarisbawahi di buku ini, tapi ia tidak membiarkanmu duduk diam menanti musim dingin lewat tanpa menghidupkan pemanas dan berbelanja pakaian tebal.

Selamat memasuki dunia orang dewasa dengan petamu sendiri! Dan jika kamu merasa kamu telah berada di dalamnya, tanyalah pada dirimu, “Am I there yet?”.

Friday, 6 September 2019

Rumah Kopi Singa Tertawa & Muslihat Musang Emas



Terpukau teramat sangat oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, saya berburu buku Om Yusi yang lain hingga bertemulah dengan dua buku kumpulan cerpen ini, Rumah Kopi Singa tetawa dan Muslihat Musang Emas. Walau perawakan keduanya seperti kembar, dua buku ini merupakan anak sulung dan anak bungsunya Om Yusi. Kedua buku ini dilabeli DEWASA di sampul belakang. Jangan berpikiran macam-macam, cerita tentang kehidupan yang diangkat bisa jadi sederhana, tapi dibutuhkan kedewasaan untuk memahami makna dari cerita-cerita tersebut. Sebelum saya bahas lebih lanjut isinya, jawab dulu pertanyaan ini:

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kapan dan bagaimana kematianmu datang, dosa menggetok kepala anak buta memanggilmu, novelmu segera terbit tetapi tubuhmu memalukan, tetanggamu rajin mengantarkan makanan yang tak pernah enak, orang yang kaubenci dimutilasi, dan kau sendiri terkena penyakit mengundang tawa? …

Eh, tidak perlu dijawab sih… itu pertanyaan retorik, tentu saja.

… Mungkin kau akan kena ombrophobia atau takut pada rintik hujan, pergi bersama anjing buruk rupa ke sebuah desa yang melarang penyebutan warna sehingga kau harus bilang yang mata anak haram janda ujung desa setelah kedatangan perampok dari Utara untuk mengatakan biru kehijauan, atau bahkan membeli kulit sida-sida.

Kutipan tersebut saya tukil mentah-mentah dari sinopsis buku Rumah Kopi Singa Tertawa edisi kedua. Edisi pertamanya terbit di tahun 2011. Bersama wajah barunya, buku edisi kedua hadir dengan dua cerita tambahan. Cerpen yang sama dengan judul buku hadir bersama kejanggalan. Rumah, kopi, singa, dan tertawa. Kata-kata yang sederhana dan diketahui semua orang. Tapi ketika dipadankan, sulit sekali membayangkan objek ataupun suasana yang mewakili si ‘rumah kopi singa tertawa’ ini. Cerpennya pun demikian, sangat mudah dicerna, tapi kemudian saya bertanya-tanya, mengapa mereka dipadankan jadi sebuah cerita?

Cerpen favortit saya berjudul Kapal Perang. Ceritanya tentang seseorang bernama Abdullah Yusuf Gambiranom yang rungsing dengan pertanyaan para tetangga, Ngepel, Pak Yus?, yang lewat di depan rumahnya setiap pagi setelah banjir surut. Pak Yusuf bukan yang paling rudin di kampungnya. Namun untuk persoalan banjir, ia memang kurang beruntung. Rumahnya berada di ujung, lebih rendah daripada jalan, menyebabkan banjir di rumah Pak Yusuf lebih lama surutnya. Mungkin tetangganya hanya berbasa-basi, tak berniat mengejek, tapi tentu bukan tanpa alasan Pak Yusuf merasa tak nyaman disapa seperti itu. Hubungannya dengan kapal perang apa?? Kalian baca saja sendiri ya, bukunya ;)

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan. Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa berkhianat.

Merasa tawaran yang kedua lebih menarik? Kalau begitu, sila baca Muslihat Musang Emas terlebih dahulu. Ada 21 cerita pendek yang siap disantap, lebih banyak 1 cerita dan 25% lebih tebal dari Rumah Kopi Singa Tertawa. Tepat di halaman ke-100, ada satu cerita teramat pendek, hanya 2 halaman saja. Judulnya Pengelana Waktu. Tapi memang dasar waktu! Selalu menyimpan misteri, saya sampai butuh waktu lama mencernanya, walau tak selama membaca cerpen terpanjang di buku.

Dikisahkan seorang remaja cebol satu-satunya di Desa Jetaksari, hidup membantu ayahnya mencari kodok di sawah. Pekerjaan yang dikatakan mendatangkan kutuk, penyebab Jarwo terlahir dengan tubuh seperti hewan buruannya. Hingga ia bertemu dengan orang-orang cebol lainnya di luar kota, menjadi ‘peliharaan’ perusahaan anggur cap Anggur Orang Tua, menyaksikan kawannya satu per satu mati, hingga ia punya kehidupan sendiri dan kemudian menikah dan mati dikisahkan dalam 30 halaman.

Di tengah begitu banyaknya Social Justice Warrior beredar di dunia nyata dan maya kini, saya merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini. Pahitnya kehidupan serta sisi-sisi gelap manusia diceritakan dengan bahasa yang begitu sederhana. Saran saya, bacalah buku-buku ini sebelum tidur, jangan membaca sambil mencuri waktu atau kau akan kehilangan kesempatan untuk merenung…

Wednesday, 10 July 2019

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi


“Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”

Bagaimana? Cukup mewah sebagai paragraf pembuka sebuah novel?

Kalau menurutmu tak cukup mewah, saya pastikan buku ini cukup anjing untuk dibaca. Mulai dari ‘anji...’ yang tak selesai diucapkan hingga ‘anjing! anjing! anjing!’ bertebaran di halaman-halaman buku ini. Tak suka anjing? Tenang saja. Tapir buntung, kadal kopet, babi pincang, dan kawan-kawan turut mewarnai petualangan Sungu Lembu membayarkan dendamnya pada raja Gilingwesi, ayahanda teman seperjalanannya, Si Raden Mandasia yang gemar memotong sapi yang bukan miliknya.

Pemikiran saya yang menyangka akan bosan seperti saat membaca cerita-cerita sejarah kerajaan ketika melihat judulnya (‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ begitu kaku, bukan?), bahkan setelah membaca sinopsisnya, raib ketika menikmati isinya. Pemilihan diksi seperti ‘sepenguyahan sirih’ untuk menggambarkan rentang waktu dan ‘lima ratus tombak’ untuk jarak menambah apik cerita zaman baheula ini.

Dongeng ini juga kaya akan rasa. Detail-detail cerita yang disuguhkan mampu membuat saya merasa marah, haru, tergelitik, tegang, bingung saat mendapat lontaran teka-teki Putri Tabassum, lapar karena penjabaran masakan babi guling ala Loki Tua, jijik saat kedua anjing si koki saling memakan tahi satu sama lain, terangsang ketika Sungu Lembu bercinta dengan Nyai Manggis, termasuk kagum dan iba sekaligus pada beberapa tokoh. Saking kayanya, dongeng ini membuat kita terbawa ke dongeng-dongeng kondang lain yang lazim khalayak tahu.

Jika di awal cerita kita akan menikmati hebatnya kisah petualangan, bab-bab akhir justru mengajak kita melihat karakter tokoh-tokoh dengan lebih dalam, menuntut pengertian atas tindak-tanduk yang sebelumnya kita nilai bodoh. Paragraf penutupnya tak semewah paragraf pembuka. Namun tetap saja, anjing!  

Thursday, 21 June 2018

Perang Puputan dalam Jejak Langkah

     "Itulah peperangan gagah, jarang ada tandingannya dalam sejarah manusia, mungkin juga satu-satunya. Raja Klungkung, I Dewa Agoeng Djambe, telah memerintahkan semua keluarga raja di Den Pasar dan semua punggawa, laki maupun perempuan, untuk melakukan Perang Puputan, perang sampai orang terakhir.
          Laki-perempuan sebangsa Tuan, orang-orang Bali yang gagah itu, maju ke medan perang, Tuan. Perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri dan darah bayinya."

(hal. 253-354)