Wednesday, 10 July 2019

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi


“Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”

Bagaimana? Cukup mewah sebagai paragraf pembuka sebuah novel?

Kalau menurutmu tak cukup mewah, saya pastikan buku ini cukup anjing untuk dibaca. Mulai dari ‘anji...’ yang tak selesai diucapkan hingga ‘anjing! anjing! anjing!’ bertebaran di halaman-halaman buku ini. Tak suka anjing? Tenang saja. Tapir buntung, kadal kopet, babi pincang, dan kawan-kawan turut mewarnai petualangan Sungu Lembu membayarkan dendamnya pada raja Gilingwesi, ayahanda teman seperjalanannya, Si Raden Mandasia yang gemar memotong sapi yang bukan miliknya.

Pemikiran saya yang menyangka akan bosan seperti saat membaca cerita-cerita sejarah kerajaan ketika melihat judulnya (‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ begitu kaku, bukan?), bahkan setelah membaca sinopsisnya, raib ketika menikmati isinya. Pemilihan diksi seperti ‘sepenguyahan sirih’ untuk menggambarkan rentang waktu dan ‘lima ratus tombak’ untuk jarak menambah apik cerita zaman baheula ini.

Dongeng ini juga kaya akan rasa. Detail-detail cerita yang disuguhkan mampu membuat saya merasa marah, haru, tergelitik, tegang, bingung saat mendapat lontaran teka-teki Putri Tabassum, lapar karena penjabaran masakan babi guling ala Loki Tua, jijik saat kedua anjing si koki saling memakan tahi satu sama lain, terangsang ketika Sungu Lembu bercinta dengan Nyai Manggis, termasuk kagum dan iba sekaligus pada beberapa tokoh. Saking kayanya, dongeng ini membuat kita terbawa ke dongeng-dongeng kondang lain yang lazim khalayak tahu.

Jika di awal cerita kita akan menikmati hebatnya kisah petualangan, bab-bab akhir justru mengajak kita melihat karakter tokoh-tokoh dengan lebih dalam, menuntut pengertian atas tindak-tanduk yang sebelumnya kita nilai bodoh. Paragraf penutupnya tak semewah paragraf pembuka. Namun tetap saja, anjing!  

0 comments:

Post a Comment

Leave a word here..