Showing posts with label the short one. Show all posts
Showing posts with label the short one. Show all posts

Friday, 23 April 2021

Yang Ditulis Usai Berpisah

Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi bodoh bersama.

Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).

Keempat puluh satu tulisannya diawali dengan sapaannya pada Maria.
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.

Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.

Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.

Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.

Wednesday, 29 July 2020

Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?




Man bisa jadi laki-laki atau perempuan, tapi woman pasti perempuan.
Perempuan dapat berpakaian seperti laki-laki dan dipandang normal karena maskulinitas bersifat netral, tapi tidak ada laki-laki ‘normal’ yang berkebaya ataupun menggunakan rok tutu.
Laki-laki bersifat universal. Jika ingin memahami manusia, kita akan membaca cerita yang sama-sama dialami oleh laki-laki dan perempuan. Kita tak perlu repot membaca buku tentang persalinan, sebab melahirkan tidak termasuk pengalaman manusia. Melahirkan adalah pengalaman perempuan.

Demikianlah dunia bekerja hingga tak pantas jika kita menyalahkan Adam Smith, Bapak ilmu ekonomi, yang meniadakan pekerjaan perempuan dalam perhitungan ekonominya. Pada 1776 ia menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri-sendiri.” Ia memandang motif ekonomi sebagai penggerak tindakan manusia, seolah lupa bahwa hampir sepanjang hayatnya, Smith dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya.

Pekerjaan merawat (yang lazim dilakukan oleh perempuan) memang masih dipandang rendah oleh dunia hingga kini, dua setengah abad kemudian, walau tak dapat dinafikan bahwa pekerjaan merawatlah yang membuat kehidupan tetap berputar. Bahkan para ekonom berkelakar bahwa jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, Pendapatan Domestik Bruto negaranya turun, tapi jika ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.

Dengan kocak, dan tentu saja cerdas, Katrine Marรงal membeberkan fakta, menggiring kita memahami jalan pikirannya tanpa menghakimi pihak manapun. Ia menceritakan sejarah ekonomi mulai dari manusia baru mengenal konsep uang hingga akhirnya kapitalisme menyatukan orang lebih banyak daripada agama apapun, menceritakan perempuan melalui pengalaman yang acap kali ditemui di belahan dunia manapun, lalu mengaduk semuanya...

Wednesday, 22 April 2020

Empat Penampilan Menghadiri Pertemuan Daring Selama #DiRumahAja


1. Kaus kerah lebar + lipstik senada

Sebagai manusia yang hanya punya kipas angin di kamar, memakai kaus lebar dengan kerah yang lebar pula jadi jalan ninja demi bertahan duduk manis menghadiri pertemuan daring. Suara kipas angin akan beradu dengan suara diri jika memaksa baling-baling kipas berputar. Lipstik jadi penting karna beberapa kali menghadiri rapat dengan wajah polosan, saya dibilang belum mandi! Ih padahal kan yaa kadang udah kadang belum. Lagipula saya juga rindu dandan, mematut diri di depan cermin kan hal yang menyenangkan, pas pula lipstik dan kaos kerah lebar di rumah punyai kepekatan warna yang sama :) 

 Khatulistiwa Membaca weekly meeting

2. Daster

Saat harus menghadiri pertemuan daring sedang pekerjaan di layar masih kentang, ya sudah, hadir saja dengan penampilan apa adanya. Ini juga yang saya suka dari situasi #dirumahaja. Pekerjaan tak perlu ditinggal, hadir dasteran semuanya memaklumkan. 

poetdemic meeting



3. Selimut kain

Pernah ada harinya kala Pontianak memberi pagi yang sejuk hingga gaya gravitasi bantal susah dilawan. Panggilan atasan jadi satu-satunya alasan segera muncul di layar berkamera aktif. Tentu saya tak perlu rungsing ke kamar mandi dulu. Cukup berjalan lima langkah, tarik selimut melingkari badan, mana ada yang tahu saya sambil memeluk guling di baliknya >_<



 4. Kaus kerah lebar + kain + korset

Ini jadi satu-satunya penampilan yang saya pikirkan hingga ke bawahan. Biasanya apa adanya saja, tak ada pun tak apa, haha. Tapi bawahan ini jadi problem saya selama pertemuan karna salah arah lititan! Ah, gara-gara situasi #dirumahaja Omah Wulangreh membuka kelas daring tari bali. Sudah lama saya mengincar kelas terbukanya tiap saya berpelesir ke ibu kota, apa daya baru bisa berjodoh justru saat tak bisa bertatap muka langsung. Puspanjali, tari yang diajarkan, memang cukup mudah sehingga semua peserta bisa mengikuti dengan baik, walau saya yakin badan saya pasti habis dipiles-piles oleh Mba Putri bila kami tak dibatasi oleh ruang.

online workshop by Omah Wulangreh

Saturday, 7 March 2020

Percuma!

Apapun yang akan aku ceritakan, semua hanyalah pandanganku.
Kamu, yang telah memiliki pandangan akan ku, tetaplah kan berdiri sana, menilai ku dari sudut pandangmu sendiri.

Apapun yang akan aku katakan, semuanya hanyalah kata-kata.
Kamu telah memilih kata-katamu sendiri.
Aku tak menyalahkan jika rasa percaya akan dirimu lebih dari rasa percayamu akan aku.
Aku pun begitu.

Namun jika kamu masih menginginkan kita.
Cobalah sepatuku sekali-sekali.
Pinjamkan sepatumu sekali-sekali.
Tarik aku ke tempat favoritmu saat mengamati banyak hal.
Pilihkan aku kaca mata terbaik dan terburuk yang kau punya.

Sebab percuma jika kita berbaring bersisian menghadap langit yang sama bila aku tak sanggup memandang bintang yang kau pandang.
Percuma kau genggam tanganku sepanjang malam jika tak sekalipun kau biarkan ku menunjuk satu bintang.

Monday, 24 February 2020

23 Februari 2020


Namun ternyata lunas tak berarti tuntas. Air mata kembali mengalir saat ponselku memunculkan namamu beserta sebuah pesan 'Lagi apa?'.

Serat-serat harapan masih terjalin, suaramu terdengar ...

Segala bentuk perhatian dan basa-basimu itu menjelma serat harapan. Tak sadarkah kau ku sedang merendanya?

Kau ingin lebih bahagia raih tanganku!

Ingin kuraih tanganmu, tapi ku takut kau lepas. Ku takut kau lari saat kukejar. Ku tak mau kau hilang saat kucari.

Yang kau takutkan takkan terjadi

Bagimana bisa ku tak takut sedang ketakutan pun terpantul pada sorot matamu? Haruskah kita berhenti tuk saling menyapa? Atau kita berdiri di pinggir lautan saja, biar ombak menenggelamkan keraguan dan kita saling bersaudade?

Oh di sana berdirilah engkau dengan senyuman dan keping harapan
Di belakang tempatmu bersandar tanganku terbuka kapanpun kau ingat pulang
Selalu ada menemanimu sampai kita dihapus waktu

Dan bukan menghapus satu sama lain. Agar jika kita sama-sama menyerah kelak, dapat kukumandangkan bungsu yang tersyahdu bagimu.






Monday, 14 October 2019

Mereka Memayungiku Serupa Langit

Menyediakan matahari dan bulan dan pelangi.
Memberi hujan walau kadang ku sedang ingin bermain di luar.
Membiarkan ku bersembunyi, meski mereka tahu, mereka jauh lebih indah dari langit-langit kamarku.

Mereka memayungiku serupa langit.

Mereka ada.
Tanpa diminta.
Yang tanpanya tak kan ada kehidupan.


Thursday, 22 August 2019

Save Me!

Nama : Vilda Indrawati
Cita-cita : Bisa nyanyiin ini tanpa nangis.....


It started off so well
They said we made a perfect pair
I clothed myself in your glory and your love

How I loved you
How I cried

The years of care and loyalty
Were nothing but a sham it seems
The years belie we lived a lie
I'll love you 'til I die

Save me! Save me! Save me!
I can't face this life alone
Save me! Save me! Save me!
I'm naked and I'm far from home

The slate will soon be clean
I'll erase the memories
To start again with somebody new

Was it all wasted?
All that love?

I hang and I advertised
A soul for sale or rent
I have no heart
I'm cold inside
I have no real intent

Thursday, 21 June 2018

Perang Puputan dalam Jejak Langkah

     "Itulah peperangan gagah, jarang ada tandingannya dalam sejarah manusia, mungkin juga satu-satunya. Raja Klungkung, I Dewa Agoeng Djambe, telah memerintahkan semua keluarga raja di Den Pasar dan semua punggawa, laki maupun perempuan, untuk melakukan Perang Puputan, perang sampai orang terakhir.
          Laki-perempuan sebangsa Tuan, orang-orang Bali yang gagah itu, maju ke medan perang, Tuan. Perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri dan darah bayinya."

(hal. 253-354)

Monday, 11 December 2017

Lima Tahun yang Lalu

"Eh.. kak! Apa kabar?"
Begitu reaksiku ketika bertemu dengan kakak kelasku waktu itu, ketika kita memilih untuk menghabiskan malam bersama.

"Baik. Kalian awet ya?"

Aku hanya menjawabnya dengan tertawa. Kau pun tertawa.
Tapi dari tatapmu, aku tahu, kau tak mengerti.

"Maksudnya apa kita awet?"
Tanyamu ketika si senior sudah melangkahkan kaki-kakinya.

Aku menggeleng.
Berpura bahwa akupun tak mengerti.
Hah... ternyata kau tak sadar.
Kita melangkah bersama di tempat ini lalu bertemu dengannya.
Dan kita pernah melakukannya.
Di saat aku tak berharap kau kan mengisi hari-hariku lima tahun kemudian.

Monday, 19 June 2017

Please Stay

I've been thanking for your existing. All that I ask now is you to stay with me.
.
I know I'm hard to be dealt with. I'm noisy over small things but in silent I stay when I'm nervous. I don't know how to do small talk. I speak sarcasm and harsh yet I'm also fragile and soft at the same time. I overthink about future. I have panic attacks. I walk out, even push you away when I'm mad. I'm an independent and strong one yet clingy and like to cry every time I feel blue.
Oh, see how many the 'I' words I used? I'm sorry for not sorry being a selfish.
.
I know I'm hard to be with.
.
But stay, please.
.
.
.
I beg.

Tuesday, 26 July 2016

Jatuh

Lagi-lagi aku terjatuh
salah perhitungan
tak kuprediksi ada lubang di sana
memang tak dalam
tapi jelas sakit.

Aku mensyukuri tragedi ini, kadang
setidaknya aku punya alasan berhenti berjalan
untuk sesaat atau mungkin beberapa saat
hingga aku merasa baik-baik saja berjalan kembali

Tapi jujur saja
aku benci jatuh kali ini
ia berjalan beriringan denganku, mengapa cuma aku yang jatuh?
ketika ku jatuh, mengapa dia tak membantuku berdiri?
aku memanggil namanya, mengapa ia terus berjalan?



Lubang itu
tak bernama seperti lubang buaya

Lukaku
tak terlihat, tak menyisakan lebam pada kulit

Jatuhku
dikenal orang-orang

Cinta, kata mereka
jatuh cinta.

Tuesday, 7 June 2016

Semoga :)

"Semoga selamat sampai tujuan!"

Hah.... bukan itu yang sesungguhnya ingin kuucapkan.

Tunggu, jangan berprasangka buruk. Bukannya aku tak menginginkanmu tiba di sana dengan selamat....
Aku sangat menginginkan itu, kawan. Sungguh.
Hanya saja......

Hanya saja yang teramat kuinginkan adalah..
kau
kembali
ke sini
bersamaku.

"Semoga kau kembali dengan selamat, Sayang."

Sunday, 5 June 2016

Kemarilah, mendekatlah...

Kemarilah...
Ada yang ingin ku sampaikan padamu
Sesuatu yang telah sekian lama aku ketahui
Dan kini aku tak sanggup memendamnya lebih lama lagi.

Mendekatlah...
Tempelkan telingamu ke bibirku
Tak ingin ku angin mencuri dengar.
Aku akan mengatakannya sepelan mungkin
Hingga tak sepatah katapun didengar oleh telingaku.

Kemarilah, mendekatlah...
Hanya dirimu yang boleh mendengar ini
Aku ingin mengatakan sesuatu
Bahwa sebenarnya aku . . . . . . . . .

Monday, 30 May 2016

Untukmu, Pujangga

Jatuh cinta padamu, Pujangga, sungguh adalah suatu petaka
Semua sikapmu sama sekali tak terbaca
Aku hanya mampu memendam rasa.

Tulisanmu muncul di dunia maya, menggambarkan seseorang yang berbahagia
Padahal beberapa saat sebelumnya kau menemuiku dan bercerita dengan penuh lara.

Kadang, saat kita sedang tertawa bersama
Kau mengganti statusmu dengan rasa kecewa.

Apakah sebegitu hebatnya dirimu hingga kau hanya perlu membayangkan kemudian lahirlah tulisan?
Atau memang, ada sesorang di sana, yang membuatmu kecewa, bahagia, jatuh cinta..... hingga diriku tak pantas diperhitungkan keberadaannya?

Wednesday, 4 May 2016

#NyalaUntukYuyun

Berita seorang perempuan diperkosa 14 laki-laki beredar sudah.
Satu hal yang membuat saya jengah.
Ada saja yang akhirnya berpesan, "Makanya jangan pake yang mini yah."

Hahahahahahahaha
BANGSAAAAAAT!!! KEPARAT!! BIADAB!!

Tuan...... tuan.........
Kenapa kami yang disalahkan ketika kalian tak dapat manis berkelakuan?
Kenapa harus kami yang menjadi penjaga iman kalian?
Apakah semata karna kami ....perempuan?

Kenapa ada pelacur?

Ga ada orangtua yang ingin anaknya jadi pelacur.
Ga ada laki-laki yang berharap punya istri seorang pelacur.
Ga ada satupun perempuan di dunia ini yang bercita-cita jadi pelacur.

Lalu... kenapa profesi itu ada?

. . . . .

Mungkin sama kayak pembantu.
Ga ada kan yang bercita-cita jadi pembantu? Namun, kenapa profesi itu ada?



....... karna ada yang butuh.

Wednesday, 9 December 2015

Aku Takut Menanyakan Kabarmu

Aku takut menanyakan kabarmu.

Aku takut jika kau menjawab kau sedang tak baik.
Jika kau tak baik, maka tak baik pulalah diriku.
Tak nafsu makan, bertingkah seperti orang linglung, cemas memikirkan dirimu.

Dan aku lebih takut lagi jika kau menjawab kau baik-baik saja.
Karna bagaimana mungkin kau dapat baik tanpa diriku?
Sedang aku kerap mengacaukan segala hal saat mendapati kau tak lagi melangkah bersamaku.

Monday, 28 September 2015

Sebelum kau pergi....,

Dekaplah aku
Hingga sesak di dadaku lenyap terganti debar jantungmu

Kecup kedua mataku
Agar tak kembali hujan menyombongkan rinainya

Kunci bibirku dengan bibirmu
Biar semua isak terbungkam, semua kata terpendam

Ah, atau kau bunuh saja aku
Toh melepaskanmu pergi sama saja dengan berjalan menuju pemakamanku sendiri.

Friday, 7 August 2015

Lesak

Memberontak ia
Tak terima dirantai dibelenggu
Teriak
Pekik
Amuk..
Tangis
Keluar juga melalui mata
Mengalir di pipi hingga dagu
Membuktikan ku tak kuasa menahan lesakan itu lebih lama
Tak inginkah kau datang, sayang?
Agar air mata ini berubah menjadi haru
Sebelum aku menggelantang diri di bawah langit biru

Thursday, 2 July 2015

Aku Benci Pernyataan Merambang!

Tanpa kode.
Tanpa taka-teki.
Tanpa petunjuk.
Kau hanya melantunkan pernyataan-pernyataan merambang.
Dan bahkan tanpa pertanyaan!
Membuat ku tak tahu harus berfokus pada apa.
Benci!
Aku benci!
Aku benci menginterpretasi!
Karna itu membuat ku berpegang pada sesuatu yang tak pasti benar.
Tak bisakah?
Tak bisakah kau?
Tak bisakah kau menyatakannya?
Tak bisakah kau menyatakannya secara gamblang?
Bahwa kau mencintaiku....
Atau bahwa kau, tak mencintaiku lagi.