Showing posts with label love and other drugs. Show all posts
Showing posts with label love and other drugs. Show all posts

Monday, 24 October 2022

Something in the Rain

 

Sumber: imdb.com 

Satu kata buat drama korea ini: Nyesek.
   
Kesesakan 1.
Something in the Rain mengisahkan tentang seorang perempuan (Jin-a) yang jatuh cinta pada adik sahabatnya (Jun-hui). Jin-a diceritakan berumur 35 tahun, yang terpaut cukup jauh dengan Jun-hui. Tidak didetailkan berapa selisih umur mereka, tapi ketika Jin-a ikut liburan bersama teman-teman Jun-hui, yang lumrahnya mengencani perempuan yang lebih muda, Jin-a diperlakukan seperti orangtua oleh pacar teman-temannya, misalnya tidak diperbolehkan mengangkat berat. Kakak Jun-hui (sahabat Jin-a), Gyeong-seon, juga berlaku seperti orangtua bagi Jun-hui karena orangtua mereka telah tiada.
Bayangin aja kalau kamu suka saudara temanmu. Gimana coba ga sesak, harus mendam perasaan padahal orang yang disuka tu dekeeet banget. Mau ngajak jalan bingung, bilang suka ga berani/ga enak, pendam aja bisanyaa.

Kesesakan 2.
Yet timing is a bitch. Di akhir episode 3 (dari total 16 episode), waktu yang tepat hadir. Jin-a dan Jun-hui bisa saling terbuka satu sama lain, tapiii tentu saja tidak di hadapan orang lain. Apa yang menyenangkan dari cerita bahagia tapi tidak bisa dibagi? Malah, orang lain tidak boleh tahu kamu sedang bahagia. Pas berdua sih iya, bisa gelanyutan, pas ada orang lain? Pendam lagiiiii.

Kesesakan 3.
Di episode 1 diceritakan Jin-a diputusin pacarnya, Gyu-min. Gyu-min selingkuh dengan perempuan yang lebih muda. Ketika Gyu-min diputusin, Gyu-min kembali mengejar Jin-a. Gimana coba jadi Jun-hui... pengen bilang "Woi ga usah deket-deket, Jin-a punya aku sekarang," tapi yaa mana bisaaa, bisanya mendem dongkol ajaa.

Kesesakan 4.
Restu. Kamu tahu ibumu punya standar calon menantu dan pacarmu tidak memenuhi itu. Pasti sesak, didesak menikah karena umur yang tak lagi muda, tapi yang bersamamu sekarang tidak bisa kamu kenalkan. Sesak karena ngebayangin perasaan pacar kalau dia turut mendengar perkataan ibu, tapi juga sesak karena tahu ibu akan kecewa dengan pilihanmu.
Jadi Jun-hui pun tak kalah sesak. Ibu pacarmu terang-terangan menolakmu dan semuanya harus kamu telan sendiri karena tidak mau pacarmu khawatir dan semakin sedih. 

Kesesakan 5.
Ibu Gyeong-seon dan Jun-hui sudah meninggal dunia, ayah mereka masih hidup tapi memilih untuk hidup tanpa mereka. Ketika orang yang dianggap sudah tiada muncul bersama pacarnya, Jun-hui marah. Jin-a yang hanya berusaha bersikap hormat harus rela nyesek karena Jun-hui tidak bisa dikontak dan ditemui.

Kesesakan 6.
Kehidupan kantor Jin-a tidak kalah bikin nyesek. Pelecehan seksual melalui sentuhan dan perkataan kerap dilakukan atasan-atasan pria terhadap staf wanita. Hal-hal yang "lumrah" terjadi sebenarnya, ditertawakan bersama, tapi... siapa wanita yang nyaman dengan itu? Tapi (lagi), siapa wanita yang berani bilang "Pak, tolong kondisikan...". Jadi Jun-hui juga pasti tidak kalah terkuras emosinya, ketika pacarnya harus bersama bapak-bapak pervert
Kenyataan pahit yang diangkat di drama ini adalah: walau kantor berusaha untuk mewadahi keluhan atas pelecehan, tidak banyak yang berani angkat suara, pun ketika Jin-a berani bersuara dengan bukti-bukti pendukung, ketika menyenggol pejabat tinggi, malah Jin-a yang disingkirkan bukan pelaku.

Kesesakan 7.
Bayangin jadi Gyeong-seon! Sahabat tempat ia bersandar pacaran dengan adiknya! Tentu masih bisa berteman, tapi jelas ada beberapa hal yang akan canggung kalau dibahas. Belum lagi Gyeong-seon selama ini berperan menjadi orangtua bagi Jun-hui, tentu ada banyak kepedihan hidup yang tidak dia bagi dengan adiknya dan tentunya bakal tidak mungkin dia bagikan ke pacar adiknya! Mau ngelarang Jun-hui dan Jin-a bersama? Ya ga mungkin juga, Gyeong-seon tahu mereka bahagia bersama. Mana ibu Jin-a tidak merestui karena Jun-hui berasal dari keluarga broken home.. jadi makin sesak kan, tahu bahwa keluarga terdekat yang selama ini ada juga ternyata pikirannya sama dengan orang lain. Percuma dia berusaha berperan sebaik mungkin jadi kakak yang ngebesarin Jun-hui!

Kesesakan 8.
Jun-hui mungkin tampak tahan dengan berbagai tekanan dari lingkungan, tapi ia tidak tahan kalau Jin-a yang tertekan dan sedih. Ia memilih untuk kembali bekerja di Amerika dan meminta Jin-a ikut bersamanya. "Weyy.. perjuangan di kantor belum berakhir nih, perjuangin kamu di depan orangtua juga belum nyerah kok malah ngajak saya kabur sihh. Saya pula yang dijadikan alasan, tapi ngambil keputusan ga nanya-nanya saya." Ini interpretasi saya terhadap perasaan Jin-a, yang ditampilkan sih maniiis banget (tapi teteup, nyesek!). Di episode 15, Jun-hui pindah dan meninggalkan Jin-a. Hubungan mereka pun berakhir.

Kesesakan 9.
Adik Jin-a, temannya Jun-hui, menikah. Pulanglah Jun-hui ke Korea dengan kondisi Jin-a sudah punya pacar baru. Hubungan yang berakhir menggantung menyisakan kecanggungan. Pas bertemu kembali, ga bisa senang, ga bisa marah-marah, bisanya cuma sedih karena harus memendam semua perasaan. Akhirnya sih, Jin-a dan Jun-hui bersama kembali. Kalau ngebayangin perjuangan yang harus mereka lalui setelahnya,  sesek!


FUN FACT:
Judul aslinya 밥 잘 사주는 예쁜 누나 (Bap Jal Sajuneiun Yeppeun Nuna) / Pretty Sister Who Buys Me Food (>_<)

Saturday, 7 March 2020

Percuma!

Apapun yang akan aku ceritakan, semua hanyalah pandanganku.
Kamu, yang telah memiliki pandangan akan ku, tetaplah kan berdiri sana, menilai ku dari sudut pandangmu sendiri.

Apapun yang akan aku katakan, semuanya hanyalah kata-kata.
Kamu telah memilih kata-katamu sendiri.
Aku tak menyalahkan jika rasa percaya akan dirimu lebih dari rasa percayamu akan aku.
Aku pun begitu.

Namun jika kamu masih menginginkan kita.
Cobalah sepatuku sekali-sekali.
Pinjamkan sepatumu sekali-sekali.
Tarik aku ke tempat favoritmu saat mengamati banyak hal.
Pilihkan aku kaca mata terbaik dan terburuk yang kau punya.

Sebab percuma jika kita berbaring bersisian menghadap langit yang sama bila aku tak sanggup memandang bintang yang kau pandang.
Percuma kau genggam tanganku sepanjang malam jika tak sekalipun kau biarkan ku menunjuk satu bintang.

Monday, 24 February 2020

23 Februari 2020


Namun ternyata lunas tak berarti tuntas. Air mata kembali mengalir saat ponselku memunculkan namamu beserta sebuah pesan 'Lagi apa?'.

Serat-serat harapan masih terjalin, suaramu terdengar ...

Segala bentuk perhatian dan basa-basimu itu menjelma serat harapan. Tak sadarkah kau ku sedang merendanya?

Kau ingin lebih bahagia raih tanganku!

Ingin kuraih tanganmu, tapi ku takut kau lepas. Ku takut kau lari saat kukejar. Ku tak mau kau hilang saat kucari.

Yang kau takutkan takkan terjadi

Bagimana bisa ku tak takut sedang ketakutan pun terpantul pada sorot matamu? Haruskah kita berhenti tuk saling menyapa? Atau kita berdiri di pinggir lautan saja, biar ombak menenggelamkan keraguan dan kita saling bersaudade?

Oh di sana berdirilah engkau dengan senyuman dan keping harapan
Di belakang tempatmu bersandar tanganku terbuka kapanpun kau ingat pulang
Selalu ada menemanimu sampai kita dihapus waktu

Dan bukan menghapus satu sama lain. Agar jika kita sama-sama menyerah kelak, dapat kukumandangkan bungsu yang tersyahdu bagimu.






Monday, 14 October 2019

Mereka Memayungiku Serupa Langit

Menyediakan matahari dan bulan dan pelangi.
Memberi hujan walau kadang ku sedang ingin bermain di luar.
Membiarkan ku bersembunyi, meski mereka tahu, mereka jauh lebih indah dari langit-langit kamarku.

Mereka memayungiku serupa langit.

Mereka ada.
Tanpa diminta.
Yang tanpanya tak kan ada kehidupan.


Tuesday, 12 June 2018

Alasanku Merokok

Jika kau bertanya sejak kapan aku merokok, tahun lalu jawabannya.
Namun, semuanya bermula karena kejadian dua tahun lalu...

Tepat bulan ini, Juni 2016, aku bertemu seorang pria.
Oh, bukan bertemu, hanya melihat.
Tak terjadi dialog antara kami.
Meja kami berseberangan.
Aku duduk menghadapnya.
Ia duduk menghadap pintu, merokok dengan cara terindah yang pernah aku lihat.

Bukan gerik tangannya yang menawan.
Wajahnya.
Masih terekam jelas wajah nan damai tiap ia menghirup rokoknya dalam-dalam.

Tahun lalu, tepat setahun yang lalu, 12 Juni 2017.
Aku mengetahui pria yang kuanggap kekasih tak mencintaiku.
Selama 3 tahun ia memanggilku sayang tanpa benar-benar menyayangiku.
Ia mempunyai kekasih lain.
Tak sampai akalku berusaha memahami posisinya.
Jika benar ia mencintaiku, mengapa ia sampai hati mencintai orang lain yang jelas-jelas akan menyakitiku?

Aku menekur di kedai ini.
Aku berharap kesedihanku turut larut dalam cangkir kopi.
Aku berharap pahitnya kopi bisa menawar getirnya perasaanku.
Lalu, terbayang wajah nan damai itu.....

"Jadi itu alasanmu merokok? Jadi kau menemukan kedamaian saat kau merokok?"

Ya.
Tidak.
Aku memang langsung membeli rokok ketengan saat itu.
Membakar salah satu ujungnya, menghisap ujung yang lain dalam-dalam.
Namun aku tak menemukan kedamaian.
Malah, dadaku sesak.

"Tapi kau tetap merokok??"

Justru itu, Wi.
Aku berusaha untuk menghisap lebih dalam setelahnya.
Rasa sesak itu!
Begitu nyata!
Dadaku sakit karena sesuatu di dalamnya memang terluka.
Dadaku yang menanggung akibatnya!
Aku tak mau dadaku sesak tapi mataku turut menangis, Wi.
Aku lelah memaki diri karna otakku tak sanggup memberi penghiburan.

"Setahun telah berlalu, Nya. Hentikan kebiasaan merokokmu! Kau menyakiti dirimu sendiri."

Hatiku kepalang hancur, Wi.
Aku tak keberatan paru-paruku juga hancur.

Monday, 11 December 2017

Lima Tahun yang Lalu

"Eh.. kak! Apa kabar?"
Begitu reaksiku ketika bertemu dengan kakak kelasku waktu itu, ketika kita memilih untuk menghabiskan malam bersama.

"Baik. Kalian awet ya?"

Aku hanya menjawabnya dengan tertawa. Kau pun tertawa.
Tapi dari tatapmu, aku tahu, kau tak mengerti.

"Maksudnya apa kita awet?"
Tanyamu ketika si senior sudah melangkahkan kaki-kakinya.

Aku menggeleng.
Berpura bahwa akupun tak mengerti.
Hah... ternyata kau tak sadar.
Kita melangkah bersama di tempat ini lalu bertemu dengannya.
Dan kita pernah melakukannya.
Di saat aku tak berharap kau kan mengisi hari-hariku lima tahun kemudian.

Monday, 19 June 2017

Please Stay

I've been thanking for your existing. All that I ask now is you to stay with me.
.
I know I'm hard to be dealt with. I'm noisy over small things but in silent I stay when I'm nervous. I don't know how to do small talk. I speak sarcasm and harsh yet I'm also fragile and soft at the same time. I overthink about future. I have panic attacks. I walk out, even push you away when I'm mad. I'm an independent and strong one yet clingy and like to cry every time I feel blue.
Oh, see how many the 'I' words I used? I'm sorry for not sorry being a selfish.
.
I know I'm hard to be with.
.
But stay, please.
.
.
.
I beg.

Sunday, 25 December 2016

Sebuah kesalahankah?

"Jujur, aku ada perasaan ke kamu."

Aku menoleh, "Cukup besar buat bikin kamu ninggalin dia? Kalau nggak, kalikan nol aja."

"Kamu nggak bisa ya ngomongnya lembut dikit?"

Keep your tone, Nafa. Kamu nggak boleh luluh. Se-charming apapun Agus, dia calon suami orang!

"Kamu berharap aku bilang kalau aku juga punya perasaan ke kamu?"

"Iya. Ya setelah selama ini kita dekat, nggak mungkin kamu cuma nganggap aku teman kan?"

"Kamu lebih dari teman. Kamu tahu itu."

Damn! Why that words split out of my mouth? Alihkan kepalamu kembali ke Harry Potter and The Half Blood Prince, kamu nggak bakal sanggup ngeliat Agus dengan tatapan seperti itu.

"Terima kasih kalau gitu," kataku cepat-cepat.

"Terima kasih?"

"Ya. Terima kasih, Gus."

"Terima kasih buat?"

"Terima kasih karna udah punya perasaan lebih ke aku."

Udah dong, Gus. Pengakuan-pengakuan kayak gini cuma bikin hubungan kita nggak sehat.

"Sini.."

Apa lagi, Gus?

"Sini....."

Agus menarik tubuhku ke sisinya, melingkarkan tangannya di pinggangku. Irama napasnya terdengar jelas. Tak kupungkiri pelukannya tak pernah gagal membuatku nyaman. Ia mengecup pipiku pelan, menuruni leherku dengan bibirnya, membuatku.........

"Gus...." kataku seraya menarik tubuh menjauh.

Ditariknya kepalaku dalam dekapannya, "Iya, sayang."

"..."

Sebuah kesalahankah ini, Tuhan? Bagian mana yang salah?

Tuesday, 29 November 2016

Lebih Menyakitkan dari yang Tak Berbalas

Perasaan yang lebih menyakitkan
dari cinta yang tak berbalas
adalah yang tak tersampaikan

Apabila kau merasakan cinta tak berbalas,
mungkin kau akan jatuh

Tapi di situlah kehebatannya:
ia akan mengajarkanmu berdiri
bangkit dari sebuah keterpurukan
dan berjalan dengan lebih tegap kemudian
Mendapat sebuah pelajaran dari sebuah pengalaman cinta

Namun apabila kau merasakan cinta tak tersampaikan:

Kau terlalu takut untuk menunjukkan isi hatimu
membiarkan dirimu larut dalam dunia yang penuh khayal akan-nya

Kau hanya mampu berdiri
berdiri di tempat di mana kau berpijak sekarang
menunggu dan berharap ia akan menoleh kepadamu

Kau tidak dapat mundur
tapi juga tak mampu untuk melangkah maju

Ketika ia datang menghampirimu
kau hanya dapat tersenyum
tak dapat melompat dan memuntahkan luapan bahagia dalam dirimu

Dan ketika ia pergi lagi
kau juga hanya perlu tersenyum
menutup semua perasaan
memendam semua kesedihanmu
tetap berdiri di situ........

Tuesday, 26 July 2016

Jatuh

Lagi-lagi aku terjatuh
salah perhitungan
tak kuprediksi ada lubang di sana
memang tak dalam
tapi jelas sakit.

Aku mensyukuri tragedi ini, kadang
setidaknya aku punya alasan berhenti berjalan
untuk sesaat atau mungkin beberapa saat
hingga aku merasa baik-baik saja berjalan kembali

Tapi jujur saja
aku benci jatuh kali ini
ia berjalan beriringan denganku, mengapa cuma aku yang jatuh?
ketika ku jatuh, mengapa dia tak membantuku berdiri?
aku memanggil namanya, mengapa ia terus berjalan?



Lubang itu
tak bernama seperti lubang buaya

Lukaku
tak terlihat, tak menyisakan lebam pada kulit

Jatuhku
dikenal orang-orang

Cinta, kata mereka
jatuh cinta.

Friday, 24 June 2016

Adakah Keindahan Perlu Sebuah Nama?

     Ada satu kedai di pinggir kota yang cukup sering kusambangi. Kedai yang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Dan hari libur, tentunya. Pada hari kerja, seperti hari ini, l e n g a n g . . . . .

     Walau bangunannya terlihat sangat biasa dari luar, aku sangat menikmati berada di dalam kedai. Meja-meja disusun dengan jarak yang cukup sehingga memberi privasi bagi tiap pengunjung. Dindingnya dibiarkan polos, seolah berpesan, "Fokuslah pada apa yang ada di cangkirmu." Belum lagi Dimas, pemilik sekaligus barista yang sudah sangat familiar  dengan wajahku, tak pernah kehilangan moodnya untuk bersikap ramah. Bahkan ia sangat mengerti kapan aku sedang ingin menghabiskan waktuku sendiri dan kapan bertandang semata akibat rindu kopi racikannya. Dan keunggulan utama kedai ini adalah luas bangunannya. Pas. Seakan memang dirancang demikian sehingga aroma kopi dapat menjangkau setiap sudut ruangan. Aroma yang sangat menenangkan bagiku.

     Jika kau masuk ke dalam kedai, melangkahlah hingga pandanganmu menangkap meja terakhir di sisi kanan. Meja favoritku. Di meja ini bercangkir-cangkir kopi telah kuhabiskan sebagai teman membaca. Menghabiskan waktu dengan bacaan di tangan ditambah sesapan-sesapan kopi di lidah terasa seperti liburan kecil. Aku tak perlu ke mana-mana, tapi pikiranku di mana-mana. Pada setiap halamannya, imajinasiku menari. Membuatku lupa segala kepenatan yang harus aku hadapi kembali ketika melangkah keluar kedai.

     Hari ini Kamis, hari ke dua puluh tiga bulan enam. Aku datang ke kedai bersama buku baruku. Begitu rapi ia terbungkus dalam wrapping plastic. Tiba di rumahku sore tadi. Diantar oleh Iwan, Pak (Mas, maksudku) Pos yang sudah ditakdirkan singgah ke rumahku tiap dua minggu sekali.
     Setelah memesan secangkir kopi susu dan sebotol kecil air mineral, aku langsung mengeluarkan Perempuan Bernama Arjuna. Buah pikir Remy Sylado. Bersampul merah. Ah, aku selalu menikmati aroma buku baru. Memabukkan. Sama seperti aroma lembaran uang baru. Aku membetulkan posisi dudukku saat menemukan tulisan 'bukan bacaan ringan'.
     Dengan semangat aku mengedarkan bola mataku dari kiri ke kanan. Melahap kata demi kata yang ternyata...... benar-benar berat. Buku fiksi filsafat ini mengisahkan seorang perempuan bernama Arjuna. Halaman-halaman awal sangat menyenangkan untuk dibaca. Aku menyukai cara Remy bercerita sambil menjelaskan makna kata. Mulai dari 'mata keranjang', berbagai macam makna huruf V, hingga mengkritik penggunaan istilah 'tuna susila' di Indonesia.
     Namun ketika semakin banyak lembaran yang kubalikkan, aku mulai pusing. Kuselipkan bookmark di antara halaman 28 dan 29. Bayangkan saja, sudah ada tiga puluh sembilan catatan kaki tentang berbagai filsuf dan karyanya yang harus kubaca pelan-pelan. Ditambah lagi ada kata-kata dalam Bahasa Jawa dan Sunda yang tidak kumengerti maknanya.

     Mataku beralih pandang ke isi ruangan. Ada empat pengunjung lain selain aku. Dua sejoli duduk di meja paling depan. Satu orang duduk di kursi bar berbincang dengan Dimas. Dilihat dari cara mereka saling melontar umpatan, sepertinya mereka teman baik. Dan seorang laki-laki yang duduk di seberang mejaku. Ia juga pelanggan tetap kedai ini. Walau sering berada di tempat dan waktu yang sama, kami lebih memilih tenggelam dalam dunia kami masing-masing. Aku dengan bukuku, ia dengan laptopnya. Kadang juga tanpa laptop, hanya cangkir kopi dan bungkus rokok. Pernah aku melihatnya membawa buku. Literatur sepertinya. Terlalu tebal dan terlalu keras sampulnya untuk dikategorikan sebagai bacaan ringan.

     Kuraih kembali bukuku. Satu baris. Dua baris. Tunggu! Kuturunkan sedikit posisi bukuku. Keriting? Lelaki di depanku berambut keriting?? Yang benar saja! Sudah lebih dari sepuluh kali aku bertemu dengannya di kedai. Bahkan akhir-akhir ini kami bertukar senyum saat berpapasan. Dan aku baru menyadari bahwa ia keriting? Payah sekali aku ini! Kuturunkan daguku dan mulai membaca lagi.
     Ah! Maaf Remy Sylado, ada yang lebih menarik perhatianku daripada tulisanmu kali ini. Aku sangat menyukai Namaku Mata Hari kok. Sungguh! Kebetulkan posisi dudukku sekali lagi. Dengan sikap bak membaca, aku mulai mengamati pria di hadapanku ini.

     Berbeda denganku yang lebih senang duduk menghadap dinding sisi kiri (ke mejanya), ia memilih memiliki pandangan luas mengarah ke pintu masuk. Namun sama sepertiku, ia (seingatku) selalu sendiri ketika datang ke kedai. Seolah tak ingin ada orang lain yang tahu tempat persembunyian kami.

     Bukan seorang kidal. Ia sepertinya bersahabat dengan jeans. Sepatu gunung. Itukah alas kaki yang kerap ia pakai kemari? Selayaknya sepatu itu memang sering ia gunakan. Terlihat dari noda-noda yang tertinggal. Tempelan tanah yang masih basah di bawah solnya menunjukkan ia baru saja dari lapangan. Sudah bekerjakah ia? Apakah pekerjaannya membuat ia tak sempat mengurus diri? Lihatlah pipinya yang cekung itu! Akibat kurang makankah? Ia (seingatku, lagi) tak pernah tampak segar. Jauhkah rumahnya hingga ia enggan pulang terlebih dahulu sebelum bepergian lagi? Atau memang ia malas mandi?
     Hahahaha ia mempunyai kebiasaan aneh. Sudah beberapa kali ia terlihat menggunakan jarinya menyisir rambut ke belakang. Dengan rambut keriting pendek, itu sungguh hal yang menggelikan! Posisi rambutnya tak berubah sama sekali! Atau mungkinkah ia pernah grondong sebelumnya? Ia...
     ... mematikan laptopnya. Dengan segera kualihkan pandangan kembali ke buku yang masih erat kupegang. Melalui ekor mataku, aku memerhatikan ia memasukkan laptopnya ke dalam tas. Meneguk kopi hitamnya. Menyalakan sebatang rokok lagi.

     Ia perokok berat! Asbak itu buktinya. Penuh dengan abu dan puntung rokok dari jenis yang sama. Contoh pria ideal yang akan cepat mati karena rokok. Ia belum beranjak dari kursinya. Aku jadi penasaran, seberapa cepat ia menghabiskan satu puntung rokok?
     Satu isapan.
     Dua isapan. Ia benar-benar mengisap dalam-dalam rokoknya.
     Tiga isapan. Kenapa ia tak terbatuk dipenuhi sebegitu banyak asap di paru-parunya?
     Empat isapan. Rokok apa yang diisapnya?
     Lima isapan.
     Enam isapan. Ia terlihat sangat menikmati rokoknya.
     Tujuh isapan.
     Delapan isapan. Aku......
     Sembilan isapan. Aku menikmati ia merokok.
     Sepuluh isapan. Ekspresinya begitu berbeda dibandingkan saat menghadapi layar laptop barusan.
     Sebelas isapan.
     Dua belas isapan. Bagaimana ia bisa menemukan kedamaian dari sepuntung rokok?
     Tiga belas isapan.
     Empat belas isapan.
     Lima belas isapan. Aku benar-benar menikmati ia merokok.
     Enam belas isapan. Sejak kapan orang merokok merupakan objek yang indah?
     Tujuh belas isapan. Ia seperti menyerap energi dari rokok. Segala penatnya menjelma asap.
     Delapan belas isapan. Siapa laki-laki ini?
     Sembilan belas isapan. Aku tak tahu siapa laki-laki ini!

     Ia berdiri. Menekan ujung puntung di asbak. Menyampirkan tas di salah satu bahunya. Berjalan ke arah Dimas. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Membakar sebatang rokok lagi. Indaaaaaaah!
     Ia melangkah lagi. Aku bergegas mengemasi bukuku. Ia tiba di ambang pintu. Aku berlari, hendak meneriakkan namanya. Aku tercekat. Aku tak tahu namanya! Aku tak tahu siapa dia!

     Ia menghilang dari pandangan.

Tuesday, 7 June 2016

Semoga :)

"Semoga selamat sampai tujuan!"

Hah.... bukan itu yang sesungguhnya ingin kuucapkan.

Tunggu, jangan berprasangka buruk. Bukannya aku tak menginginkanmu tiba di sana dengan selamat....
Aku sangat menginginkan itu, kawan. Sungguh.
Hanya saja......

Hanya saja yang teramat kuinginkan adalah..
kau
kembali
ke sini
bersamaku.

"Semoga kau kembali dengan selamat, Sayang."

Sunday, 5 June 2016

Kemarilah, mendekatlah...

Kemarilah...
Ada yang ingin ku sampaikan padamu
Sesuatu yang telah sekian lama aku ketahui
Dan kini aku tak sanggup memendamnya lebih lama lagi.

Mendekatlah...
Tempelkan telingamu ke bibirku
Tak ingin ku angin mencuri dengar.
Aku akan mengatakannya sepelan mungkin
Hingga tak sepatah katapun didengar oleh telingaku.

Kemarilah, mendekatlah...
Hanya dirimu yang boleh mendengar ini
Aku ingin mengatakan sesuatu
Bahwa sebenarnya aku . . . . . . . . .

Monday, 30 May 2016

Untukmu, Pujangga

Jatuh cinta padamu, Pujangga, sungguh adalah suatu petaka
Semua sikapmu sama sekali tak terbaca
Aku hanya mampu memendam rasa.

Tulisanmu muncul di dunia maya, menggambarkan seseorang yang berbahagia
Padahal beberapa saat sebelumnya kau menemuiku dan bercerita dengan penuh lara.

Kadang, saat kita sedang tertawa bersama
Kau mengganti statusmu dengan rasa kecewa.

Apakah sebegitu hebatnya dirimu hingga kau hanya perlu membayangkan kemudian lahirlah tulisan?
Atau memang, ada sesorang di sana, yang membuatmu kecewa, bahagia, jatuh cinta..... hingga diriku tak pantas diperhitungkan keberadaannya?

Friday, 22 January 2016

Renjana Dyana - order and chaos

Apakah dua belas bulan bisa dibilang singkat, atau malah terlalu lama?

Bagi orang yang saling mencintai, waktu berjalan begitu cepat. Bertahun pun tidak terasa, malah selamanya mungkin rasanya cuma sebentar. Seperti yang kurasakan saat tidur di kedalaman pelukannya, aku mendapati tiba-tiba saja sudah pagi. Pada setiap pertemuan, waktu seakan berjalan terburu-buru, dan tanpa kusadari, aku sudah merindukannya lagi.

Tetapi bagi orang yang sedang bersedih, waktu seperti bergerak merangkak. Satu jam saja rasanya begitu lambat. Rasanya seperti tak ingin lagi berada di tempat ini. Saat merasa tersiksa, aku merasa ingin berada di mana saja, asal tidak di sini.

Awalnya, aku merasakan hal yang pertama. Kebahagiaan bertubi-tubi datang kepadaku. Semua sapanya beraroma bunga. Kecupan-kecupannya membuatku gila. Seluruh pandangannya hanya tertuju padaku. Semua kebahagiaannya memenuhi kebahagiaanku.

Aku terangkat tinggi-tinggi ke udara. Tangan-tanganku serasa menggapai nirwana. Kaki-kakiku tidak lagi menjejak tanah. Surga yang dulu pernah tidak kupercaya, kini mengada. Dan aku berada di dalamnya, tak ingin ke mana-mana.

"Suatu hari, kau akan mencium sesorang dan saat itu kau akan tahu itu adalah orang yang ingin kau cium terus seumur hidupmu."

Dan saat menciumnya, aku menemukan sebuah bibir yang sempurna, bibir yang selama ini kutunggu-tunggu. Bibir yang membasahi kekeringan jiwaku, yang selama ini membuatku selalu menyepi di sebuah sudut ruangan yang sempit.

Aku yang tadinya juga tidak percaya dengan teori-teori tentang takdir dan pasangan jiwa, kini mulai berubah pikiran. Aku ingin dialah yang akan menemaniku hingga aku mati. Aku ingin bersamanya hingga kami menua nanti. Aku ingin menggenggam tangannya saat berjalan tertatih-tatih. Aku ingin meraba keriput di wajahnya, aku ingin memeluk napas terakhirnya. Aku tidak ingin melepaskannya, bahkan jika salah satu dari kami meninggal lebih dahulu.

Hidupku mulus dan lancar. Ssperti permukaan kulitku yang halus bagi sutra, katanya. Seperti alam semesta, yang selalu berputar pada tempatnya. Jika aku jatuh, aku tidak lagi merasakan sakit. Aku tidak pernah menangis lagi, kecuali jika merengek manja menginginkan sesuatu kepadanya. Aku bahkan tidak pernah kecewa. Semua seolah meniada jika dibandingkan dengan apa yang sedang kurasakan.

Di setiap malam yang terasa panjang, aku menjadi kerap berdoa. Padahal aku jarang, atau bahkan bisa dibilang tidak pernah berdoa. Tetapi aku punya sebuah pengharapan, dan aku ingin agar pengharapan itu menjadi kenyataan. Aku ingin sebuah kekuasaan besar di jagat raya ini mengabulkannya. Dengan kehadirannya, aku bahkan menjadi percaya kalau Tuhan itu ada.

Tetapi beberapa minggu terakhir ini, kenapa surga menutup ketujuh pintunya? Tuhan seakan menghindariku lagi. Doa-doaku kembali meniada.

Keindahan itu mendadak berubah menjadi bencana. Keteraturan itu tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Aku tidak bisa tidur. Apa pun yang kumakan rasanya tidak enak di lidah. Aku tidak ingin keluar rumah. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku ingin meringkuk saja di tempat tidurku sepanjang hari. Dadaku hampir setiap saat berdebar kencang. Kepalaku berputar tidak beraturan. Segala sesuatu yang ada di dalam diriku kacau. Bagai bulan yang terlempar dari orbitnya, tidak ada gravitasi lagi yang menahannya. Semuanya kacau.

Aku orang yang sangat mengagungkan keteraturan. Seperti bumi yang selalu berputar pada porosnya, seperti waktu yang selalu sama, seperti detak metronom yang stabil dan teratur. Aku menginginkan hidupku seperti itu semua.

Tetapi ada sebuah kuasa yang seolah berada di luar kekuatanku. Kuasa itu memorak-porandakan segala keteraturan yang sudah kutata dengan rapi. Keteraturan yang begitu sulit kutegakkan selama bertahun-tahun ini.

Kupandangi kembali gurat-gurat yang ada di kedua pergelangan tanganku. Sebuah pola acak, sebuah kekacauan yang sempurna, tetes-tetes darah yang mengalir deras.

Ini harus segera dihentikan.

----------------------------------------------------------------

Adi Kurniadi.
Fotografer yang tenar dengan nama adimodel;
yang menulis beberapa novel termasuk Renjana Dyana;
yang kata-katanya dalam chapter order and chaos saya ketik dan kalian baca barusan.

I like the way he describes time flies fast when we are happy.
I like the way he tells how suffer we are when our heart hurt.
And most of all, he slaps me on my face by writing about pray and hope.
Yeah, pengharapan.
I kinda know what does she (the woman in the novel) feel.
I only pray when I have pengharapan, when I believe that that thing cannot be held by me but there is Someone who can.

I just agree to every word he choose. That's it.
And that's why, I made this and suggest you to read and buy the book.




PS.
I haven't finished read the book.
What do you think adimodel means 'ini' in the last line?
Her sadness?
Or her life, perhaps?

Wednesday, 9 December 2015

Aku Takut Menanyakan Kabarmu

Aku takut menanyakan kabarmu.

Aku takut jika kau menjawab kau sedang tak baik.
Jika kau tak baik, maka tak baik pulalah diriku.
Tak nafsu makan, bertingkah seperti orang linglung, cemas memikirkan dirimu.

Dan aku lebih takut lagi jika kau menjawab kau baik-baik saja.
Karna bagaimana mungkin kau dapat baik tanpa diriku?
Sedang aku kerap mengacaukan segala hal saat mendapati kau tak lagi melangkah bersamaku.

Monday, 28 September 2015

Sebelum kau pergi....,

Dekaplah aku
Hingga sesak di dadaku lenyap terganti debar jantungmu

Kecup kedua mataku
Agar tak kembali hujan menyombongkan rinainya

Kunci bibirku dengan bibirmu
Biar semua isak terbungkam, semua kata terpendam

Ah, atau kau bunuh saja aku
Toh melepaskanmu pergi sama saja dengan berjalan menuju pemakamanku sendiri.

Friday, 7 August 2015

Lesak

Memberontak ia
Tak terima dirantai dibelenggu
Teriak
Pekik
Amuk..
Tangis
Keluar juga melalui mata
Mengalir di pipi hingga dagu
Membuktikan ku tak kuasa menahan lesakan itu lebih lama
Tak inginkah kau datang, sayang?
Agar air mata ini berubah menjadi haru
Sebelum aku menggelantang diri di bawah langit biru

Thursday, 2 July 2015

Aku Benci Pernyataan Merambang!

Tanpa kode.
Tanpa taka-teki.
Tanpa petunjuk.
Kau hanya melantunkan pernyataan-pernyataan merambang.
Dan bahkan tanpa pertanyaan!
Membuat ku tak tahu harus berfokus pada apa.
Benci!
Aku benci!
Aku benci menginterpretasi!
Karna itu membuat ku berpegang pada sesuatu yang tak pasti benar.
Tak bisakah?
Tak bisakah kau?
Tak bisakah kau menyatakannya?
Tak bisakah kau menyatakannya secara gamblang?
Bahwa kau mencintaiku....
Atau bahwa kau, tak mencintaiku lagi.

Wednesday, 1 July 2015