Namun, semuanya bermula karena kejadian dua tahun lalu...
Tepat bulan ini, Juni 2016, aku bertemu seorang pria.
Oh, bukan bertemu, hanya melihat.
Tak terjadi dialog antara kami.
Meja kami berseberangan.
Aku duduk menghadapnya.
Ia duduk menghadap pintu, merokok dengan cara terindah yang pernah aku lihat.
Bukan gerik tangannya yang menawan.
Wajahnya.
Masih terekam jelas wajah nan damai tiap ia menghirup rokoknya dalam-dalam.
Tahun lalu, tepat setahun yang lalu, 12 Juni 2017.
Aku mengetahui pria yang kuanggap kekasih tak mencintaiku.
Selama 3 tahun ia memanggilku sayang tanpa benar-benar menyayangiku.
Ia mempunyai kekasih lain.
Tak sampai akalku berusaha memahami posisinya.
Jika benar ia mencintaiku, mengapa ia sampai hati mencintai orang lain yang jelas-jelas akan menyakitiku?
Aku menekur di kedai ini.
Aku berharap kesedihanku turut larut dalam cangkir kopi.
Aku berharap pahitnya kopi bisa menawar getirnya perasaanku.
Lalu, terbayang wajah nan damai itu.....
"Jadi itu alasanmu merokok? Jadi kau menemukan kedamaian saat kau merokok?"
Ya.
Tidak.
Aku memang langsung membeli rokok ketengan saat itu.
Membakar salah satu ujungnya, menghisap ujung yang lain dalam-dalam.
Namun aku tak menemukan kedamaian.
Malah, dadaku sesak.
"Tapi kau tetap merokok??"
Justru itu, Wi.
Aku berusaha untuk menghisap lebih dalam setelahnya.
Rasa sesak itu!
Begitu nyata!
Dadaku sakit karena sesuatu di dalamnya memang terluka.
Dadaku yang menanggung akibatnya!
Aku tak mau dadaku sesak tapi mataku turut menangis, Wi.
Aku lelah memaki diri karna otakku tak sanggup memberi penghiburan.
"Setahun telah berlalu, Nya. Hentikan kebiasaan merokokmu! Kau menyakiti dirimu sendiri."
Hatiku kepalang hancur, Wi.
Aku tak keberatan paru-paruku juga hancur.
0 comments:
Post a Comment
Leave a word here..