Showing posts with label personal thought. Show all posts
Showing posts with label personal thought. Show all posts

Monday, 24 October 2022

Something in the Rain

 

Sumber: imdb.com 

Satu kata buat drama korea ini: Nyesek.
   
Kesesakan 1.
Something in the Rain mengisahkan tentang seorang perempuan (Jin-a) yang jatuh cinta pada adik sahabatnya (Jun-hui). Jin-a diceritakan berumur 35 tahun, yang terpaut cukup jauh dengan Jun-hui. Tidak didetailkan berapa selisih umur mereka, tapi ketika Jin-a ikut liburan bersama teman-teman Jun-hui, yang lumrahnya mengencani perempuan yang lebih muda, Jin-a diperlakukan seperti orangtua oleh pacar teman-temannya, misalnya tidak diperbolehkan mengangkat berat. Kakak Jun-hui (sahabat Jin-a), Gyeong-seon, juga berlaku seperti orangtua bagi Jun-hui karena orangtua mereka telah tiada.
Bayangin aja kalau kamu suka saudara temanmu. Gimana coba ga sesak, harus mendam perasaan padahal orang yang disuka tu dekeeet banget. Mau ngajak jalan bingung, bilang suka ga berani/ga enak, pendam aja bisanyaa.

Kesesakan 2.
Yet timing is a bitch. Di akhir episode 3 (dari total 16 episode), waktu yang tepat hadir. Jin-a dan Jun-hui bisa saling terbuka satu sama lain, tapiii tentu saja tidak di hadapan orang lain. Apa yang menyenangkan dari cerita bahagia tapi tidak bisa dibagi? Malah, orang lain tidak boleh tahu kamu sedang bahagia. Pas berdua sih iya, bisa gelanyutan, pas ada orang lain? Pendam lagiiiii.

Kesesakan 3.
Di episode 1 diceritakan Jin-a diputusin pacarnya, Gyu-min. Gyu-min selingkuh dengan perempuan yang lebih muda. Ketika Gyu-min diputusin, Gyu-min kembali mengejar Jin-a. Gimana coba jadi Jun-hui... pengen bilang "Woi ga usah deket-deket, Jin-a punya aku sekarang," tapi yaa mana bisaaa, bisanya mendem dongkol ajaa.

Kesesakan 4.
Restu. Kamu tahu ibumu punya standar calon menantu dan pacarmu tidak memenuhi itu. Pasti sesak, didesak menikah karena umur yang tak lagi muda, tapi yang bersamamu sekarang tidak bisa kamu kenalkan. Sesak karena ngebayangin perasaan pacar kalau dia turut mendengar perkataan ibu, tapi juga sesak karena tahu ibu akan kecewa dengan pilihanmu.
Jadi Jun-hui pun tak kalah sesak. Ibu pacarmu terang-terangan menolakmu dan semuanya harus kamu telan sendiri karena tidak mau pacarmu khawatir dan semakin sedih. 

Kesesakan 5.
Ibu Gyeong-seon dan Jun-hui sudah meninggal dunia, ayah mereka masih hidup tapi memilih untuk hidup tanpa mereka. Ketika orang yang dianggap sudah tiada muncul bersama pacarnya, Jun-hui marah. Jin-a yang hanya berusaha bersikap hormat harus rela nyesek karena Jun-hui tidak bisa dikontak dan ditemui.

Kesesakan 6.
Kehidupan kantor Jin-a tidak kalah bikin nyesek. Pelecehan seksual melalui sentuhan dan perkataan kerap dilakukan atasan-atasan pria terhadap staf wanita. Hal-hal yang "lumrah" terjadi sebenarnya, ditertawakan bersama, tapi... siapa wanita yang nyaman dengan itu? Tapi (lagi), siapa wanita yang berani bilang "Pak, tolong kondisikan...". Jadi Jun-hui juga pasti tidak kalah terkuras emosinya, ketika pacarnya harus bersama bapak-bapak pervert
Kenyataan pahit yang diangkat di drama ini adalah: walau kantor berusaha untuk mewadahi keluhan atas pelecehan, tidak banyak yang berani angkat suara, pun ketika Jin-a berani bersuara dengan bukti-bukti pendukung, ketika menyenggol pejabat tinggi, malah Jin-a yang disingkirkan bukan pelaku.

Kesesakan 7.
Bayangin jadi Gyeong-seon! Sahabat tempat ia bersandar pacaran dengan adiknya! Tentu masih bisa berteman, tapi jelas ada beberapa hal yang akan canggung kalau dibahas. Belum lagi Gyeong-seon selama ini berperan menjadi orangtua bagi Jun-hui, tentu ada banyak kepedihan hidup yang tidak dia bagi dengan adiknya dan tentunya bakal tidak mungkin dia bagikan ke pacar adiknya! Mau ngelarang Jun-hui dan Jin-a bersama? Ya ga mungkin juga, Gyeong-seon tahu mereka bahagia bersama. Mana ibu Jin-a tidak merestui karena Jun-hui berasal dari keluarga broken home.. jadi makin sesak kan, tahu bahwa keluarga terdekat yang selama ini ada juga ternyata pikirannya sama dengan orang lain. Percuma dia berusaha berperan sebaik mungkin jadi kakak yang ngebesarin Jun-hui!

Kesesakan 8.
Jun-hui mungkin tampak tahan dengan berbagai tekanan dari lingkungan, tapi ia tidak tahan kalau Jin-a yang tertekan dan sedih. Ia memilih untuk kembali bekerja di Amerika dan meminta Jin-a ikut bersamanya. "Weyy.. perjuangan di kantor belum berakhir nih, perjuangin kamu di depan orangtua juga belum nyerah kok malah ngajak saya kabur sihh. Saya pula yang dijadikan alasan, tapi ngambil keputusan ga nanya-nanya saya." Ini interpretasi saya terhadap perasaan Jin-a, yang ditampilkan sih maniiis banget (tapi teteup, nyesek!). Di episode 15, Jun-hui pindah dan meninggalkan Jin-a. Hubungan mereka pun berakhir.

Kesesakan 9.
Adik Jin-a, temannya Jun-hui, menikah. Pulanglah Jun-hui ke Korea dengan kondisi Jin-a sudah punya pacar baru. Hubungan yang berakhir menggantung menyisakan kecanggungan. Pas bertemu kembali, ga bisa senang, ga bisa marah-marah, bisanya cuma sedih karena harus memendam semua perasaan. Akhirnya sih, Jin-a dan Jun-hui bersama kembali. Kalau ngebayangin perjuangan yang harus mereka lalui setelahnya,  sesek!


FUN FACT:
Judul aslinya 밥 잘 사주는 예쁜 누나 (Bap Jal Sajuneiun Yeppeun Nuna) / Pretty Sister Who Buys Me Food (>_<)

Wednesday, 11 September 2019

#WorldSuicidePreventionDay

Sebagai seseorang yang mengedepankan logika, saya benci jika menangis cuma gara-gara persoalan hati.
Contoh sederhana, gagal mencapai sesuatu. Padahal rasanya segala upaya sudah dikerahkan, orang-orang sekeliling turut mendukung, hanya saja ada orang yang lebih bernasib baik. Jika sudah berjuang sehormat-hormatnya, mengapa bersedih?
Belum lagi perihal asmara. Untuk seorang berengsek yang tak pantas mendapat waktu dan curahan perhatian, mengapa pula masih mencurahkan air mata?

Dan demi menutupi duka, sering kali saya memilih luka.

Menenggak alkohol sampai lupa diri hingga di keesokan hari saya hanya perlu ke kantor dan mengerahkan seluruh sisa-sisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan kemudian mulai berpesta lagi.
Atau membubuhkan sayatan di pangkal paha agar logika membenarkan saya menangis.

Beruntunglah sebelum saya menyayat daging lebih dalam, seseorang menarik saya ke komunitas sepeda. Ia memperkenalkan saya pada lintasan-lintasan menantang. Awalnya, saya bergabung gara-gara logika saya bilang saya akan mati lebih terhormat jika jatuh ke jurang akibat bersepeda daripada mati bunuh diri. Setidaknya keluarga saya tak menjadi omongan tetangga. Namun ternyata ketika memegang setang sepeda, otak saya bekerja lebih baik mencari cara menyelesaikan lintasan sampai garis akhir alih-alih membelokkannya ke jurang.

Pada #worldsuicidepreventionday ini saya ingin menyampaikan, menangislah sebanyak dan selama apapun yang kamu mau. Hatimu butuh itu. Bantu dengan tubuh, berolahragalah. Berlarilah, ambil kelas zumba, atau bahkan kick boxing. Mungkin kaurasa hatimu telah mati. Tapi ia masih punya harapan untuk pulih jika tak kau matikan tubuhmu.

Walau sekarang saya masih bersedih saat terkenang dirinya, saya tak lagi mencari-cari alasan menyakiti diri untuk menangis. Bahkan saya tersenyum jika melihat lebam dan bilur saat terjatuh dari sepeda. Senyum bangga karena sanggup melewati masa terepih meski harus sompel di sana-sini.
Yaaa walau tetap tak mampu menahan air mata kala luka dibubuhi obat merah sih :'))

Tuesday, 11 September 2018

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Apapun suku, agama, bahkan ras kita, kita tetap satu, Indonesia.

Sebuah semboyan yang begitu indah karena negara ini tak akan memandang warna kulit, lurus atau keritingnya rambut, atau bagaimana cara kita berdoa, selama kita mengaku bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia. Namun hemat saya, ada salah penekanan dalam pemaknaan Bhineka Tunggal Ika.

Jika saya berkata 'kamu China' karena kamu memang China, mengapa merasa tersinggung?
Ayah Bugis! Ibu Dayak! Istri Batak! Apakah saya harus menutupi semua itu?
Pemaknaan Bhineka Tunggal Ika yang menitikberatkan pada 'satu' alih-alih menerima terlebih dahulu bahwasannya kita 'berbeda-beda' membuat kaum minoritas mempunyai tendensi untuk menerka maksud tersembunyi di balik pertanyaan 'kamu orang apa?'. Takut tak diterima karena bukan bagian dari mayoritas, saya lebih sering menjawab 'orang Indonesia dong' padahal saya mengerti betul pertanyaan tersebut mempertanyakan suku atau agama saya. Dampak dari acuhnya terhadap perbedaan ini membuat kebanyakan kawan sebaya saya tidak mengenal bahasa orangtuanya. Lupa kalau kita bersumpah untuk berbahasa satu dan bukan bersumpah untuk mengenal satu bahasa saja.

Negara menolak pernikahan antardua warga yang berbeda agama meski mereka mengamini benar Indonesia. Saya mereka-reka, sepertinya yang sepakat membuat peraturan menolak pernikahan antaragama ini terbiasa berdoa dipimpin saat menghadiri acara-acara umum. Lupa bahwa kita ini berbeda-beda sehingga membiarkan salah satu pemuka agama memimpin doa dengan cara yang diyakininya. Dan kebiasaan ini masih lestari hingga sekarang! Membuat saya bertanya-tanya: tak adakah yang merasa tersinggung karena perbedaannya tak diterima oleh forum saat berdoa? Hahahahaha, maaf atas pertanyaan bodoh saya. Tentu jawabannya tak seorangpun berhak tersinggung sebab pembacaan doa di Upacara Negara Indonesia tercintaku ini juga dipimpin oleh satu agama saja. Argumentasi bahwa sikap ini adalah pengejawantahan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa niscaya membuat saya terbahak. Saya percaya, sila pertama dalam ideologi Pancasila bermakna bahwa Indonesia akan menjamin warga negaranya untuk beragama. Bukan untuk mengambil peran agama (yang melarang pernikahan beda keyakinan).

Hahahahaha, maaf lagi-lagi saya tertawa atas kebodohan saya. Saya baru menyadari bodoh sekali saya mempermasalahkan ihwal berdoa dan pernikahan antaragama, sedang Indonesia hanya mengakui beberapa agama saja. Mana agamanya impor semua lagi. Negara enggan melegalkan kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, Kejawen, entah apa alasannya.

Ah, mungkin sebaiknya saya mencari pengimplementasian dari Bhineka Tunggal Ika yang dimaksud oleh Negara dulu. Ada yang bisa membantu?

Friday, 8 June 2018

Negeri Hoaks

Setiap minggu kau berulang menyuarakan Tuhan yang Maha Esa.
Namun kau tak sepakat Tuhanku dan Tuhanmu sama.
Jadi yang menciptakan dunia ini Tuhanku atau Tuhanmu?

Mengaku manusia yang adil dan beradab.
Namun dengan gampang kau serukan perang pada orang-orang yang tak sepaham denganmu.
Lantang berteriak 'binasakan' padahal mereka tak pernah mencelakakanmu.

Hiduplah persatuan, katamu.
Namun kau tak mau melebur dengan mereka yang bekerja dengan cangkul.
Memandang rendah mereka yang pendidikannya lebih rendah darimu!

Apa? Musyawarah?
Tapi kau menjunjung tinggi demokrasi?
Kau tahu, demokrasi itu sistem yang memungkinkan orang dengan pemikiran kerdil menang hanya karna jumlah mereka lebih banyak!

Hak milik tanah cuma mampu ditebus oleh orang-orang kelas atas.
Jangankan pendidikan, untuk berkehidupan layak pun kami dinilai tak pantas.
Masih berani kau menyebut-nyebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat?

Aku....
tinggal di negeri hoaks ya?



*posted on instagram, January 24th 2018 for #30haribercerita with theme "hoaks"

Thursday, 23 November 2017

Akibat Isi Rak Bagian Arsitektur di Toko Buku Itu-itu Saja



Tak hanya badan yang panas akibat ulah matahari bedengkang, hati arsitek-arsitek Pontianak jadi ikutan panas gara-gara ulah Bang Midji Tribun berita di Tribun mengenai opini Sutarmidji. Kita tidak usah menyalahkan oknum, salahkan beritanya saja, bisa-bisanya dia beredar begitu saja di dunia maya. Eh apa salahkan yang baca saja ya? Hohohohoho

Sebenarnya sih Bang Midji Tribun Si Berita tak salah bilang ‘Pontianak tak miliki arsitek imajinatif’ jika yang dimaksud dengan imajinatif merujuk pada desain-desain ala Zaha Hadid. Nyata bahwa di Pontianak tidak ada bangunan yang meliuk-meliuk seperti itu. Mungkin ini akibat jika rak-rak bagian arsitektur di toko buku hanya dipenuhi dengan buku-buku seperti Ragam Desain Fasad Rumah Minimalis, Ide Rumah di Lahan 70 – 120 m2, Inspirasi Desain Taman Kontemporer,  dan kawan-kawannya sehingga banyak orang awam berpikiran bahwa menjadi arsitek hanya semudah membalikkan telapak tangan, yang penting ide, yang penting imajinasi. Parahnya lagi, imajinasi hanya dikotakkan pada langgam tertentu, menyebabkan orang-orang yang mengedepankan moto less is more ingin tidak menjadi warga Pontianak saja :'

Terselip pula kalimat Selama ini ia melihat, apa yang dibangun tidak ada istimewanya dari segi arsitektur. Padahal mereka diberi kebebasan dalam berimajinasi. Waahh.... padahal semua bangunan yang lahir dari tangan arsitek itu istimewa. Seorang arsitek akan memikirkan fungsi bangunan, kondisi lingkungan sekitar bangunan tersebut akan dibangun (tanah, air, api, udara, eh maksudnya kondisi fisik tanah, arah matahari, pergerakan angin, dll), hingga psikologi bakal penghuni bangunan. Jika salah satu bagian dari elemen tersebut berubah, tentu akan berubah pula hasil rancangannya.

Gampangnya, coba bayangkan rumah panjang Dayak dan rumah Melayu. Walau berada di bawah langit yang sama, masyarakat kedua suku tersebut memenuhi kebutuhan akan tempat berlindung mereka dengan bentuk bangunan yang berbeda akibat adanya perbedaan filosofi hidup. Dan jangan harapkan kita bisa melihat bentuk bangunan seperti ini di Mesir yang kondisi alamnya jauh berbeda.

Arsitek ada sebagai respons atas kebutuhan ruang. Jika ada kebutuhan akan tampak ataupun bentuk bangunan yang "imajnatif", tentu arsitek akan menjawab kebutuhan tersebut.

Eh ini kok saya malah memberi penjelasan serius ya, padahal awalnya hanya ingin curhat :'

Ah, sudahlah, biarkan saja Si Berita jadi masalah arsitek-arsitek Pontianak. Saya ingin tidur saja, bermimpi dengan imajinasi-imajinasi saya sendiri.

Wednesday, 4 May 2016

#NyalaUntukYuyun

Berita seorang perempuan diperkosa 14 laki-laki beredar sudah.
Satu hal yang membuat saya jengah.
Ada saja yang akhirnya berpesan, "Makanya jangan pake yang mini yah."

Hahahahahahahaha
BANGSAAAAAAT!!! KEPARAT!! BIADAB!!

Tuan...... tuan.........
Kenapa kami yang disalahkan ketika kalian tak dapat manis berkelakuan?
Kenapa harus kami yang menjadi penjaga iman kalian?
Apakah semata karna kami ....perempuan?

Kenapa ada pelacur?

Ga ada orangtua yang ingin anaknya jadi pelacur.
Ga ada laki-laki yang berharap punya istri seorang pelacur.
Ga ada satupun perempuan di dunia ini yang bercita-cita jadi pelacur.

Lalu... kenapa profesi itu ada?

. . . . .

Mungkin sama kayak pembantu.
Ga ada kan yang bercita-cita jadi pembantu? Namun, kenapa profesi itu ada?



....... karna ada yang butuh.

Wednesday, 10 June 2015

Bak Setetes Air yang Kembali ke Samudra

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
      - Kejadian 1:26a -


Kita tahu, bahwa segala yang ada di alam semesta ini berasal dariNya, termasuk kita.
Tetapi, hanya kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya.
Tentu kita sudah sering mendengar hal ini. Segambar dan serupa dengan Allah. Demikianlah istilah yang sering beredar.
Namun seperti apa 'segambar dan serupa' itu?

       Bila diibaratkan, mungkin kita seperti setetes air, dan Tuhan samudranya.
Kau bisa melihat tetes-tetes air, tapi kau pasti tak bisa melihat Samudra secara keseluruhan dengan satu   pandangan mata.

       Mungkin juga kita seperti bunga api, dan Tuhan adalah api unggun abadi.
Kau mungkin akan mengaduh saat sepercik bunga api mengenai kulitmu, tapi tentu kau tak mau membayangkan apa yang terjadi jika Sang Api Unggun menjilatimu. Berdiri di dekatnya saja kau tak mampu.

       Bisa juga kita ibaratkan pasir, dan Tuhan pantainya.
Kau pasti sanggup menghitung ada berapa butiran pasir yang menyangkut di kukumu, tapi kau pasti tak sanggup menghitung pasir yang terhampar di sepanjang pantai.

       Atau mungkin kita seperti hembusan nafas, dan Tuhan adalah atmosfer.
Sebuah hembusan nafas mungkin dapat menggelitik tengkukmu, tapi tentu kita tak ingin seluruh udara bergerak secara bersamaan. Sebagian saja sudah dapat menerbangkan jalanan!

Ya, mungkin seperti itu.
Benda-benda kecil itu mempunyai substansi yang sama dengan benda asalnya.
Sama seperti kita yang berasal dariNya, yang diciptakan segambar dan serupa denganNya.

Benarkah pemikiranku?
Setujukah kau denganku?

Dan ketika semua  yang berasal dariNya akan kembali padaNya, maka kita akan melebur bak embun yang jatuh ke atas samudra, menyatu bak sumbu yang terbakar kobaran api, membaur selayaknya triliunan pasir di pantai, menjadi padu bak udara yang mengisi setiap rongga.
Ketika kita kembali padaNya, tak akan ada yang tersisa. Tak ada kehidupan. Tak ada pula kehidupan sesudah mati.

Yang ada hanya Dia. Kembali seperti semula. Ke ketiadaan.
Masih setujukah kau denganku?

Monday, 8 June 2015

Yesus lahir di Bulan Desember karena.....

Kau tahu mengapa Yesus memilih lahir ke dunia pada Bulan Desember?

Kalau menurutku, karena Desember itu dingin..
Tuhan memilih turun pada Bulan Desember untuk menghangatkannya!

Karena ada natal, pemandangan serba putih akibat salju jadi tak membosankan dihalau oleh kerlip lampu dan kilaunya ornamen natal berwarna-warni
Karena ada natal, pikiranmu akan direlaksasi dengan aroma kue panggang dan lupa akan kencangnya angin salju di balik jendela
Supaya di saat Desember, di masa-masa paling dingin sedunia, kau tetap bisa merasa hangat karena seluruh anggota keluarga ada di sekitarmu
Bahkan kau bisa menari di atas salju setelah merasakan panasnya berduaan di bawah mistletoe!

Ah, Tuhan keren.... Ia menyalakan api kecil di setiap hati melalui semangat serta keceriaan natal dan menjadikan Desember salah satu bulan terhangat yang aku miliki.

Saturday, 6 June 2015

Tuhan........,

Tuhan, mengapa harus selalu ada akhir di dunia ini?

Mengapa aku tak bisa selamanya bermain sebagai anak kecil?
Tak bisa selamanya menikmati hijaunya dedaunan dari bangku taman favoritku?
Selamanya mendekap orang yang ku cintai?
Mengapa suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibuku.......?

Tuhan, Engkau lucu.........
Engkau mengadakan sebuah arena yang disebut dunia
Kemudian Engkau menurunkan jutaan rintangan
Siapa yang berhasil menaklukan rintangan-rintangan itu, akan kembali bersama-Mu di Nirwana
Siapa yang gagal, akan Engkau kirim ke tempat penyiksaan yang bernama neraka

Tak bisakah Engkau mencipta dan meletakkan kami di sisi-Mu, Tuhan?
Mengapa ???!

Apakah Engkau begitu ingin dipuja sehingga menurunkan berjuta manusia dan bersabda bahwa aku ini begitu hina?
Apakah Engkau menikmati setiap rintihan dan air mata yang ku cucurkan ketika ku tersandung berjalan melewati rintangan-Mu?
Ah.... atau apakah Engkau ingin ku anggap Pahlawan? Hingga menciptakan skenario turun ke bumi dan mati di kayu salib demi menyelamatkanku
Tuhan, Kau................................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................

tolong aku.................., Tuhan

Saturday, 14 March 2015

Manusia Modern

'Manusia modern' itu egois.

Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga adatnya.
Padahal ia telah lupa akan kebudayaannya.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya tetap tinggal di rumah tradisional.
Padahal ia membangun rumah kotak-kotak dari beton dan kaca.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menggarap lahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal ia taunya hanya memBELI bahan makanan di pasar ber-AC.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga alamnya.
Padahal ia yang merusak hutan demi memperkaya diri.
Berkata "bukan pedalaman namanya kalau masih terjangkau kendaraan" "bukan pedalaman namanya kalau penduduknya punya ponsel".
Padahal apa salah mereka kalau mereka ingin MAJU? ingin MEMPERMUDAH hidup? ingin MELIHAT dunia luar?
Berkata masyarakat pedalaman itu tidak mencintai INDONESIA!
Padahal apa salah mereka menukar sayur menjadi minyak goreng dan gula di negara sebelah?
Sedangkan ia ke negara lain untuk SHOPPING! TRAVELLING! Sekedar FOTO2!

Merasa pintar dan berpendidikan.
Seolah mereka yang tidak sekolah itu bodoh dan lebih rendah derajatnya.
Merasa paling tahu karena sudah membaca buku-buku terbitan luar.
Padahal yang lebih mengenali alam itu MEREKA!!
Merasa mereka itu syirik dan patut dilaknat karena melakukan persembahan dan ritual-ritual.
Padahal nilai luhur mereka menaungi hati-hati yang jauh lebih bersih!
Merasa menang karena mempunyai banyak investasi.
INVESTASI APA??
Tanah yang seharusnya bisa ditinggali orang lain?
Rumah-rumah yang tak dihuni dan membuat harga material meroket?

Salah mereka? yang tak mampu menahan perkembangan teknologi.
Salah mereka? yang tak mampu melawan arus globalisasi.
Salah mereka? yang tak mampu bersilat lidah di hadapan para investor.
Salah KAMU, MANUSIA MODERN!!
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di balik layar laptop.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di gedung bertingkat tinggi.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila semuanya tinggal KLIK, tinggal SENTUH, tinggal SURUH!

Friday, 14 February 2014

Kegagalan (katanya) Hanya Keberhasilan yang Tertunda

"Kegagalan hanya keberhasilan yang tertunda"

Omong kosong!
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal menghalangi kematian adikmu?*
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal menjaga keperawananmu?**
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal mempertahankan rumah tanggamu?***

Aku gagal menutupi basah di pelupuk mataku.
Aku gagal menahan gemetar di tanganku.
Aku gagal menjaga otakku untuk tetap rasional.

Jika suatu saat nanti kau datang padaku kembali.
Membawa cinta yang hanya bisa menyakiti.
Akankah ku berhasil untuk tetap berpikir rasional?
Akankah ku berhasil untuk tak memecahkan gelas walau tubuhku bergetar?
Haruskah ku berhasil... tuk menahan air mata ini?


*Kematian memang misteri, dan kalau udah bicara takdir, manusia cuma bisa angkat tangan. Tapi beberapa hari yg lalu saya nonton film Step Up (yg pertama). Apa pernah kamu disuruh ngejagain adikmu tapi kamu malah lalai sehingga memberi kesempatan adikmu melakukan sesuatu yg dapat menyebabkan ia celaka? Itu sama halnya dengan kelahiran yang terjadi ketika kamu memutuskan untuk tetap berhubungan suami istri padahal di rumah lagi nggak ada kondom.

**Mungkin hal ini bisa jadi nggak masalah kalau kamu menganggap operasi keperawanan merupakan sebuah solusi.

***Dalam kepercayaan yang saya anut, pernikahan yang telah dilakukan atas nama Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia (hanya ketika kematian menjemput pasanganmu, kamu boleh menikah lagi). Saya benar-benar nggak kepikiran apa hal baik yang terjadi ketika saya (dan pasangan saya) gagal menjaga kasih dalam rumah tangga, yang mengakibatkan pasangan saya mempunyai 'simpanan' dan bahkan mendapat 'buah' dari hubungan yang dijalani.