Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Wednesday, 11 September 2019

#WorldSuicidePreventionDay

Sebagai seseorang yang mengedepankan logika, saya benci jika menangis cuma gara-gara persoalan hati.
Contoh sederhana, gagal mencapai sesuatu. Padahal rasanya segala upaya sudah dikerahkan, orang-orang sekeliling turut mendukung, hanya saja ada orang yang lebih bernasib baik. Jika sudah berjuang sehormat-hormatnya, mengapa bersedih?
Belum lagi perihal asmara. Untuk seorang berengsek yang tak pantas mendapat waktu dan curahan perhatian, mengapa pula masih mencurahkan air mata?

Dan demi menutupi duka, sering kali saya memilih luka.

Menenggak alkohol sampai lupa diri hingga di keesokan hari saya hanya perlu ke kantor dan mengerahkan seluruh sisa-sisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan kemudian mulai berpesta lagi.
Atau membubuhkan sayatan di pangkal paha agar logika membenarkan saya menangis.

Beruntunglah sebelum saya menyayat daging lebih dalam, seseorang menarik saya ke komunitas sepeda. Ia memperkenalkan saya pada lintasan-lintasan menantang. Awalnya, saya bergabung gara-gara logika saya bilang saya akan mati lebih terhormat jika jatuh ke jurang akibat bersepeda daripada mati bunuh diri. Setidaknya keluarga saya tak menjadi omongan tetangga. Namun ternyata ketika memegang setang sepeda, otak saya bekerja lebih baik mencari cara menyelesaikan lintasan sampai garis akhir alih-alih membelokkannya ke jurang.

Pada #worldsuicidepreventionday ini saya ingin menyampaikan, menangislah sebanyak dan selama apapun yang kamu mau. Hatimu butuh itu. Bantu dengan tubuh, berolahragalah. Berlarilah, ambil kelas zumba, atau bahkan kick boxing. Mungkin kaurasa hatimu telah mati. Tapi ia masih punya harapan untuk pulih jika tak kau matikan tubuhmu.

Walau sekarang saya masih bersedih saat terkenang dirinya, saya tak lagi mencari-cari alasan menyakiti diri untuk menangis. Bahkan saya tersenyum jika melihat lebam dan bilur saat terjatuh dari sepeda. Senyum bangga karena sanggup melewati masa terepih meski harus sompel di sana-sini.
Yaaa walau tetap tak mampu menahan air mata kala luka dibubuhi obat merah sih :'))

Tuesday, 12 June 2018

Alasanku Merokok

Jika kau bertanya sejak kapan aku merokok, tahun lalu jawabannya.
Namun, semuanya bermula karena kejadian dua tahun lalu...

Tepat bulan ini, Juni 2016, aku bertemu seorang pria.
Oh, bukan bertemu, hanya melihat.
Tak terjadi dialog antara kami.
Meja kami berseberangan.
Aku duduk menghadapnya.
Ia duduk menghadap pintu, merokok dengan cara terindah yang pernah aku lihat.

Bukan gerik tangannya yang menawan.
Wajahnya.
Masih terekam jelas wajah nan damai tiap ia menghirup rokoknya dalam-dalam.

Tahun lalu, tepat setahun yang lalu, 12 Juni 2017.
Aku mengetahui pria yang kuanggap kekasih tak mencintaiku.
Selama 3 tahun ia memanggilku sayang tanpa benar-benar menyayangiku.
Ia mempunyai kekasih lain.
Tak sampai akalku berusaha memahami posisinya.
Jika benar ia mencintaiku, mengapa ia sampai hati mencintai orang lain yang jelas-jelas akan menyakitiku?

Aku menekur di kedai ini.
Aku berharap kesedihanku turut larut dalam cangkir kopi.
Aku berharap pahitnya kopi bisa menawar getirnya perasaanku.
Lalu, terbayang wajah nan damai itu.....

"Jadi itu alasanmu merokok? Jadi kau menemukan kedamaian saat kau merokok?"

Ya.
Tidak.
Aku memang langsung membeli rokok ketengan saat itu.
Membakar salah satu ujungnya, menghisap ujung yang lain dalam-dalam.
Namun aku tak menemukan kedamaian.
Malah, dadaku sesak.

"Tapi kau tetap merokok??"

Justru itu, Wi.
Aku berusaha untuk menghisap lebih dalam setelahnya.
Rasa sesak itu!
Begitu nyata!
Dadaku sakit karena sesuatu di dalamnya memang terluka.
Dadaku yang menanggung akibatnya!
Aku tak mau dadaku sesak tapi mataku turut menangis, Wi.
Aku lelah memaki diri karna otakku tak sanggup memberi penghiburan.

"Setahun telah berlalu, Nya. Hentikan kebiasaan merokokmu! Kau menyakiti dirimu sendiri."

Hatiku kepalang hancur, Wi.
Aku tak keberatan paru-paruku juga hancur.

Sunday, 25 December 2016

Sebuah kesalahankah?

"Jujur, aku ada perasaan ke kamu."

Aku menoleh, "Cukup besar buat bikin kamu ninggalin dia? Kalau nggak, kalikan nol aja."

"Kamu nggak bisa ya ngomongnya lembut dikit?"

Keep your tone, Nafa. Kamu nggak boleh luluh. Se-charming apapun Agus, dia calon suami orang!

"Kamu berharap aku bilang kalau aku juga punya perasaan ke kamu?"

"Iya. Ya setelah selama ini kita dekat, nggak mungkin kamu cuma nganggap aku teman kan?"

"Kamu lebih dari teman. Kamu tahu itu."

Damn! Why that words split out of my mouth? Alihkan kepalamu kembali ke Harry Potter and The Half Blood Prince, kamu nggak bakal sanggup ngeliat Agus dengan tatapan seperti itu.

"Terima kasih kalau gitu," kataku cepat-cepat.

"Terima kasih?"

"Ya. Terima kasih, Gus."

"Terima kasih buat?"

"Terima kasih karna udah punya perasaan lebih ke aku."

Udah dong, Gus. Pengakuan-pengakuan kayak gini cuma bikin hubungan kita nggak sehat.

"Sini.."

Apa lagi, Gus?

"Sini....."

Agus menarik tubuhku ke sisinya, melingkarkan tangannya di pinggangku. Irama napasnya terdengar jelas. Tak kupungkiri pelukannya tak pernah gagal membuatku nyaman. Ia mengecup pipiku pelan, menuruni leherku dengan bibirnya, membuatku.........

"Gus...." kataku seraya menarik tubuh menjauh.

Ditariknya kepalaku dalam dekapannya, "Iya, sayang."

"..."

Sebuah kesalahankah ini, Tuhan? Bagian mana yang salah?

Friday, 24 June 2016

Adakah Keindahan Perlu Sebuah Nama?

     Ada satu kedai di pinggir kota yang cukup sering kusambangi. Kedai yang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Dan hari libur, tentunya. Pada hari kerja, seperti hari ini, l e n g a n g . . . . .

     Walau bangunannya terlihat sangat biasa dari luar, aku sangat menikmati berada di dalam kedai. Meja-meja disusun dengan jarak yang cukup sehingga memberi privasi bagi tiap pengunjung. Dindingnya dibiarkan polos, seolah berpesan, "Fokuslah pada apa yang ada di cangkirmu." Belum lagi Dimas, pemilik sekaligus barista yang sudah sangat familiar  dengan wajahku, tak pernah kehilangan moodnya untuk bersikap ramah. Bahkan ia sangat mengerti kapan aku sedang ingin menghabiskan waktuku sendiri dan kapan bertandang semata akibat rindu kopi racikannya. Dan keunggulan utama kedai ini adalah luas bangunannya. Pas. Seakan memang dirancang demikian sehingga aroma kopi dapat menjangkau setiap sudut ruangan. Aroma yang sangat menenangkan bagiku.

     Jika kau masuk ke dalam kedai, melangkahlah hingga pandanganmu menangkap meja terakhir di sisi kanan. Meja favoritku. Di meja ini bercangkir-cangkir kopi telah kuhabiskan sebagai teman membaca. Menghabiskan waktu dengan bacaan di tangan ditambah sesapan-sesapan kopi di lidah terasa seperti liburan kecil. Aku tak perlu ke mana-mana, tapi pikiranku di mana-mana. Pada setiap halamannya, imajinasiku menari. Membuatku lupa segala kepenatan yang harus aku hadapi kembali ketika melangkah keluar kedai.

     Hari ini Kamis, hari ke dua puluh tiga bulan enam. Aku datang ke kedai bersama buku baruku. Begitu rapi ia terbungkus dalam wrapping plastic. Tiba di rumahku sore tadi. Diantar oleh Iwan, Pak (Mas, maksudku) Pos yang sudah ditakdirkan singgah ke rumahku tiap dua minggu sekali.
     Setelah memesan secangkir kopi susu dan sebotol kecil air mineral, aku langsung mengeluarkan Perempuan Bernama Arjuna. Buah pikir Remy Sylado. Bersampul merah. Ah, aku selalu menikmati aroma buku baru. Memabukkan. Sama seperti aroma lembaran uang baru. Aku membetulkan posisi dudukku saat menemukan tulisan 'bukan bacaan ringan'.
     Dengan semangat aku mengedarkan bola mataku dari kiri ke kanan. Melahap kata demi kata yang ternyata...... benar-benar berat. Buku fiksi filsafat ini mengisahkan seorang perempuan bernama Arjuna. Halaman-halaman awal sangat menyenangkan untuk dibaca. Aku menyukai cara Remy bercerita sambil menjelaskan makna kata. Mulai dari 'mata keranjang', berbagai macam makna huruf V, hingga mengkritik penggunaan istilah 'tuna susila' di Indonesia.
     Namun ketika semakin banyak lembaran yang kubalikkan, aku mulai pusing. Kuselipkan bookmark di antara halaman 28 dan 29. Bayangkan saja, sudah ada tiga puluh sembilan catatan kaki tentang berbagai filsuf dan karyanya yang harus kubaca pelan-pelan. Ditambah lagi ada kata-kata dalam Bahasa Jawa dan Sunda yang tidak kumengerti maknanya.

     Mataku beralih pandang ke isi ruangan. Ada empat pengunjung lain selain aku. Dua sejoli duduk di meja paling depan. Satu orang duduk di kursi bar berbincang dengan Dimas. Dilihat dari cara mereka saling melontar umpatan, sepertinya mereka teman baik. Dan seorang laki-laki yang duduk di seberang mejaku. Ia juga pelanggan tetap kedai ini. Walau sering berada di tempat dan waktu yang sama, kami lebih memilih tenggelam dalam dunia kami masing-masing. Aku dengan bukuku, ia dengan laptopnya. Kadang juga tanpa laptop, hanya cangkir kopi dan bungkus rokok. Pernah aku melihatnya membawa buku. Literatur sepertinya. Terlalu tebal dan terlalu keras sampulnya untuk dikategorikan sebagai bacaan ringan.

     Kuraih kembali bukuku. Satu baris. Dua baris. Tunggu! Kuturunkan sedikit posisi bukuku. Keriting? Lelaki di depanku berambut keriting?? Yang benar saja! Sudah lebih dari sepuluh kali aku bertemu dengannya di kedai. Bahkan akhir-akhir ini kami bertukar senyum saat berpapasan. Dan aku baru menyadari bahwa ia keriting? Payah sekali aku ini! Kuturunkan daguku dan mulai membaca lagi.
     Ah! Maaf Remy Sylado, ada yang lebih menarik perhatianku daripada tulisanmu kali ini. Aku sangat menyukai Namaku Mata Hari kok. Sungguh! Kebetulkan posisi dudukku sekali lagi. Dengan sikap bak membaca, aku mulai mengamati pria di hadapanku ini.

     Berbeda denganku yang lebih senang duduk menghadap dinding sisi kiri (ke mejanya), ia memilih memiliki pandangan luas mengarah ke pintu masuk. Namun sama sepertiku, ia (seingatku) selalu sendiri ketika datang ke kedai. Seolah tak ingin ada orang lain yang tahu tempat persembunyian kami.

     Bukan seorang kidal. Ia sepertinya bersahabat dengan jeans. Sepatu gunung. Itukah alas kaki yang kerap ia pakai kemari? Selayaknya sepatu itu memang sering ia gunakan. Terlihat dari noda-noda yang tertinggal. Tempelan tanah yang masih basah di bawah solnya menunjukkan ia baru saja dari lapangan. Sudah bekerjakah ia? Apakah pekerjaannya membuat ia tak sempat mengurus diri? Lihatlah pipinya yang cekung itu! Akibat kurang makankah? Ia (seingatku, lagi) tak pernah tampak segar. Jauhkah rumahnya hingga ia enggan pulang terlebih dahulu sebelum bepergian lagi? Atau memang ia malas mandi?
     Hahahaha ia mempunyai kebiasaan aneh. Sudah beberapa kali ia terlihat menggunakan jarinya menyisir rambut ke belakang. Dengan rambut keriting pendek, itu sungguh hal yang menggelikan! Posisi rambutnya tak berubah sama sekali! Atau mungkinkah ia pernah grondong sebelumnya? Ia...
     ... mematikan laptopnya. Dengan segera kualihkan pandangan kembali ke buku yang masih erat kupegang. Melalui ekor mataku, aku memerhatikan ia memasukkan laptopnya ke dalam tas. Meneguk kopi hitamnya. Menyalakan sebatang rokok lagi.

     Ia perokok berat! Asbak itu buktinya. Penuh dengan abu dan puntung rokok dari jenis yang sama. Contoh pria ideal yang akan cepat mati karena rokok. Ia belum beranjak dari kursinya. Aku jadi penasaran, seberapa cepat ia menghabiskan satu puntung rokok?
     Satu isapan.
     Dua isapan. Ia benar-benar mengisap dalam-dalam rokoknya.
     Tiga isapan. Kenapa ia tak terbatuk dipenuhi sebegitu banyak asap di paru-parunya?
     Empat isapan. Rokok apa yang diisapnya?
     Lima isapan.
     Enam isapan. Ia terlihat sangat menikmati rokoknya.
     Tujuh isapan.
     Delapan isapan. Aku......
     Sembilan isapan. Aku menikmati ia merokok.
     Sepuluh isapan. Ekspresinya begitu berbeda dibandingkan saat menghadapi layar laptop barusan.
     Sebelas isapan.
     Dua belas isapan. Bagaimana ia bisa menemukan kedamaian dari sepuntung rokok?
     Tiga belas isapan.
     Empat belas isapan.
     Lima belas isapan. Aku benar-benar menikmati ia merokok.
     Enam belas isapan. Sejak kapan orang merokok merupakan objek yang indah?
     Tujuh belas isapan. Ia seperti menyerap energi dari rokok. Segala penatnya menjelma asap.
     Delapan belas isapan. Siapa laki-laki ini?
     Sembilan belas isapan. Aku tak tahu siapa laki-laki ini!

     Ia berdiri. Menekan ujung puntung di asbak. Menyampirkan tas di salah satu bahunya. Berjalan ke arah Dimas. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Membakar sebatang rokok lagi. Indaaaaaaah!
     Ia melangkah lagi. Aku bergegas mengemasi bukuku. Ia tiba di ambang pintu. Aku berlari, hendak meneriakkan namanya. Aku tercekat. Aku tak tahu namanya! Aku tak tahu siapa dia!

     Ia menghilang dari pandangan.