Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Sunday, 18 July 2021

REST IN PEACE

Bergoncengan di atas motor, saya pernah bercerita kepada seorang teman...

"Rasanya mati di saat pandemi merupakan momen yang baik. Yang benar-benar peduli akan langsung mendoakan dalam hatinya. Tak ada yang akan datang melayat hanya karna ikut-ikutan, atau bahkan agar tampak peduli. Keluarga tak perlu menjelaskan berulang-ulang kronologis menjelang ajal. Tak perlu ada pula kerabat yang menghabiskan uang demi perjalanan jauh mengantar ke liang lahat. Saya akan meninggal dalam sepi. Dalam damai."

Lalu hari ini, kabar duka kembali mampir di telinga saya.

Tunggu, rasanya penggunaan kata 'kabar duka' tidak tepat digunakan apabila merujuk pada paragraf sebelumnya. Mari kita sebut saja 'kabar meninggalnya seseorang'.

Saya tidak tahu apakah Beliau berpikiran sama, tentang waktu yang baik untuk mati. Tapi jelas tidak ada momen yang baik untuk kehilangan. 'Kabar duka' memang rasanya berlebihan. Tak pantas saya menyematkan nilai 'duka' padahal saya tidak pernah bertanya secara langsung, "Bagaimana rasanya mati?".

Rest in peace, Aki.

*foto di kiri (bersama sejumlah foto lainnya) tercecer ketika saya membereskan kamar jumat lalu pasca kebanjiran; foto di kanan tak sengaja ditemukan di laci tadi, saat mencari bingkai kacamata

Wednesday, 22 April 2020

Empat Penampilan Menghadiri Pertemuan Daring Selama #DiRumahAja


1. Kaus kerah lebar + lipstik senada

Sebagai manusia yang hanya punya kipas angin di kamar, memakai kaus lebar dengan kerah yang lebar pula jadi jalan ninja demi bertahan duduk manis menghadiri pertemuan daring. Suara kipas angin akan beradu dengan suara diri jika memaksa baling-baling kipas berputar. Lipstik jadi penting karna beberapa kali menghadiri rapat dengan wajah polosan, saya dibilang belum mandi! Ih padahal kan yaa kadang udah kadang belum. Lagipula saya juga rindu dandan, mematut diri di depan cermin kan hal yang menyenangkan, pas pula lipstik dan kaos kerah lebar di rumah punyai kepekatan warna yang sama :) 

 Khatulistiwa Membaca weekly meeting

2. Daster

Saat harus menghadiri pertemuan daring sedang pekerjaan di layar masih kentang, ya sudah, hadir saja dengan penampilan apa adanya. Ini juga yang saya suka dari situasi #dirumahaja. Pekerjaan tak perlu ditinggal, hadir dasteran semuanya memaklumkan. 

poetdemic meeting



3. Selimut kain

Pernah ada harinya kala Pontianak memberi pagi yang sejuk hingga gaya gravitasi bantal susah dilawan. Panggilan atasan jadi satu-satunya alasan segera muncul di layar berkamera aktif. Tentu saya tak perlu rungsing ke kamar mandi dulu. Cukup berjalan lima langkah, tarik selimut melingkari badan, mana ada yang tahu saya sambil memeluk guling di baliknya >_<



 4. Kaus kerah lebar + kain + korset

Ini jadi satu-satunya penampilan yang saya pikirkan hingga ke bawahan. Biasanya apa adanya saja, tak ada pun tak apa, haha. Tapi bawahan ini jadi problem saya selama pertemuan karna salah arah lititan! Ah, gara-gara situasi #dirumahaja Omah Wulangreh membuka kelas daring tari bali. Sudah lama saya mengincar kelas terbukanya tiap saya berpelesir ke ibu kota, apa daya baru bisa berjodoh justru saat tak bisa bertatap muka langsung. Puspanjali, tari yang diajarkan, memang cukup mudah sehingga semua peserta bisa mengikuti dengan baik, walau saya yakin badan saya pasti habis dipiles-piles oleh Mba Putri bila kami tak dibatasi oleh ruang.

online workshop by Omah Wulangreh

Monday, 11 December 2017

Lima Tahun yang Lalu

"Eh.. kak! Apa kabar?"
Begitu reaksiku ketika bertemu dengan kakak kelasku waktu itu, ketika kita memilih untuk menghabiskan malam bersama.

"Baik. Kalian awet ya?"

Aku hanya menjawabnya dengan tertawa. Kau pun tertawa.
Tapi dari tatapmu, aku tahu, kau tak mengerti.

"Maksudnya apa kita awet?"
Tanyamu ketika si senior sudah melangkahkan kaki-kakinya.

Aku menggeleng.
Berpura bahwa akupun tak mengerti.
Hah... ternyata kau tak sadar.
Kita melangkah bersama di tempat ini lalu bertemu dengannya.
Dan kita pernah melakukannya.
Di saat aku tak berharap kau kan mengisi hari-hariku lima tahun kemudian.

Story of "Travelling alone: Singapore!"

I'm an introvert yet admit that without people this life will be sucks yet people sucks more haha. This is about the unexpected persons who I met when I was in Singapore. Like it or not, these people did color my days there.

The first stranger I met succeed frightened me about being alone in a country of others. Thought he's a Malaysian but it turns out he's an Indian (he's white!). He said hello in Batam Center and sat next to me on the ferry. Scared me when he asked whether I do exercise or not because I look slim then started to seduce me by saying I like your eyes, you're beautiful, and bla bla. Thank God I through the immigration before him so I took quick steps and drown myself between racks in the very first store I met.

The next day, on my way to Little India, someone stopped me in front of a mall and asked me to fulfill a survey. I wanted to laugh, also wondered what world was trying to show me since the survey is about "The Mother God". The day before, someone posted a video on his instagram story, asking when I will move to Islam. Maybe the world wants to tease my determination to be an agnostic hahaha. Ah, this Mother God is a church who believes that if we have Heavenly Father then we should have a Heavenly Mother too. Cute, isn't it? The lady asked how long I will be in Singapore, when I will leave, and for sure, do I have time tomorrow to join the class and learn about The Mother God. My answer is no of course.

After strolling around Little India, I went to Bugis St., looking for City Tours, the travel agent that holds my night tour. I booked it online so I have to go to their office first. Pity me because no City Tours in Bugis on Google maps (yes, I rely myself on that thing while in Singapore) (that's why I survived). You know how tiring it is when you have to stroll around in a massive area yet you can't enjoy it because you're looking for something. Mbak. Someone smiled at me when he passed. I smiled back and became happy. Happy because I feel like I'm not alone. There is someone who knows that I'm his sister from the same motherland. That happiness lasts until I checked in to another hotel for that night. I was about to take a shower when a group coming in. Had shower then realize they are citizen of Pontianak too. Damn! Started to hate people again. I mean, why do I have to meet someone who has big chance I will meet again? Or perhaps an acquaintance of one of my friend? Can't I just be with a real stranger?? In fact, I was wearing a dress without bra, something that I won't do if I were in Pontianak. Oh geez! If someday one of you (Galaxy Pod's Indonesian guesses on December 1st, 2017) read this, please take my apology for being indifferent. I did it on purpose. I didn't want to ruin my vacation. You all won't, for sure, it's just me. I emphasize here, I hate people.

It almost midnight when I met another stranger. I was walking on the riverside, heading (and looking) for 1 Altitude, a rooftop bar. He said that he went back and forth near me to get my attention which failed because I put my focus on my Google maps. He offered me a drink, can't, wanna go to a bar with a rooftop view, asked to join me, yes, you may. But, surprise!, the queue for 1 Altitude was long. Looooong. So instead of waiting in a long line, I went with him to the nearest bar. He is a Japanese, works for an international bank, ever went to 30 something countries including Indonesia. Do you ever live outside Indonesia? Your english is good. Such a relieve heard him said so because it's hard for me to understand english spoken by the Chinese (except Xiaoran, the woman who introduced me to The Mother God) and Indian there. He is a nice person :) someone who makes me have a real talk when I was in Singapore.

Then, on my last day in Singapore, I met an Indonesian. I was wandering in Harbourfront then a guy approached ATM di mana ya? Another man recognize I'm Indonesian! He is from Batam, work in Singapore. Though we have the same mother language and had breakfast together, I don't think I had a real talk that morning. I was really tired. Even he offered me his shoulder when we're on boat, said kepala kamu terombang-ambing hahaha made me wonder am I that helpless when sleeping cause the Indian guy offered me the same.

As conclusion,
I (still) hate people.
No, I don't hate you.
It's people.
Thank you to you all, by the way.
And to You too for sure :)
Cheers!


Friday, 8 December 2017

Travelling Alone: Singapore!

Begitu mendengar akan ditugaskan ke Batam tanggal 28 - 30 November, serta merta saya turut menyiapkan rencana liburan ke Singapura *aji mumpung* hehe


Kamis siang acara kelar, langsung cus ke sebuah hostel murah di daerah Pasir Panas untuk menginapkan printer, laptop, dan pakaian kotor (Rp 50.000/malam) kemudian lanjut ke pelabuhan Batam Center, menukar uang IDR dengan SGD, beli tiket PP kapal Majestic (Rp 360.000). Ini merupakan harga promo (normal berkisar 450-500rb) dengan tiket pulang yang berlaku hingga 3 bulan ke depan, bebas kapan pulang. Nyesuain arloji dengan jam Singapur (lebih cepat 1 jam-an). Nunggu jam keberangkatan, ngisi disembarkation-embarkation card, liat2 toko bebas pajak di sekitaran boarding room. Disembarkation-embarkation card adalah kartu keluar/masuk negara lain. Selain identitas umum biasa juga tercantum berapa lama kita akan berada di negara tersebut dan alamat selama di sana. Hal ini penting agar negara tersebut tahu kalau kita punya tujuan yang jelas dan ga bakal lontang-lantung atau 'mencemari' negara mereka.



Passport, disembarkation-embarkation card, boarding pass


Tiba di Harbourfront. Beli SIM card di counter terdekat arrival gate, 1 GB untuk 7 hari $17 (masih sisa 800an MB. yaiks!). Kalau mau murah, silahkan cari counter di pinggir2 jalan di daerah Chinatown / Little India / Bugis. Dari cerita teman, dengan $5 sudah dapat 500 MB di sana. Nyinggah dulu ke VivoCity buat window shopping sampai dua jam terbuang tapi ga berasa. Balik lagi ke Harbourfront, beli ezLink card, kartu untuk naik transportasi publik di Singapur, $12 dapat saldo $7. Kita juga bisa membeli tiket per satu tujuan atau membayar langsung ke supir saat naik bus, namun harganya akan lebih mahal sekitar 2x lipat daripada menggunakan e-money. Naik MRT ini gampang, turunnya yang (menurut saya) rada bingung. Misal ingin ke Bugis dari Harbourfront, tinggal naik MRT North East Line (warna ungu) di Harbourfront kemudian turun di Outram Park, pindah MRT East West Line (hijau) tujuan Pasir Ris, turun di stasiun Bugis. Yang bikin bingung adalah pintu keluarnya. Ketika sampai di stasiun tujuan, bisa terdapat hingga 7 alternatif pintu keluar. Tentu saja semuanya dilengkapi dengan papan pengarah yang jelas, tapi kalau tidak tahu pintu keluar mana yang terdekat dengan tujuan kita, yaa selamat berjalan kaki ekstra!


My ezLink card


Singapore MRT map
Sumber gambar: https://mothership.sg/2017/05/here-are-the-real-distances-of-mrt-lines-compared-to-mrt-map/


Tiba di Shophouse Hostel pukul 10an. Resepsionisnya tidak 24 jam, kunci saya diletakkan di kotak dekat pintu masuk (sudah booking online sebelumnya). Mandi kemudian ke Sevel terdekat untuk membeli adapter stop kontak dan makan malam. FYI, stop kontak di Singapura itu yang kaki 3 dan pipih, jadi colokan dengan 2 kaki dan bulat seperti di Indonesia tidak bisa digunakan. Kelar makan keliling bentar di sekitar Arab St (ternyata isinya kebanyakan bar pas malam!), tidur.


On the bunk bed in Shophouse Hostel, Singapore

Jika berencana menginap di Shophouse Hostel, sebaiknya bawa sandal untuk digunakan di kamar & kamar mandi. Saya sih waktu itu nyeker aja, selalu ambil langkah seribu ketika masuk kamar karna lantainya dingin banget! Kamarnya bersih, loker ada di sebelah ranjang, free wifi, ada tempat setrika, sarapannya di rooftop (lt. 5). Lantai bawah Shophouse Hostel dimanfaatkan sebagai café. Yang menginap dapat rabat 20%, tapi tetap saja pricey menurut saya.



Shophouse Hostel 5th floor, Singapore


Kelar sarapan, mandi, check out, jalan-jalan di sekitar Bugis - Little India, malamnya ikut night tour keliling dengan bus dan berhenti di Clarke Quay kemudian check in di Galaxy Pods, Chinatown. Hanya di Bugis saya merasa $1 berarti karena ada jus yang dijual dengan harga segitu. Sebotol air kemasan kecil di Sevel harganya lebih dari itu. Jika bertandang ke Singapura pada masa natal, masukkanlah Orchard Rd dalam list tujuan wisata. Deretan mal di kiri kanan jalan didekorasi dengan ribuan lampu dan dimeriahkan beberapa pertujukan atraksi.



Bugis Food Street, Singapore


Clarke Quay, Singapore


One of the Christmas decorations on Orchard Road, Singapore


Souvenir shop in Chinatown, Singapore


Di Chinatown nyobain jajanan pasar bakpao dan bak kwa. Kepo aja, Chinese Pontianak atau Chinese Singapura yang lebih jago bikin penganan enak haha. Bagi yang makan babi, bak kwa cocok dijadikan oleh-oleh. Bak kwa itu mirip dendeng tapi dari daging babi. Soal rasa, saya lebih suka jajan di Gajahmada Pontianak 😆. Btw, di Chinatown ada Tintin Shop. Bagi penggemar Tintin wajib ke sini nih. Di depan tokonya ada tv yang nampilin film Tintin.



The Tintin Shop, Chinatown, Singapore



Singapura kota yang aman jika ingin melancong sendirian. Dari info pemandu night tour, tingkat kejahatan di Singapura hanya 2%. Buktinya saya tetap utuh walau jalan-jalan sendirian hingga lewat dari pukul 03:00 dini hari, menyusuri Singapore River hingga ke Gardens by the Bay. Jika ingin foto-foto tanpa 'bocor', jalan tengah malam sangat disarankan dengan konsekuensi akan kehilangan atraksi menarik. Saya saja tidak sempat melihat air muncrat dari mulut singa Merlion :'



Merlion Statue, Singapore


Helix Bridge & Marina Bay Sands, Singapore


The phenomenal artificial tree, Gardens by the Bay, Singapore


Night view from Dragonfly Bridge, Singapore


Pulang ke penginapan, menempuh kurleb 30 menit jalan kaki. Galaxy Pods menyajikan pengalaman menginap berbeda. Setiap kapsul mempunyai sistem tata udara dan cahaya masing-masing, jadi tidak perlu takut bakal pengap atau gelap. Ada ukuran single dan double bed. Selain tertutup, saya betah berlama-lama di dalam kapsul karna ada cermin 😁. Kapsul ini tidak kedap suara kok, jadi kalau kenapa2 di dalam, teriak aja, yang di luar pasti dengar. Common room di Galaxy Pods juga comfy. Nilai plus-nya lagi, amat bersih! Tak hanya ada roti, disediakan pula sereal saset, biskuit, dan telur rebus untuk sarapan.



Galaxy Pods, Chinatown, Singapore


Esok bangun dengan tujuan: Gardens by the Bay dan Cable Car di Mount Faber. Tidak tahu Gardens by the Bay begitu luas dan dapat dinikmati tanpa membeli tiket, jadilah saya menyiapkan tiket masuk senilai $28 dari jauh hari. Tiket ini digunakan untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. It's mesmerizing! Sayang saya menikmatinya dengan kaki terus melangkah sebab diburu waktu. Jika ada kesempatan berikutnya (amiiiinn), seharian penuh didedikasikan untuk tempat ini!



First view entering the Flower Dome


Liat persegi hitam dalam setiap panel pada gambar di atas? Di layar itu ditampilkan video proses tiap-tiap bunga dari kuncup hingga mekar. Flower Dome didominasi dengan hiasan natal (membuat saya ingin pergi lagi saat musim semi). Salut untuk Grant Associates, konseptor lanskap ikon Singapura ini. Salut akan tata udaranya, bagaimana mereka mengatur temperatur agar nyaman bagi pengunjung dan baik bagi tanaman di sana (FYI, tanamannya endemik Australia, Amerika, Mediterania, dll). Salut akan pola sirkulasinya, walau di beberapa titik harus ada petugas yang mengarahkan. Salut pada petugas di sana karna mereka nyiram tanamannya manual! Eh tidak tahu juga sih, bisa jadi sudah ada kontrol debit air sebelumnya. Tapi tentu berkat tangan mereka semua dekorasi terpasang, kan?



Christmas in the air! - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


The scariest Alice I've ever met - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


La Famille de voyageurs (a travelling family) - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


Cloud Forest, Gardens by the Bay, Singapore



Terdapat 6 lantai dengan wahana berbeda di balik air terjun dalam kubah Cloud Forest. Dibantu petugas yang mengarahkan, rute perjalanan dalam kubah: entrance - naik lift menuju lantai 6 - jalan naik menuju the lost world - jalan turun ke tiap level. Masuk Cloud Forest bikin berandai jalan tidak sendirian, bakal ada yang digandeng saat meniti cloud walk dan treetop walk (yes, ku rada ngeri di ketinggian), bakal ada yang ngangetin karna Cloud Forest dingin banget 😭. Di the lost world ada kolam koin-koin lemparan. Tak jelas apa tujuannya, di sekitar tak ada papan keterangan. Bila ga ada orang, udah kupunguti mungkin tu koin-koin buat jajan. Di level-level bawah ada semacam museum modern menginformasikan kondisi 'sakit'nya bumi saat ini dan sistem ramah lingkungan pada Gardens by the Bay. Menuju pintu keluar, secret garden memampang anggrek dengan ukuran super mini. Kaca pembesar dipasang di hadapan anggrek-anggrek untuk memudahkan kita menikmati cantiknya bunga tersebut.


The Lost World, Gardens by the Bay, Singapore

Thrown coins, Gardens by the Bay, Singapore

Secret Garden, Gardens by the Bay, Singapore


Perjalanan lanjut dengan bus menuju Marina Square, tukar bus tujuan Mount Faber. Saya menaiki bus wisata, bukan bus kota. Rutenya ada di brosur dari travel, lengkap dengan tempat dan waktu pemberhentian. Naik bus lebih menyenangkan karna bisa sambil liat kota Singapur, lebih hemat langkah juga dibanding naik MRT. Di Mount Faber saya ngalor ngidul ngetan ngulon nungguin matahari agak turun sedikit supaya dapat pemandangan kemerahan Singapur. 


Waiting for twilight in Mount Faber, Singapore

Twilight from cable car, Singapore

Nyampai di Sentosa cuma beli buah potong karna kaki udah ga sanggup jalan jauh. Turun di Harbourfront, isi ulang ezLink card padahal masih sisa $3 kurang sikit tapi scannernya ga mau nerima (minimal top up $10), naik MRT balik ke Chinatown buat ngambil barang, cus Harbourfront lagi, tidur di pelabuhan, naik feri paling pagi ke Batam.........

Tuesday, 5 January 2016

2015


Looking back to 2015.....

Me and my family always do the to-close-and-open-year-praying in the middle of the night, so was last year, and that was the year I spent its very first seconds with tears. I just can't help it, when I saw Bue (=grandfather in Dayak Ngaju language) getting thinner on his wheelchair. I used to know him as a great man. I still can't accept he should be in that condition. But knowing that he's still breathing and be with us until this day, I thank God.

 Thank God again, because in 2015 I traveled aboard for the first time. That lucky country (or lucky me :P) is Japan. Not really enjoy the trip, actually. We had a tight schedule so I never had enough time to travel around and I got PMS. So yaa I'm sorry to SCENErs for being sensitive and quite suck at that time. Btw, these guys, the SCENErs, are the most 'ga-ada-jaim-jaimnya' people.

 My birthday in 2015 is quite something too. I turned 22 and not only people in my church congratulate me but also Al-mudrikyah members. It's really something when you accepted by people who differ with you. I'm thank you because of that. Ah, someone asked what I want on my birthday. He has almost everything and I totally aware that He may give me anything. But, (I dunno what the hell I was thinking about) I only asked for a prayer. Silly, huh? No.. it’s kinda weird, but I never regret it. My prayer is about . . .

 . . . final project. That thing was somewhat frustrating me. I started it in February and (finally) finished it in December. Until this time, I am the student (in my generation) who takes the longest time to finish a final project. I thank for that, actually (terima kasih, Bu, Pak). But it shouldn't be counted as 11 months because I was ‘disappearing’ for almost 2 months to do the preparation for my trip to Japan. Ah, I also do some others in March, April, July (to Singkawang) and November (to Bogor). My campus mates (and lecturers) didn’t know that I really take some dates enjoying my time. Haha. By the way, do you know what date I did the final presentation of my final project? 23rd! Yeah, 23rd of December! Poor my mom because she must take over the christmas-cookies-making job. (If I have to thank someone at most, she is the one. Not sure I will ‘works’ if she wasn’t there.)

 The last but not least, you, the man who became my sentris of the year. Ah, I use sentris instead of translating it to ‘central’ because I used to call this phenomenon as ‘(his name)sentris’ just like geosentris or egosentris because my life goes around surround you since I have you. Though 2015 is over, I’m not over you (yet) (or never will, maybe). Haha. Thanks for both the laugh and the tears.

 So, ya, 2015 is really a year. I also know Jostein Gaarder, Dewi Dee Lestari, M. Aan Mansyur, Remy Sylado, and Agus Noor by their great writings (that make me fall in love again and again), first in 2015. I hope 2016 will be greater than you, 2015. Thank you again!

Saturday, 21 March 2015

me tasting heaven

It's raining now
and I'm cold
My mind goes to you
At the moment we spent the day together . . . .

It wasn't the sun radiating heat
It was you
Did the conduction
by a little quick kiss
at my waist
when you laid your head on my lap

Just a moment before
You said it is heaven
'Surgee'.... then you laid your head closer to me
Put your hands on my left and my right, felt like you were hugging me
And it turns to
me tasted heaven

........shit!
How can I remember all of those?!
Even my skin can recall that sensation;
my flesh be a conductor, transferring warmth
to my chest
to my head
to my thighs, my knees

I feel warm
Though my fingers' tips can't feel this embossed keyboard

'Fall in love, vi?'
'Seems like.. and I fall depth this time'

Friday, 5 December 2014

dua minggu setelah dari sana

Seminggu di sana artinya udah ikhlas bilang tidur di 'kamar'
Walau tempatnya sama ketika ingin membuat dadar.

Seminggu di sana artinya udah berani ke wc walau bukan untuk buang air besar.
Bukannya selama ini takut, tapi males keluar.
Banyak sarang-sarang lebar, lengkap dengan laba-laba jumbo yang bikin jantung berdebar.
Mesti melewati susunan kayu yang udah memakan 3 korban.
Kalau mau pipis, pas mandi aja mendingan.
Kan mandinya di sungai tuh, nah pipisnya sekalian.

Seminggu di sana artinya udah pada lihai nyuci piring!

Udah ga ada yang menyisakan pasir kuning.
Tak ada pula sisa minyak di atas mangkuk bening.

Seminggu lebih di sana artinya cewek dan cowok lebih membaur.
Nonton bareng sampai pandangan mata kabur.
Dulu, kalau ada yang ngajak mandi bareng itu ngawur.
Tapi nggak lagi sejak ada tragedi mandi di kala mentari menghadap timur.

Seminggu lebih di sana artinya udah bisa bangun siang.
Malam pertama ketika tiba, tidur gak tenang!
Terlalu banyak serangga yang bersarang.
Semua bangun pagi tanpa mengerang, padahal rencana kegiatan masih di awang-awang.

Seminggu lebih di sana artinya wc mampet!

Tiba-tiba dibombardir sebelas orang setiap hari gimana ga mampet.
Hari-hari terakhir mesti tahan walau perut udah mumet.
Daripada mesti bolak-balik ngangkut air sampai singset!

Padahal sebelum berangkat saling ngingetin supaya mulut diatur!
Eh dua minggu di sana omongan udah pada nggak disadur.
Syukur masih tau cara sopan bertutur.

Ah, kangen mandi di sungai!
Kangen ngajar bocah2 n ngebuktiin kalau mereka itu pandai.
Kangen naik motor pake trek ala roler koster!
Kangen ngeliatin gunung yang tertutup awan kayak di poster2.
Pingin nggendong Rafles lagi!
Pingin minta rokok daunnya Pak Biden lagi!
Pingin ........ ke Sungai Bening lagi . . . . . . . . . . . . . .


Wednesday, 19 February 2014

Terima Kasih Atas Sapaanmu Sore Ini

"Vilda. . . vilda...."
Aku menoleh dan mendapatkanmu sebagai sumber suara.
Kau, yang sedang duduk di kursi dan memandang ke arahku.
Maaf jika aku membuatmu harus menahan senyum sedikit lebih lama.
Bukannya aku lupa akan dirimu...
Hanya saja, aku butuh waktu sedetik lebih banyak untuk percaya kalau memang kau yang menegurku.
Apalagi kau mengingat namaku.
Meneriakkannya dari seberang lapangan pula...

Ah, sudah lama aku tak melihat senyummu.
Siomay Bandung, waktu aku masih kelas 2 SMA.
Itu terakhir kali aku melihat senyummu sebagai balasan atas sapaanku.
Beberapa kali kita bertemu setelahnya... dalam keadaan yang membuatku canggung.
Aku tak berharap kau kan menegurku.
Tapi, ayolah... masak kan tersenyum dapat memberatkanmu?

Bisa jadi itu yang membuat sapaanmu hari ini terasa spesial bagiku.
Asal kamu tahu, aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Oh, kecuali saat seseorang hampir menabrak dan memakiku! padahal dia yang melanggar lampu merah.
Tapi dengan segera aku memutuskan untuk mengingat sapaanmu kembali.
Dan dengan segera pula aku tersenyum kembali, bahkan hingga saat ini. :)

Kau tahu? Aku mengagumimu... sedari dulu.
Kau satu-satunya yang tak marah ketika ku lupa.
Kau ingat ketika kau bertanya padaku guna memastikan aku tak lupa?
Kau tersenyum... saat aku melontarkan jawaban yang benar.
Seingatku itu pertama kalinya kau menyunggingkan bibirmu, yang memang kau tujukan kepadaku.
Oh, maaf... aku telah bergede rasa.
Bisa jadi itu hanya senyum yang kau tujukan untuk dirimu sendiri atas keberhasilan membuatku tak lupa.

Semoga kau tak mendapat masalah atas tulisanku ini.
Aku hanya sesorang yang tak dengan mudah melupakan kebaikanmu.
Terima kasih atas sapaanmu sore ini.
Ku harap kau kan selalu sehat dan bahagia. :D

. . . . Oh ya, tersenyumlah ketika kita bertemu lagi nanti~