Friday, 8 December 2017

Travelling Alone: Singapore!

Begitu mendengar akan ditugaskan ke Batam tanggal 28 - 30 November, serta merta saya turut menyiapkan rencana liburan ke Singapura *aji mumpung* hehe


Kamis siang acara kelar, langsung cus ke sebuah hostel murah di daerah Pasir Panas untuk menginapkan printer, laptop, dan pakaian kotor (Rp 50.000/malam) kemudian lanjut ke pelabuhan Batam Center, menukar uang IDR dengan SGD, beli tiket PP kapal Majestic (Rp 360.000). Ini merupakan harga promo (normal berkisar 450-500rb) dengan tiket pulang yang berlaku hingga 3 bulan ke depan, bebas kapan pulang. Nyesuain arloji dengan jam Singapur (lebih cepat 1 jam-an). Nunggu jam keberangkatan, ngisi disembarkation-embarkation card, liat2 toko bebas pajak di sekitaran boarding room. Disembarkation-embarkation card adalah kartu keluar/masuk negara lain. Selain identitas umum biasa juga tercantum berapa lama kita akan berada di negara tersebut dan alamat selama di sana. Hal ini penting agar negara tersebut tahu kalau kita punya tujuan yang jelas dan ga bakal lontang-lantung atau 'mencemari' negara mereka.



Passport, disembarkation-embarkation card, boarding pass


Tiba di Harbourfront. Beli SIM card di counter terdekat arrival gate, 1 GB untuk 7 hari $17 (masih sisa 800an MB. yaiks!). Kalau mau murah, silahkan cari counter di pinggir2 jalan di daerah Chinatown / Little India / Bugis. Dari cerita teman, dengan $5 sudah dapat 500 MB di sana. Nyinggah dulu ke VivoCity buat window shopping sampai dua jam terbuang tapi ga berasa. Balik lagi ke Harbourfront, beli ezLink card, kartu untuk naik transportasi publik di Singapur, $12 dapat saldo $7. Kita juga bisa membeli tiket per satu tujuan atau membayar langsung ke supir saat naik bus, namun harganya akan lebih mahal sekitar 2x lipat daripada menggunakan e-money. Naik MRT ini gampang, turunnya yang (menurut saya) rada bingung. Misal ingin ke Bugis dari Harbourfront, tinggal naik MRT North East Line (warna ungu) di Harbourfront kemudian turun di Outram Park, pindah MRT East West Line (hijau) tujuan Pasir Ris, turun di stasiun Bugis. Yang bikin bingung adalah pintu keluarnya. Ketika sampai di stasiun tujuan, bisa terdapat hingga 7 alternatif pintu keluar. Tentu saja semuanya dilengkapi dengan papan pengarah yang jelas, tapi kalau tidak tahu pintu keluar mana yang terdekat dengan tujuan kita, yaa selamat berjalan kaki ekstra!


My ezLink card


Singapore MRT map
Sumber gambar: https://mothership.sg/2017/05/here-are-the-real-distances-of-mrt-lines-compared-to-mrt-map/


Tiba di Shophouse Hostel pukul 10an. Resepsionisnya tidak 24 jam, kunci saya diletakkan di kotak dekat pintu masuk (sudah booking online sebelumnya). Mandi kemudian ke Sevel terdekat untuk membeli adapter stop kontak dan makan malam. FYI, stop kontak di Singapura itu yang kaki 3 dan pipih, jadi colokan dengan 2 kaki dan bulat seperti di Indonesia tidak bisa digunakan. Kelar makan keliling bentar di sekitar Arab St (ternyata isinya kebanyakan bar pas malam!), tidur.


On the bunk bed in Shophouse Hostel, Singapore

Jika berencana menginap di Shophouse Hostel, sebaiknya bawa sandal untuk digunakan di kamar & kamar mandi. Saya sih waktu itu nyeker aja, selalu ambil langkah seribu ketika masuk kamar karna lantainya dingin banget! Kamarnya bersih, loker ada di sebelah ranjang, free wifi, ada tempat setrika, sarapannya di rooftop (lt. 5). Lantai bawah Shophouse Hostel dimanfaatkan sebagai café. Yang menginap dapat rabat 20%, tapi tetap saja pricey menurut saya.



Shophouse Hostel 5th floor, Singapore


Kelar sarapan, mandi, check out, jalan-jalan di sekitar Bugis - Little India, malamnya ikut night tour keliling dengan bus dan berhenti di Clarke Quay kemudian check in di Galaxy Pods, Chinatown. Hanya di Bugis saya merasa $1 berarti karena ada jus yang dijual dengan harga segitu. Sebotol air kemasan kecil di Sevel harganya lebih dari itu. Jika bertandang ke Singapura pada masa natal, masukkanlah Orchard Rd dalam list tujuan wisata. Deretan mal di kiri kanan jalan didekorasi dengan ribuan lampu dan dimeriahkan beberapa pertujukan atraksi.



Bugis Food Street, Singapore


Clarke Quay, Singapore


One of the Christmas decorations on Orchard Road, Singapore


Souvenir shop in Chinatown, Singapore


Di Chinatown nyobain jajanan pasar bakpao dan bak kwa. Kepo aja, Chinese Pontianak atau Chinese Singapura yang lebih jago bikin penganan enak haha. Bagi yang makan babi, bak kwa cocok dijadikan oleh-oleh. Bak kwa itu mirip dendeng tapi dari daging babi. Soal rasa, saya lebih suka jajan di Gajahmada Pontianak 😆. Btw, di Chinatown ada Tintin Shop. Bagi penggemar Tintin wajib ke sini nih. Di depan tokonya ada tv yang nampilin film Tintin.



The Tintin Shop, Chinatown, Singapore



Singapura kota yang aman jika ingin melancong sendirian. Dari info pemandu night tour, tingkat kejahatan di Singapura hanya 2%. Buktinya saya tetap utuh walau jalan-jalan sendirian hingga lewat dari pukul 03:00 dini hari, menyusuri Singapore River hingga ke Gardens by the Bay. Jika ingin foto-foto tanpa 'bocor', jalan tengah malam sangat disarankan dengan konsekuensi akan kehilangan atraksi menarik. Saya saja tidak sempat melihat air muncrat dari mulut singa Merlion :'



Merlion Statue, Singapore


Helix Bridge & Marina Bay Sands, Singapore


The phenomenal artificial tree, Gardens by the Bay, Singapore


Night view from Dragonfly Bridge, Singapore


Pulang ke penginapan, menempuh kurleb 30 menit jalan kaki. Galaxy Pods menyajikan pengalaman menginap berbeda. Setiap kapsul mempunyai sistem tata udara dan cahaya masing-masing, jadi tidak perlu takut bakal pengap atau gelap. Ada ukuran single dan double bed. Selain tertutup, saya betah berlama-lama di dalam kapsul karna ada cermin 😁. Kapsul ini tidak kedap suara kok, jadi kalau kenapa2 di dalam, teriak aja, yang di luar pasti dengar. Common room di Galaxy Pods juga comfy. Nilai plus-nya lagi, amat bersih! Tak hanya ada roti, disediakan pula sereal saset, biskuit, dan telur rebus untuk sarapan.



Galaxy Pods, Chinatown, Singapore


Esok bangun dengan tujuan: Gardens by the Bay dan Cable Car di Mount Faber. Tidak tahu Gardens by the Bay begitu luas dan dapat dinikmati tanpa membeli tiket, jadilah saya menyiapkan tiket masuk senilai $28 dari jauh hari. Tiket ini digunakan untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. It's mesmerizing! Sayang saya menikmatinya dengan kaki terus melangkah sebab diburu waktu. Jika ada kesempatan berikutnya (amiiiinn), seharian penuh didedikasikan untuk tempat ini!



First view entering the Flower Dome


Liat persegi hitam dalam setiap panel pada gambar di atas? Di layar itu ditampilkan video proses tiap-tiap bunga dari kuncup hingga mekar. Flower Dome didominasi dengan hiasan natal (membuat saya ingin pergi lagi saat musim semi). Salut untuk Grant Associates, konseptor lanskap ikon Singapura ini. Salut akan tata udaranya, bagaimana mereka mengatur temperatur agar nyaman bagi pengunjung dan baik bagi tanaman di sana (FYI, tanamannya endemik Australia, Amerika, Mediterania, dll). Salut akan pola sirkulasinya, walau di beberapa titik harus ada petugas yang mengarahkan. Salut pada petugas di sana karna mereka nyiram tanamannya manual! Eh tidak tahu juga sih, bisa jadi sudah ada kontrol debit air sebelumnya. Tapi tentu berkat tangan mereka semua dekorasi terpasang, kan?



Christmas in the air! - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


The scariest Alice I've ever met - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


La Famille de voyageurs (a travelling family) - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


Cloud Forest, Gardens by the Bay, Singapore



Terdapat 6 lantai dengan wahana berbeda di balik air terjun dalam kubah Cloud Forest. Dibantu petugas yang mengarahkan, rute perjalanan dalam kubah: entrance - naik lift menuju lantai 6 - jalan naik menuju the lost world - jalan turun ke tiap level. Masuk Cloud Forest bikin berandai jalan tidak sendirian, bakal ada yang digandeng saat meniti cloud walk dan treetop walk (yes, ku rada ngeri di ketinggian), bakal ada yang ngangetin karna Cloud Forest dingin banget 😭. Di the lost world ada kolam koin-koin lemparan. Tak jelas apa tujuannya, di sekitar tak ada papan keterangan. Bila ga ada orang, udah kupunguti mungkin tu koin-koin buat jajan. Di level-level bawah ada semacam museum modern menginformasikan kondisi 'sakit'nya bumi saat ini dan sistem ramah lingkungan pada Gardens by the Bay. Menuju pintu keluar, secret garden memampang anggrek dengan ukuran super mini. Kaca pembesar dipasang di hadapan anggrek-anggrek untuk memudahkan kita menikmati cantiknya bunga tersebut.


The Lost World, Gardens by the Bay, Singapore

Thrown coins, Gardens by the Bay, Singapore

Secret Garden, Gardens by the Bay, Singapore


Perjalanan lanjut dengan bus menuju Marina Square, tukar bus tujuan Mount Faber. Saya menaiki bus wisata, bukan bus kota. Rutenya ada di brosur dari travel, lengkap dengan tempat dan waktu pemberhentian. Naik bus lebih menyenangkan karna bisa sambil liat kota Singapur, lebih hemat langkah juga dibanding naik MRT. Di Mount Faber saya ngalor ngidul ngetan ngulon nungguin matahari agak turun sedikit supaya dapat pemandangan kemerahan Singapur. 


Waiting for twilight in Mount Faber, Singapore

Twilight from cable car, Singapore

Nyampai di Sentosa cuma beli buah potong karna kaki udah ga sanggup jalan jauh. Turun di Harbourfront, isi ulang ezLink card padahal masih sisa $3 kurang sikit tapi scannernya ga mau nerima (minimal top up $10), naik MRT balik ke Chinatown buat ngambil barang, cus Harbourfront lagi, tidur di pelabuhan, naik feri paling pagi ke Batam.........

0 comments:

Post a Comment

Leave a word here..