Saturday, 14 September 2019

Am I There Yet? Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa



Judul asli buku ini: Am I There Yet? The Loop-de-Loop, Zigzagging Journey to Adulthood. Penulisnya, Mari Andrew menggambarkan hidup ibarat musim. Mungkin kalau kita tinggal di negara subtropis seperti penulis, kita juga akan turut menyenangi musim semi. Cuaca yang tak dingin tapi juga tak terlalu panas, penuh bunga, dan warna-warna. Namun tentu saja kita tak bisa meminta musim semi ada sepanjang tahun. Bunga dan dedaunan butuh gugur untuk mekar kembali.

Demikian pula hidup, masa senang akan bergulir digulingkan masa susah untuk kemudian ditumbangkan oleh hal-hal membahagiakan yang diikuti oleh hal-hal pematah hati hingga kita mampu bangkit demi terjatuh kembali! Belum lagi saat rerata orang di sekitar kita tampak menjalankan hidupnya dengan baik. Sedang kita masih kesusahan menemukan jati diri dan menentukan tujuan hidup!

Buku ini saya beli di Malang. Penat karena berhari-hari lembur mulu, saya kabur ke Togamas saat break magrib. Lihatlah sampul biru muda dengan tulisan tangan yang lucu itu! Seakan membawa kesegaran dan kejenakaan. Yaa walau pas kembali saya cuma bisa memandanginya saja karena harus fokus pada kerjaan dan baru membaca isinya setelah tiba di Pontianak.

Awalnya saya mengira saya terlambat 4 tahun bertemu dengan buku ini. Usia saya 25 sekarang, seorang dewasa, bukan yang sedang menuju dunia orang dewasa. Terberkatilah saya menganal sketsa Mari Andrew sekarang, saat saya berada di musim dingin pribadi saya. Saya bahkan berkaca-kaca saat memasuki bab 6 Menghadapi Kekecewaan (entah karena prosanya menyentuh atau saya sedang dalam masa premenstrual syndrome saja).

Buku ini jauh dari kesan menggurui. Mari Andrew menceritakan perjalanannya menuju dunia orang dewasa, bagaimana ia menemukan rumah di kota yang bukan kota kelahirannya, kehilangan orang tersayang, indahnya cinta satu malam, membuat dirinya menjadi sosok yang ia sendiri cintai, berlatih bahasa asing demi bisa memesan bir dengan lancar, termasuk hal-hal receh seperti menemukan koin di jalan. “That’s life” memang digarisbawahi di buku ini, tapi ia tidak membiarkanmu duduk diam menanti musim dingin lewat tanpa menghidupkan pemanas dan berbelanja pakaian tebal.

Selamat memasuki dunia orang dewasa dengan petamu sendiri! Dan jika kamu merasa kamu telah berada di dalamnya, tanyalah pada dirimu, “Am I there yet?”.

0 comments:

Post a Comment

Leave a word here..