Friday, 6 September 2019

Rumah Kopi Singa Tertawa & Muslihat Musang Emas



Terpukau teramat sangat oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, saya berburu buku Om Yusi yang lain hingga bertemulah dengan dua buku kumpulan cerpen ini, Rumah Kopi Singa tetawa dan Muslihat Musang Emas. Walau perawakan keduanya seperti kembar, dua buku ini merupakan anak sulung dan anak bungsunya Om Yusi. Kedua buku ini dilabeli DEWASA di sampul belakang. Jangan berpikiran macam-macam, cerita tentang kehidupan yang diangkat bisa jadi sederhana, tapi dibutuhkan kedewasaan untuk memahami makna dari cerita-cerita tersebut. Sebelum saya bahas lebih lanjut isinya, jawab dulu pertanyaan ini:

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kapan dan bagaimana kematianmu datang, dosa menggetok kepala anak buta memanggilmu, novelmu segera terbit tetapi tubuhmu memalukan, tetanggamu rajin mengantarkan makanan yang tak pernah enak, orang yang kaubenci dimutilasi, dan kau sendiri terkena penyakit mengundang tawa? …

Eh, tidak perlu dijawab sih… itu pertanyaan retorik, tentu saja.

… Mungkin kau akan kena ombrophobia atau takut pada rintik hujan, pergi bersama anjing buruk rupa ke sebuah desa yang melarang penyebutan warna sehingga kau harus bilang yang mata anak haram janda ujung desa setelah kedatangan perampok dari Utara untuk mengatakan biru kehijauan, atau bahkan membeli kulit sida-sida.

Kutipan tersebut saya tukil mentah-mentah dari sinopsis buku Rumah Kopi Singa Tertawa edisi kedua. Edisi pertamanya terbit di tahun 2011. Bersama wajah barunya, buku edisi kedua hadir dengan dua cerita tambahan. Cerpen yang sama dengan judul buku hadir bersama kejanggalan. Rumah, kopi, singa, dan tertawa. Kata-kata yang sederhana dan diketahui semua orang. Tapi ketika dipadankan, sulit sekali membayangkan objek ataupun suasana yang mewakili si ‘rumah kopi singa tertawa’ ini. Cerpennya pun demikian, sangat mudah dicerna, tapi kemudian saya bertanya-tanya, mengapa mereka dipadankan jadi sebuah cerita?

Cerpen favortit saya berjudul Kapal Perang. Ceritanya tentang seseorang bernama Abdullah Yusuf Gambiranom yang rungsing dengan pertanyaan para tetangga, Ngepel, Pak Yus?, yang lewat di depan rumahnya setiap pagi setelah banjir surut. Pak Yusuf bukan yang paling rudin di kampungnya. Namun untuk persoalan banjir, ia memang kurang beruntung. Rumahnya berada di ujung, lebih rendah daripada jalan, menyebabkan banjir di rumah Pak Yusuf lebih lama surutnya. Mungkin tetangganya hanya berbasa-basi, tak berniat mengejek, tapi tentu bukan tanpa alasan Pak Yusuf merasa tak nyaman disapa seperti itu. Hubungannya dengan kapal perang apa?? Kalian baca saja sendiri ya, bukunya ;)

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan. Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa berkhianat.

Merasa tawaran yang kedua lebih menarik? Kalau begitu, sila baca Muslihat Musang Emas terlebih dahulu. Ada 21 cerita pendek yang siap disantap, lebih banyak 1 cerita dan 25% lebih tebal dari Rumah Kopi Singa Tertawa. Tepat di halaman ke-100, ada satu cerita teramat pendek, hanya 2 halaman saja. Judulnya Pengelana Waktu. Tapi memang dasar waktu! Selalu menyimpan misteri, saya sampai butuh waktu lama mencernanya, walau tak selama membaca cerpen terpanjang di buku.

Dikisahkan seorang remaja cebol satu-satunya di Desa Jetaksari, hidup membantu ayahnya mencari kodok di sawah. Pekerjaan yang dikatakan mendatangkan kutuk, penyebab Jarwo terlahir dengan tubuh seperti hewan buruannya. Hingga ia bertemu dengan orang-orang cebol lainnya di luar kota, menjadi ‘peliharaan’ perusahaan anggur cap Anggur Orang Tua, menyaksikan kawannya satu per satu mati, hingga ia punya kehidupan sendiri dan kemudian menikah dan mati dikisahkan dalam 30 halaman.

Di tengah begitu banyaknya Social Justice Warrior beredar di dunia nyata dan maya kini, saya merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini. Pahitnya kehidupan serta sisi-sisi gelap manusia diceritakan dengan bahasa yang begitu sederhana. Saran saya, bacalah buku-buku ini sebelum tidur, jangan membaca sambil mencuri waktu atau kau akan kehilangan kesempatan untuk merenung…

0 comments:

Post a Comment

Leave a word here..