Saturday, 7 March 2020

Percuma!

Apapun yang akan aku ceritakan, semua hanyalah pandanganku.
Kamu, yang telah memiliki pandangan akan ku, tetaplah kan berdiri sana, menilai ku dari sudut pandangmu sendiri.

Apapun yang akan aku katakan, semuanya hanyalah kata-kata.
Kamu telah memilih kata-katamu sendiri.
Aku tak menyalahkan jika rasa percaya akan dirimu lebih dari rasa percayamu akan aku.
Aku pun begitu.

Namun jika kamu masih menginginkan kita.
Cobalah sepatuku sekali-sekali.
Pinjamkan sepatumu sekali-sekali.
Tarik aku ke tempat favoritmu saat mengamati banyak hal.
Pilihkan aku kaca mata terbaik dan terburuk yang kau punya.

Sebab percuma jika kita berbaring bersisian menghadap langit yang sama bila aku tak sanggup memandang bintang yang kau pandang.
Percuma kau genggam tanganku sepanjang malam jika tak sekalipun kau biarkan ku menunjuk satu bintang.

Monday, 24 February 2020

23 Februari 2020


Namun ternyata lunas tak berarti tuntas. Air mata kembali mengalir saat ponselku memunculkan namamu beserta sebuah pesan 'Lagi apa?'.

Serat-serat harapan masih terjalin, suaramu terdengar ...

Segala bentuk perhatian dan basa-basimu itu menjelma serat harapan. Tak sadarkah kau ku sedang merendanya?

Kau ingin lebih bahagia raih tanganku!

Ingin kuraih tanganmu, tapi ku takut kau lepas. Ku takut kau lari saat kukejar. Ku tak mau kau hilang saat kucari.

Yang kau takutkan takkan terjadi

Bagimana bisa ku tak takut sedang ketakutan pun terpantul pada sorot matamu? Haruskah kita berhenti tuk saling menyapa? Atau kita berdiri di pinggir lautan saja, biar ombak menenggelamkan keraguan dan kita saling bersaudade?

Oh di sana berdirilah engkau dengan senyuman dan keping harapan
Di belakang tempatmu bersandar tanganku terbuka kapanpun kau ingat pulang
Selalu ada menemanimu sampai kita dihapus waktu

Dan bukan menghapus satu sama lain. Agar jika kita sama-sama menyerah kelak, dapat kukumandangkan bungsu yang tersyahdu bagimu.






Monday, 14 October 2019

Mereka Memayungiku Serupa Langit

Menyediakan matahari dan bulan dan pelangi.
Memberi hujan walau kadang ku sedang ingin bermain di luar.
Membiarkan ku bersembunyi, meski mereka tahu, mereka jauh lebih indah dari langit-langit kamarku.

Mereka memayungiku serupa langit.

Mereka ada.
Tanpa diminta.
Yang tanpanya tak kan ada kehidupan.


Saturday, 14 September 2019

Am I There Yet? Perjalanan Berbatu dan Penuh Liku Menuju Dunia Orang Dewasa



Judul asli buku ini: Am I There Yet? The Loop-de-Loop, Zigzagging Journey to Adulthood. Penulisnya, Mari Andrew menggambarkan hidup ibarat musim. Mungkin kalau kita tinggal di negara subtropis seperti penulis, kita juga akan turut menyenangi musim semi. Cuaca yang tak dingin tapi juga tak terlalu panas, penuh bunga, dan warna-warna. Namun tentu saja kita tak bisa meminta musim semi ada sepanjang tahun. Bunga dan dedaunan butuh gugur untuk mekar kembali.

Demikian pula hidup, masa senang akan bergulir digulingkan masa susah untuk kemudian ditumbangkan oleh hal-hal membahagiakan yang diikuti oleh hal-hal pematah hati hingga kita mampu bangkit demi terjatuh kembali! Belum lagi saat rerata orang di sekitar kita tampak menjalankan hidupnya dengan baik. Sedang kita masih kesusahan menemukan jati diri dan menentukan tujuan hidup!

Buku ini saya beli di Malang. Penat karena berhari-hari lembur mulu, saya kabur ke Togamas saat break magrib. Lihatlah sampul biru muda dengan tulisan tangan yang lucu itu! Seakan membawa kesegaran dan kejenakaan. Yaa walau pas kembali saya cuma bisa memandanginya saja karena harus fokus pada kerjaan dan baru membaca isinya setelah tiba di Pontianak.

Awalnya saya mengira saya terlambat 4 tahun bertemu dengan buku ini. Usia saya 25 sekarang, seorang dewasa, bukan yang sedang menuju dunia orang dewasa. Terberkatilah saya menganal sketsa Mari Andrew sekarang, saat saya berada di musim dingin pribadi saya. Saya bahkan berkaca-kaca saat memasuki bab 6 Menghadapi Kekecewaan (entah karena prosanya menyentuh atau saya sedang dalam masa premenstrual syndrome saja).

Buku ini jauh dari kesan menggurui. Mari Andrew menceritakan perjalanannya menuju dunia orang dewasa, bagaimana ia menemukan rumah di kota yang bukan kota kelahirannya, kehilangan orang tersayang, indahnya cinta satu malam, membuat dirinya menjadi sosok yang ia sendiri cintai, berlatih bahasa asing demi bisa memesan bir dengan lancar, termasuk hal-hal receh seperti menemukan koin di jalan. “That’s life” memang digarisbawahi di buku ini, tapi ia tidak membiarkanmu duduk diam menanti musim dingin lewat tanpa menghidupkan pemanas dan berbelanja pakaian tebal.

Selamat memasuki dunia orang dewasa dengan petamu sendiri! Dan jika kamu merasa kamu telah berada di dalamnya, tanyalah pada dirimu, “Am I there yet?”.

Wednesday, 11 September 2019

#WorldSuicidePreventionDay

Sebagai seseorang yang mengedepankan logika, saya benci jika menangis cuma gara-gara persoalan hati.
Contoh sederhana, gagal mencapai sesuatu. Padahal rasanya segala upaya sudah dikerahkan, orang-orang sekeliling turut mendukung, hanya saja ada orang yang lebih bernasib baik. Jika sudah berjuang sehormat-hormatnya, mengapa bersedih?
Belum lagi perihal asmara. Untuk seorang berengsek yang tak pantas mendapat waktu dan curahan perhatian, mengapa pula masih mencurahkan air mata?

Dan demi menutupi duka, sering kali saya memilih luka.

Menenggak alkohol sampai lupa diri hingga di keesokan hari saya hanya perlu ke kantor dan mengerahkan seluruh sisa-sisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan kemudian mulai berpesta lagi.
Atau membubuhkan sayatan di pangkal paha agar logika membenarkan saya menangis.

Beruntunglah sebelum saya menyayat daging lebih dalam, seseorang menarik saya ke komunitas sepeda. Ia memperkenalkan saya pada lintasan-lintasan menantang. Awalnya, saya bergabung gara-gara logika saya bilang saya akan mati lebih terhormat jika jatuh ke jurang akibat bersepeda daripada mati bunuh diri. Setidaknya keluarga saya tak menjadi omongan tetangga. Namun ternyata ketika memegang setang sepeda, otak saya bekerja lebih baik mencari cara menyelesaikan lintasan sampai garis akhir alih-alih membelokkannya ke jurang.

Pada #worldsuicidepreventionday ini saya ingin menyampaikan, menangislah sebanyak dan selama apapun yang kamu mau. Hatimu butuh itu. Bantu dengan tubuh, berolahragalah. Berlarilah, ambil kelas zumba, atau bahkan kick boxing. Mungkin kaurasa hatimu telah mati. Tapi ia masih punya harapan untuk pulih jika tak kau matikan tubuhmu.

Walau sekarang saya masih bersedih saat terkenang dirinya, saya tak lagi mencari-cari alasan menyakiti diri untuk menangis. Bahkan saya tersenyum jika melihat lebam dan bilur saat terjatuh dari sepeda. Senyum bangga karena sanggup melewati masa terepih meski harus sompel di sana-sini.
Yaaa walau tetap tak mampu menahan air mata kala luka dibubuhi obat merah sih :'))

Friday, 6 September 2019

Rumah Kopi Singa Tertawa & Muslihat Musang Emas



Terpukau teramat sangat oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, saya berburu buku Om Yusi yang lain hingga bertemulah dengan dua buku kumpulan cerpen ini, Rumah Kopi Singa tetawa dan Muslihat Musang Emas. Walau perawakan keduanya seperti kembar, dua buku ini merupakan anak sulung dan anak bungsunya Om Yusi. Kedua buku ini dilabeli DEWASA di sampul belakang. Jangan berpikiran macam-macam, cerita tentang kehidupan yang diangkat bisa jadi sederhana, tapi dibutuhkan kedewasaan untuk memahami makna dari cerita-cerita tersebut. Sebelum saya bahas lebih lanjut isinya, jawab dulu pertanyaan ini:

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kapan dan bagaimana kematianmu datang, dosa menggetok kepala anak buta memanggilmu, novelmu segera terbit tetapi tubuhmu memalukan, tetanggamu rajin mengantarkan makanan yang tak pernah enak, orang yang kaubenci dimutilasi, dan kau sendiri terkena penyakit mengundang tawa? …

Eh, tidak perlu dijawab sih… itu pertanyaan retorik, tentu saja.

… Mungkin kau akan kena ombrophobia atau takut pada rintik hujan, pergi bersama anjing buruk rupa ke sebuah desa yang melarang penyebutan warna sehingga kau harus bilang yang mata anak haram janda ujung desa setelah kedatangan perampok dari Utara untuk mengatakan biru kehijauan, atau bahkan membeli kulit sida-sida.

Kutipan tersebut saya tukil mentah-mentah dari sinopsis buku Rumah Kopi Singa Tertawa edisi kedua. Edisi pertamanya terbit di tahun 2011. Bersama wajah barunya, buku edisi kedua hadir dengan dua cerita tambahan. Cerpen yang sama dengan judul buku hadir bersama kejanggalan. Rumah, kopi, singa, dan tertawa. Kata-kata yang sederhana dan diketahui semua orang. Tapi ketika dipadankan, sulit sekali membayangkan objek ataupun suasana yang mewakili si ‘rumah kopi singa tertawa’ ini. Cerpennya pun demikian, sangat mudah dicerna, tapi kemudian saya bertanya-tanya, mengapa mereka dipadankan jadi sebuah cerita?

Cerpen favortit saya berjudul Kapal Perang. Ceritanya tentang seseorang bernama Abdullah Yusuf Gambiranom yang rungsing dengan pertanyaan para tetangga, Ngepel, Pak Yus?, yang lewat di depan rumahnya setiap pagi setelah banjir surut. Pak Yusuf bukan yang paling rudin di kampungnya. Namun untuk persoalan banjir, ia memang kurang beruntung. Rumahnya berada di ujung, lebih rendah daripada jalan, menyebabkan banjir di rumah Pak Yusuf lebih lama surutnya. Mungkin tetangganya hanya berbasa-basi, tak berniat mengejek, tapi tentu bukan tanpa alasan Pak Yusuf merasa tak nyaman disapa seperti itu. Hubungannya dengan kapal perang apa?? Kalian baca saja sendiri ya, bukunya ;)

Apa yang akan kaulakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan. Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa berkhianat.

Merasa tawaran yang kedua lebih menarik? Kalau begitu, sila baca Muslihat Musang Emas terlebih dahulu. Ada 21 cerita pendek yang siap disantap, lebih banyak 1 cerita dan 25% lebih tebal dari Rumah Kopi Singa Tertawa. Tepat di halaman ke-100, ada satu cerita teramat pendek, hanya 2 halaman saja. Judulnya Pengelana Waktu. Tapi memang dasar waktu! Selalu menyimpan misteri, saya sampai butuh waktu lama mencernanya, walau tak selama membaca cerpen terpanjang di buku.

Dikisahkan seorang remaja cebol satu-satunya di Desa Jetaksari, hidup membantu ayahnya mencari kodok di sawah. Pekerjaan yang dikatakan mendatangkan kutuk, penyebab Jarwo terlahir dengan tubuh seperti hewan buruannya. Hingga ia bertemu dengan orang-orang cebol lainnya di luar kota, menjadi ‘peliharaan’ perusahaan anggur cap Anggur Orang Tua, menyaksikan kawannya satu per satu mati, hingga ia punya kehidupan sendiri dan kemudian menikah dan mati dikisahkan dalam 30 halaman.

Di tengah begitu banyaknya Social Justice Warrior beredar di dunia nyata dan maya kini, saya merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini. Pahitnya kehidupan serta sisi-sisi gelap manusia diceritakan dengan bahasa yang begitu sederhana. Saran saya, bacalah buku-buku ini sebelum tidur, jangan membaca sambil mencuri waktu atau kau akan kehilangan kesempatan untuk merenung…

Thursday, 22 August 2019

Save Me!

Nama : Vilda Indrawati
Cita-cita : Bisa nyanyiin ini tanpa nangis.....


It started off so well
They said we made a perfect pair
I clothed myself in your glory and your love

How I loved you
How I cried

The years of care and loyalty
Were nothing but a sham it seems
The years belie we lived a lie
I'll love you 'til I die

Save me! Save me! Save me!
I can't face this life alone
Save me! Save me! Save me!
I'm naked and I'm far from home

The slate will soon be clean
I'll erase the memories
To start again with somebody new

Was it all wasted?
All that love?

I hang and I advertised
A soul for sale or rent
I have no heart
I'm cold inside
I have no real intent

Wednesday, 10 July 2019

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi


“Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”

Bagaimana? Cukup mewah sebagai paragraf pembuka sebuah novel?

Kalau menurutmu tak cukup mewah, saya pastikan buku ini cukup anjing untuk dibaca. Mulai dari ‘anji...’ yang tak selesai diucapkan hingga ‘anjing! anjing! anjing!’ bertebaran di halaman-halaman buku ini. Tak suka anjing? Tenang saja. Tapir buntung, kadal kopet, babi pincang, dan kawan-kawan turut mewarnai petualangan Sungu Lembu membayarkan dendamnya pada raja Gilingwesi, ayahanda teman seperjalanannya, Si Raden Mandasia yang gemar memotong sapi yang bukan miliknya.

Pemikiran saya yang menyangka akan bosan seperti saat membaca cerita-cerita sejarah kerajaan ketika melihat judulnya (‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ begitu kaku, bukan?), bahkan setelah membaca sinopsisnya, raib ketika menikmati isinya. Pemilihan diksi seperti ‘sepenguyahan sirih’ untuk menggambarkan rentang waktu dan ‘lima ratus tombak’ untuk jarak menambah apik cerita zaman baheula ini.

Dongeng ini juga kaya akan rasa. Detail-detail cerita yang disuguhkan mampu membuat saya merasa marah, haru, tergelitik, tegang, bingung saat mendapat lontaran teka-teki Putri Tabassum, lapar karena penjabaran masakan babi guling ala Loki Tua, jijik saat kedua anjing si koki saling memakan tahi satu sama lain, terangsang ketika Sungu Lembu bercinta dengan Nyai Manggis, termasuk kagum dan iba sekaligus pada beberapa tokoh. Saking kayanya, dongeng ini membuat kita terbawa ke dongeng-dongeng kondang lain yang lazim khalayak tahu.

Jika di awal cerita kita akan menikmati hebatnya kisah petualangan, bab-bab akhir justru mengajak kita melihat karakter tokoh-tokoh dengan lebih dalam, menuntut pengertian atas tindak-tanduk yang sebelumnya kita nilai bodoh. Paragraf penutupnya tak semewah paragraf pembuka. Namun tetap saja, anjing!  

Tuesday, 11 September 2018

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Apapun suku, agama, bahkan ras kita, kita tetap satu, Indonesia.

Sebuah semboyan yang begitu indah karena negara ini tak akan memandang warna kulit, lurus atau keritingnya rambut, atau bagaimana cara kita berdoa, selama kita mengaku bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia. Namun hemat saya, ada salah penekanan dalam pemaknaan Bhineka Tunggal Ika.

Jika saya berkata 'kamu China' karena kamu memang China, mengapa merasa tersinggung?
Ayah Bugis! Ibu Dayak! Istri Batak! Apakah saya harus menutupi semua itu?
Pemaknaan Bhineka Tunggal Ika yang menitikberatkan pada 'satu' alih-alih menerima terlebih dahulu bahwasannya kita 'berbeda-beda' membuat kaum minoritas mempunyai tendensi untuk menerka maksud tersembunyi di balik pertanyaan 'kamu orang apa?'. Takut tak diterima karena bukan bagian dari mayoritas, saya lebih sering menjawab 'orang Indonesia dong' padahal saya mengerti betul pertanyaan tersebut mempertanyakan suku atau agama saya. Dampak dari acuhnya terhadap perbedaan ini membuat kebanyakan kawan sebaya saya tidak mengenal bahasa orangtuanya. Lupa kalau kita bersumpah untuk berbahasa satu dan bukan bersumpah untuk mengenal satu bahasa saja.

Negara menolak pernikahan antardua warga yang berbeda agama meski mereka mengamini benar Indonesia. Saya mereka-reka, sepertinya yang sepakat membuat peraturan menolak pernikahan antaragama ini terbiasa berdoa dipimpin saat menghadiri acara-acara umum. Lupa bahwa kita ini berbeda-beda sehingga membiarkan salah satu pemuka agama memimpin doa dengan cara yang diyakininya. Dan kebiasaan ini masih lestari hingga sekarang! Membuat saya bertanya-tanya: tak adakah yang merasa tersinggung karena perbedaannya tak diterima oleh forum saat berdoa? Hahahahaha, maaf atas pertanyaan bodoh saya. Tentu jawabannya tak seorangpun berhak tersinggung sebab pembacaan doa di Upacara Negara Indonesia tercintaku ini juga dipimpin oleh satu agama saja. Argumentasi bahwa sikap ini adalah pengejawantahan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa niscaya membuat saya terbahak. Saya percaya, sila pertama dalam ideologi Pancasila bermakna bahwa Indonesia akan menjamin warga negaranya untuk beragama. Bukan untuk mengambil peran agama (yang melarang pernikahan beda keyakinan).

Hahahahaha, maaf lagi-lagi saya tertawa atas kebodohan saya. Saya baru menyadari bodoh sekali saya mempermasalahkan ihwal berdoa dan pernikahan antaragama, sedang Indonesia hanya mengakui beberapa agama saja. Mana agamanya impor semua lagi. Negara enggan melegalkan kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, Kejawen, entah apa alasannya.

Ah, mungkin sebaiknya saya mencari pengimplementasian dari Bhineka Tunggal Ika yang dimaksud oleh Negara dulu. Ada yang bisa membantu?

Thursday, 21 June 2018

Perang Puputan dalam Jejak Langkah

     "Itulah peperangan gagah, jarang ada tandingannya dalam sejarah manusia, mungkin juga satu-satunya. Raja Klungkung, I Dewa Agoeng Djambe, telah memerintahkan semua keluarga raja di Den Pasar dan semua punggawa, laki maupun perempuan, untuk melakukan Perang Puputan, perang sampai orang terakhir.
          Laki-perempuan sebangsa Tuan, orang-orang Bali yang gagah itu, maju ke medan perang, Tuan. Perempuan-perempuan dengan bayi dalam gendongan belakang membawa tombak atau keris menyerbu seperti laron menerjang api, takkan kembali ke rumah masing-masing, tinggal di tempat, bermandikan darah sendiri dan darah bayinya."

(hal. 253-354)