Monday, 24 October 2022

Something in the Rain

 

Sumber: imdb.com 

Satu kata buat drama korea ini: Nyesek.
   
Kesesakan 1.
Something in the Rain mengisahkan tentang seorang perempuan (Jin-a) yang jatuh cinta pada adik sahabatnya (Jun-hui). Jin-a diceritakan berumur 35 tahun, yang terpaut cukup jauh dengan Jun-hui. Tidak didetailkan berapa selisih umur mereka, tapi ketika Jin-a ikut liburan bersama teman-teman Jun-hui, yang lumrahnya mengencani perempuan yang lebih muda, Jin-a diperlakukan seperti orangtua oleh pacar teman-temannya, misalnya tidak diperbolehkan mengangkat berat. Kakak Jun-hui (sahabat Jin-a), Gyeong-seon, juga berlaku seperti orangtua bagi Jun-hui karena orangtua mereka telah tiada.
Bayangin aja kalau kamu suka saudara temanmu. Gimana coba ga sesak, harus mendam perasaan padahal orang yang disuka tu dekeeet banget. Mau ngajak jalan bingung, bilang suka ga berani/ga enak, pendam aja bisanyaa.

Kesesakan 2.
Yet timing is a bitch. Di akhir episode 3 (dari total 16 episode), waktu yang tepat hadir. Jin-a dan Jun-hui bisa saling terbuka satu sama lain, tapiii tentu saja tidak di hadapan orang lain. Apa yang menyenangkan dari cerita bahagia tapi tidak bisa dibagi? Malah, orang lain tidak boleh tahu kamu sedang bahagia. Pas berdua sih iya, bisa gelanyutan, pas ada orang lain? Pendam lagiiiii.

Kesesakan 3.
Di episode 1 diceritakan Jin-a diputusin pacarnya, Gyu-min. Gyu-min selingkuh dengan perempuan yang lebih muda. Ketika Gyu-min diputusin, Gyu-min kembali mengejar Jin-a. Gimana coba jadi Jun-hui... pengen bilang "Woi ga usah deket-deket, Jin-a punya aku sekarang," tapi yaa mana bisaaa, bisanya mendem dongkol ajaa.

Kesesakan 4.
Restu. Kamu tahu ibumu punya standar calon menantu dan pacarmu tidak memenuhi itu. Pasti sesak, didesak menikah karena umur yang tak lagi muda, tapi yang bersamamu sekarang tidak bisa kamu kenalkan. Sesak karena ngebayangin perasaan pacar kalau dia turut mendengar perkataan ibu, tapi juga sesak karena tahu ibu akan kecewa dengan pilihanmu.
Jadi Jun-hui pun tak kalah sesak. Ibu pacarmu terang-terangan menolakmu dan semuanya harus kamu telan sendiri karena tidak mau pacarmu khawatir dan semakin sedih. 

Kesesakan 5.
Ibu Gyeong-seon dan Jun-hui sudah meninggal dunia, ayah mereka masih hidup tapi memilih untuk hidup tanpa mereka. Ketika orang yang dianggap sudah tiada muncul bersama pacarnya, Jun-hui marah. Jin-a yang hanya berusaha bersikap hormat harus rela nyesek karena Jun-hui tidak bisa dikontak dan ditemui.

Kesesakan 6.
Kehidupan kantor Jin-a tidak kalah bikin nyesek. Pelecehan seksual melalui sentuhan dan perkataan kerap dilakukan atasan-atasan pria terhadap staf wanita. Hal-hal yang "lumrah" terjadi sebenarnya, ditertawakan bersama, tapi... siapa wanita yang nyaman dengan itu? Tapi (lagi), siapa wanita yang berani bilang "Pak, tolong kondisikan...". Jadi Jun-hui juga pasti tidak kalah terkuras emosinya, ketika pacarnya harus bersama bapak-bapak pervert
Kenyataan pahit yang diangkat di drama ini adalah: walau kantor berusaha untuk mewadahi keluhan atas pelecehan, tidak banyak yang berani angkat suara, pun ketika Jin-a berani bersuara dengan bukti-bukti pendukung, ketika menyenggol pejabat tinggi, malah Jin-a yang disingkirkan bukan pelaku.

Kesesakan 7.
Bayangin jadi Gyeong-seon! Sahabat tempat ia bersandar pacaran dengan adiknya! Tentu masih bisa berteman, tapi jelas ada beberapa hal yang akan canggung kalau dibahas. Belum lagi Gyeong-seon selama ini berperan menjadi orangtua bagi Jun-hui, tentu ada banyak kepedihan hidup yang tidak dia bagi dengan adiknya dan tentunya bakal tidak mungkin dia bagikan ke pacar adiknya! Mau ngelarang Jun-hui dan Jin-a bersama? Ya ga mungkin juga, Gyeong-seon tahu mereka bahagia bersama. Mana ibu Jin-a tidak merestui karena Jun-hui berasal dari keluarga broken home.. jadi makin sesak kan, tahu bahwa keluarga terdekat yang selama ini ada juga ternyata pikirannya sama dengan orang lain. Percuma dia berusaha berperan sebaik mungkin jadi kakak yang ngebesarin Jun-hui!

Kesesakan 8.
Jun-hui mungkin tampak tahan dengan berbagai tekanan dari lingkungan, tapi ia tidak tahan kalau Jin-a yang tertekan dan sedih. Ia memilih untuk kembali bekerja di Amerika dan meminta Jin-a ikut bersamanya. "Weyy.. perjuangan di kantor belum berakhir nih, perjuangin kamu di depan orangtua juga belum nyerah kok malah ngajak saya kabur sihh. Saya pula yang dijadikan alasan, tapi ngambil keputusan ga nanya-nanya saya." Ini interpretasi saya terhadap perasaan Jin-a, yang ditampilkan sih maniiis banget (tapi teteup, nyesek!). Di episode 15, Jun-hui pindah dan meninggalkan Jin-a. Hubungan mereka pun berakhir.

Kesesakan 9.
Adik Jin-a, temannya Jun-hui, menikah. Pulanglah Jun-hui ke Korea dengan kondisi Jin-a sudah punya pacar baru. Hubungan yang berakhir menggantung menyisakan kecanggungan. Pas bertemu kembali, ga bisa senang, ga bisa marah-marah, bisanya cuma sedih karena harus memendam semua perasaan. Akhirnya sih, Jin-a dan Jun-hui bersama kembali. Kalau ngebayangin perjuangan yang harus mereka lalui setelahnya,  sesek!


FUN FACT:
Judul aslinya 밥 잘 사주는 예쁜 누나 (Bap Jal Sajuneiun Yeppeun Nuna) / Pretty Sister Who Buys Me Food (>_<)

Sunday, 18 July 2021

REST IN PEACE

Bergoncengan di atas motor, saya pernah bercerita kepada seorang teman...

"Rasanya mati di saat pandemi merupakan momen yang baik. Yang benar-benar peduli akan langsung mendoakan dalam hatinya. Tak ada yang akan datang melayat hanya karna ikut-ikutan, atau bahkan agar tampak peduli. Keluarga tak perlu menjelaskan berulang-ulang kronologis menjelang ajal. Tak perlu ada pula kerabat yang menghabiskan uang demi perjalanan jauh mengantar ke liang lahat. Saya akan meninggal dalam sepi. Dalam damai."

Lalu hari ini, kabar duka kembali mampir di telinga saya.

Tunggu, rasanya penggunaan kata 'kabar duka' tidak tepat digunakan apabila merujuk pada paragraf sebelumnya. Mari kita sebut saja 'kabar meninggalnya seseorang'.

Saya tidak tahu apakah Beliau berpikiran sama, tentang waktu yang baik untuk mati. Tapi jelas tidak ada momen yang baik untuk kehilangan. 'Kabar duka' memang rasanya berlebihan. Tak pantas saya menyematkan nilai 'duka' padahal saya tidak pernah bertanya secara langsung, "Bagaimana rasanya mati?".

Rest in peace, Aki.

*foto di kiri (bersama sejumlah foto lainnya) tercecer ketika saya membereskan kamar jumat lalu pasca kebanjiran; foto di kanan tak sengaja ditemukan di laci tadi, saat mencari bingkai kacamata

Friday, 23 April 2021

Yang Ditulis Usai Berpisah

Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi bodoh bersama.

Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).

Keempat puluh satu tulisannya diawali dengan sapaannya pada Maria.
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.

Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.

Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.

Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.

Wednesday, 17 February 2021

Senja yang Paling Tidak Menarik

 

Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.

Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.

Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.

Monday, 15 February 2021

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung. Ia mencurahkan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya dan tidak membiarkan apa pun melukai mereka. Sebagai pasangan, ia juga setia tanpa bergantung kepada pasangannya. Ia mampu melindungi diri sendiri, anak-anak, dan kelompoknya. Di sisi lain, serigala betina mendorong anaknya untuk mandiri, untuk mampu melindungi dirinya sendiri. Sepaham dengan Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian dan psikolog etnoklinis, Ester Lianawati menggunakan serigala betina sebagai representasi dari arketipe perempuan liar. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam.

Buku ini terdiri atas tiga bagian:
Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana; 
Semesta yang Tak Terlihat; dan 
Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan. 

Bagian pertama menceritakan tentang teori-teori psikologi feminis dan perkembangannya, bermula bahkan sebelum ada yang secara resmi disebut “psikolog”. Kendati penjelasannya tak runut dan tak dalam, Ester menyertakan tujuh halaman Daftar Pustaka sehingga memudahkan pembaca jika tertarik akan informasi tertentu. Saya sangat menyukai kalimat penutup bagian ini: à chacum son cerveau (tiap orang punya otaknya sendiri). Kalimat dari Cathrine Vidal untuk mempertegas bahwa sejatinya tidak ada otak laki-laki dan otak perempuan, tidak seperti teori populer yang “mencap” perempuan cenderung neurotik dan tidak secakap pria karena faktor biologis. 
Bagian kedua merupakan yang paling mengasyikkan untuk dibaca karena Ester menyajikan realitas dalam masyarakat, yang tentu saja sangat berkenaan dengan kehidupan keseharian kita, kehidupan patriarkis yang dipaparkan sedari kita dini dan acap kali kita langgengkan keberadaannya. Penjabaran ihwal serigala betina ada pada bagian ini. Sayangnya, terjadi repetisi beberapa contoh dan cerita di bagian ini sehingga terasa kurang seru.
Bagian ketiga dapat dikatakan yang terbaik. Pertanyaan pada sinopsis, “Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri?” dapat saya jawab dengan jawaban yang sama dengan penulisnya, “Saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya”.

Wednesday, 29 July 2020

Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?




Man bisa jadi laki-laki atau perempuan, tapi woman pasti perempuan.
Perempuan dapat berpakaian seperti laki-laki dan dipandang normal karena maskulinitas bersifat netral, tapi tidak ada laki-laki ‘normal’ yang berkebaya ataupun menggunakan rok tutu.
Laki-laki bersifat universal. Jika ingin memahami manusia, kita akan membaca cerita yang sama-sama dialami oleh laki-laki dan perempuan. Kita tak perlu repot membaca buku tentang persalinan, sebab melahirkan tidak termasuk pengalaman manusia. Melahirkan adalah pengalaman perempuan.

Demikianlah dunia bekerja hingga tak pantas jika kita menyalahkan Adam Smith, Bapak ilmu ekonomi, yang meniadakan pekerjaan perempuan dalam perhitungan ekonominya. Pada 1776 ia menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri-sendiri.” Ia memandang motif ekonomi sebagai penggerak tindakan manusia, seolah lupa bahwa hampir sepanjang hayatnya, Smith dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya.

Pekerjaan merawat (yang lazim dilakukan oleh perempuan) memang masih dipandang rendah oleh dunia hingga kini, dua setengah abad kemudian, walau tak dapat dinafikan bahwa pekerjaan merawatlah yang membuat kehidupan tetap berputar. Bahkan para ekonom berkelakar bahwa jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, Pendapatan Domestik Bruto negaranya turun, tapi jika ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.

Dengan kocak, dan tentu saja cerdas, Katrine Marçal membeberkan fakta, menggiring kita memahami jalan pikirannya tanpa menghakimi pihak manapun. Ia menceritakan sejarah ekonomi mulai dari manusia baru mengenal konsep uang hingga akhirnya kapitalisme menyatukan orang lebih banyak daripada agama apapun, menceritakan perempuan melalui pengalaman yang acap kali ditemui di belahan dunia manapun, lalu mengaduk semuanya...

Monday, 25 May 2020

Sister Fillah, You'll Never Be Alone



Jajan bukunya Mba Kalis kali ini berasa jajan buku dari luar negeri. Saya pesan tanggal 18 April, nyampainya tanggal 13 Mei! Tentu paketnya dibuka secara menggebu-gebu walau ternyata saya tidak termasuk 1000 pemesan pertama sehingga tidak mendapatkan post card :’). Selama masa penantian, saya membaca dua buku Mba Kalis yang terbit tahun lalu (lihat resensinya di sini).

Buku ini memuat dua puluh satu tulisan Kalis Mardiasih bertemakan perempuan. Berbeda dengan Muslimah yang Diperdebatkan yang mengangkat hal-hal trending di media sosial, di Sister Fillah ada beberapa pengalaman perempuan yang dibahas lebih jauh, seperti hak reproduksi dan pendidikan seks. Mba Kalis juga mengutip beberapa ayat Quran, sesuatu yang tidak dilakukannya di dua buku sebelumnya. Mungkin karena penerbit kali ini berbeda, Penerbit Qanita yang masih di bawah PT. Mizan Pustaka, bukannya Buku Mojok selaku penerbit Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Judul Sister Fillah, You’ll never Be Alone membuat saya berekspektasi penulis sedang berbicara kepada pembacanya, yang juga seorang perempuan. Namun gaya penulisan Mba Kalis masih sama dengan yang biasa saya baca di mojok.co, berbicara kepada ulama yang seolah memulikan perempuan, kepada masyarakat patriarki dengan menggunakan kata ganti ‘kami’ (kaum perempuan) alih-alih ‘kita’. Keintiman yang saya harapkan ada di buku ini ternyata tak terbangun sedemikian rupa.

Halaman di buku ini cukup berwarna (dalam arti sebenarnya). Namun sayang, saya kurang menyukai pemilihan warnanya, terlalu mencolok mata, padahal gradasi pink di sampul lembut sekali. Font pada ilutrasi juga beragam.

Di buku ini dapat ditemukan jargon-jargon seperti ‘Perempuan adalah hidup. Perempuan adalah Cinta.’ As a feminist, saya lebih percaya kita (manusia) adalah cinta, bukan hanya perempuan. Ada pula ‘Saya lebih memilih istilah keragaman atau keberagaman daripada menyebut perbedaan’, padahal bukannya kita harus sadar benar dalam menemukan perbedaan baru kita bisa menilai bahwa kita beragam? 

Jika Muslimah yang Diperdebatkan saya nilai ‘membebaskan’ dan menjadi salah satu buku favorit, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone hanya sedikit di atas dari buku pink kumpulan esai media feminis yang saya baca sebelumnya*.


*buku yang saya maksud, ini

Friday, 15 May 2020

Memperdebatkan Muslimah Kemudian Hijrah (Tapi Ga Berani Jauh-jauh, Takut Nyasar!)



Kalis Mardiasih mengumumkan peluncuran buku terbarunya di Bulan April lalu. Saya, yang memang doyan dengan tulisan Mba Kalis bahkan sebelum Mojok sempat mati suri, turut memesan buku tersebut meski gagal paham dengan judulnya, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone. Sangka saya 'fillah' itu nama! Berhubung waktu pesannya cukup lama, sekitar dua minggu belum termasuk waktu pengiriman, saya jadi turut mencari buku Mba Kalis yang sebelumnya urung saya baca karna terdengar Islami sekali, Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Feminisme, gerakan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan diejawantahkan dengan baik di buku Muslimah yang Diperdebatkan. Teramat baik malah, karena isu-isu feminis yang kerap dipandang bertentangan dengan nilai keagamaan, dijabarkan secara sederhana melalui kegiatan sehari-hari dari sudut pandang Islam. Mba Kalis menyatakan dalam epilog bukunya bahwa Islam hadir lebih nyata di telinga, mata, bahkan aliran darahnya dalam ide feminisme tersebut.

Dogma masyarakat mayoritas dapat dengan mudah saya tepis dengan “saya bukan Islam”, tapi tentu tidak semudah itu untuk para muslimah. Hukum halal-haram sering kali dijatuhkan lebih awal pada mereka ketika berusaha menyuarakan relitasnya. Ya, harus kita akui bahwa tekanan justru datang lebih banyak dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

Kendati tema cerita buku ini tidak seberagam buku mengenai perempuan lainnya yang pernah saya baca, buku ini teramat ‘membebaskan’. Kemuliaan muslimah yang selama ini digambarkan melalui simbol (panjang kerudung misalnya), penyerahan diri (yang mungkin disalahartikan sebagai taat pada suami), laku anggun, dan hal sebangsanya harus dipertanyakan kembali. Apa lagi saat diperhadapkan dengan realitas pengalaman perempuan yang berbeda-beda.

Kalau dilihat dari judul, buku ketiga Mba Kalis terkesan ‘Mojok’ banget, Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!. Tedengar sedikit nakal tapi banyak akal, ternyata isinya cukup serius jika dibandingkan dengan Muslimah yang Diperdebatkan, tapi ya tetap saja nakal!. Saya menilai buku ini serius karena ada banyak istilah keisalaman dan tokoh-tokoh Islam yang sangat awam bagi saya. Di halaman pertama prolognya saja saya sudah harus mencari arti Lailahailallah Muhamadan Rasullah di laman peramban.

Buku ini terbit di tahun 2019 sebagai repons terhadap fenomena ‘iklan hijrah’ yang marak di berbagai media, termasuk media sosial. Ada lima bab di buku ini: Islam dan Kebaikan Anak-anak, Islam dan Kemanusiaan, Islam dan Akal Sehat, Islam dan Contoh Baik, dan Islam dan Modernitas. Masing-masing berisikan tujuh hingga delapan tulisan pendek yang secara tak langsung mengajak kita untuk berhijrah ke dalam diri.

Kedua buku ini bukan buku perihal hukum-hukum Islam. Saya yang bukan Islam dapat menikmatinya tanpa harus pusing dengan dalil ataupun ayat. Konsep muslimah yang digambarkan pada Muslimah yang Diperdebatkan sangat saya harapkan juga tergambar di perempuan Kristen seperti saya, serta perempuan-perempuan lainnya. Dan apabila suatu saat saya memutuskan untuk memeluk agama Islam, mungkin buku Mba Kalis adalah buku yang akan saya dekap erat agar mampu berhijrah tanpa nyasar haha. Di buku yang sama saya juga belajar untuk memanusiakan manusia, tak seperti konsep agama surgawi yang acap kali digaungkan belakangan ini.


Wednesday, 22 April 2020

Empat Penampilan Menghadiri Pertemuan Daring Selama #DiRumahAja


1. Kaus kerah lebar + lipstik senada

Sebagai manusia yang hanya punya kipas angin di kamar, memakai kaus lebar dengan kerah yang lebar pula jadi jalan ninja demi bertahan duduk manis menghadiri pertemuan daring. Suara kipas angin akan beradu dengan suara diri jika memaksa baling-baling kipas berputar. Lipstik jadi penting karna beberapa kali menghadiri rapat dengan wajah polosan, saya dibilang belum mandi! Ih padahal kan yaa kadang udah kadang belum. Lagipula saya juga rindu dandan, mematut diri di depan cermin kan hal yang menyenangkan, pas pula lipstik dan kaos kerah lebar di rumah punyai kepekatan warna yang sama :) 

 Khatulistiwa Membaca weekly meeting

2. Daster

Saat harus menghadiri pertemuan daring sedang pekerjaan di layar masih kentang, ya sudah, hadir saja dengan penampilan apa adanya. Ini juga yang saya suka dari situasi #dirumahaja. Pekerjaan tak perlu ditinggal, hadir dasteran semuanya memaklumkan. 

poetdemic meeting



3. Selimut kain

Pernah ada harinya kala Pontianak memberi pagi yang sejuk hingga gaya gravitasi bantal susah dilawan. Panggilan atasan jadi satu-satunya alasan segera muncul di layar berkamera aktif. Tentu saya tak perlu rungsing ke kamar mandi dulu. Cukup berjalan lima langkah, tarik selimut melingkari badan, mana ada yang tahu saya sambil memeluk guling di baliknya >_<



 4. Kaus kerah lebar + kain + korset

Ini jadi satu-satunya penampilan yang saya pikirkan hingga ke bawahan. Biasanya apa adanya saja, tak ada pun tak apa, haha. Tapi bawahan ini jadi problem saya selama pertemuan karna salah arah lititan! Ah, gara-gara situasi #dirumahaja Omah Wulangreh membuka kelas daring tari bali. Sudah lama saya mengincar kelas terbukanya tiap saya berpelesir ke ibu kota, apa daya baru bisa berjodoh justru saat tak bisa bertatap muka langsung. Puspanjali, tari yang diajarkan, memang cukup mudah sehingga semua peserta bisa mengikuti dengan baik, walau saya yakin badan saya pasti habis dipiles-piles oleh Mba Putri bila kami tak dibatasi oleh ruang.

online workshop by Omah Wulangreh

Tuesday, 14 April 2020

The Feminist Minds – Two Years of Collected Essays from Magdalene



Magdalene proclaimed itself as a Jakarta-based women-focused online media outlet known for its bold and daring coverage that pushes the envelope and advocates equality and progressive values. A channel for the voices of feminists, pluralists, and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual orientations. After five years (Magdalene came to being in September 2013), they decided to put in print some of the articles and essays from the two years of their publication as appreciation to their contributors, so here came the book.

The contents divided into seven parts: I am Magdalene, womanhood, gender and feminism, faith and identity, relationship, gender and sexuality, and leisure and culture. Each part separated by a pink-and-gray-two-page illustration with a powerful quotation. There are fifty-six articles written by males and females with different backgrounds in this not-so-pink book (I seriously like the shades). But since this is an online media and written in English, we know that the contributors are not that diverse.

Two articles that I like are Kartini the Forgotten Nationalist, written by Devi Asmarani, Magdalene Editor-in-Chief and May 1998 and How It Changed Me by Elisa Sutanudjaja, a full-time mom (which she finds a bit odd because how can you determine part time or full time for motherhood?) (yes, you can know the writers’ background, it is available on the last pages). Some (or most?) articles feel too judgemental and some are too shallow. I mean, yeah we are being judged by others but why you also judge the others and try to show that you are the one who right? If I had to rate the book, it would be three out of five. The shallowness is forgiven because (maybe) Magdalene wants to bring feminism issues to the tiniest level of our daily life.

By the way, please kindly check magdalene.co, it does not only serve articles to be read but also podcasts to be listened.