Man bisa jadi laki-laki atau
perempuan, tapi woman pasti perempuan.
Perempuan dapat berpakaian seperti laki-laki dan dipandang normal
karena maskulinitas bersifat netral, tapi tidak ada laki-laki ‘normal’ yang
berkebaya ataupun menggunakan rok tutu.
Laki-laki bersifat universal. Jika ingin memahami manusia, kita akan membaca
cerita yang sama-sama dialami oleh laki-laki dan perempuan. Kita tak perlu
repot membaca buku tentang persalinan, sebab melahirkan tidak termasuk
pengalaman manusia. Melahirkan adalah pengalaman perempuan.
Demikianlah dunia bekerja hingga tak pantas jika kita menyalahkan Adam
Smith, Bapak ilmu ekonomi, yang meniadakan pekerjaan perempuan dalam
perhitungan ekonominya. Pada 1776 ia menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena
kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa
mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri
mereka sendiri-sendiri.” Ia memandang motif ekonomi sebagai penggerak tindakan
manusia, seolah lupa bahwa hampir sepanjang hayatnya, Smith dirawat dan
disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya.
Pekerjaan merawat (yang lazim dilakukan oleh perempuan) memang masih
dipandang rendah oleh dunia hingga kini, dua setengah abad kemudian, walau tak
dapat dinafikan bahwa pekerjaan merawatlah yang membuat kehidupan tetap
berputar. Bahkan para ekonom berkelakar bahwa jika seorang laki-laki menikahi
pembantu rumah tangganya, Pendapatan Domestik Bruto negaranya turun, tapi jika
ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.
Dengan kocak, dan tentu saja cerdas, Katrine Marçal
membeberkan fakta, menggiring kita memahami jalan pikirannya tanpa menghakimi
pihak manapun. Ia menceritakan sejarah ekonomi mulai dari manusia baru mengenal
konsep uang hingga akhirnya kapitalisme menyatukan orang lebih banyak daripada
agama apapun, menceritakan perempuan melalui pengalaman yang acap kali ditemui
di belahan dunia manapun, lalu mengaduk semuanya...








