Terpukau teramat sangat oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi,
saya berburu buku Om Yusi yang lain hingga bertemulah dengan dua buku kumpulan
cerpen ini, Rumah Kopi Singa tetawa dan Muslihat Musang Emas. Walau perawakan
keduanya seperti kembar, dua buku ini merupakan anak sulung dan anak bungsunya
Om Yusi. Kedua buku ini dilabeli DEWASA di sampul belakang. Jangan berpikiran
macam-macam, cerita tentang kehidupan yang diangkat bisa jadi sederhana, tapi
dibutuhkan kedewasaan untuk memahami makna dari cerita-cerita tersebut. Sebelum
saya bahas lebih lanjut isinya, jawab dulu pertanyaan ini:
Apa yang akan kaulakukan bila
kautahu kapan dan bagaimana kematianmu datang, dosa menggetok kepala anak buta
memanggilmu, novelmu segera terbit tetapi tubuhmu memalukan, tetanggamu rajin
mengantarkan makanan yang tak pernah enak, orang yang kaubenci dimutilasi, dan
kau sendiri terkena penyakit mengundang tawa? …
Eh, tidak perlu dijawab sih… itu pertanyaan retorik, tentu saja.
… Mungkin kau akan kena
ombrophobia atau takut pada rintik hujan, pergi bersama anjing buruk rupa ke
sebuah desa yang melarang penyebutan warna sehingga kau harus bilang yang
mata anak haram janda ujung desa setelah kedatangan perampok dari Utara untuk mengatakan biru kehijauan, atau bahkan
membeli kulit sida-sida.
Kutipan tersebut saya tukil mentah-mentah dari sinopsis buku Rumah
Kopi Singa Tertawa edisi kedua. Edisi pertamanya terbit di tahun 2011. Bersama
wajah barunya, buku edisi kedua hadir dengan dua cerita tambahan. Cerpen yang
sama dengan judul buku hadir bersama kejanggalan. Rumah, kopi, singa, dan
tertawa. Kata-kata yang sederhana dan diketahui semua orang. Tapi ketika dipadankan,
sulit sekali membayangkan objek ataupun suasana yang mewakili si ‘rumah kopi
singa tertawa’ ini. Cerpennya pun demikian, sangat mudah dicerna, tapi kemudian
saya bertanya-tanya, mengapa mereka dipadankan jadi sebuah cerita?
Cerpen favortit saya berjudul Kapal Perang. Ceritanya tentang
seseorang bernama Abdullah Yusuf Gambiranom yang rungsing dengan pertanyaan
para tetangga, Ngepel, Pak Yus?, yang
lewat di depan rumahnya setiap pagi setelah banjir surut. Pak Yusuf bukan yang
paling rudin di kampungnya. Namun untuk persoalan banjir, ia memang kurang
beruntung. Rumahnya berada di ujung, lebih rendah daripada jalan, menyebabkan
banjir di rumah Pak Yusuf lebih lama surutnya. Mungkin tetangganya hanya
berbasa-basi, tak berniat mengejek, tapi tentu bukan tanpa alasan Pak Yusuf
merasa tak nyaman disapa seperti itu. Hubungannya dengan kapal perang apa??
Kalian baca saja sendiri ya, bukunya ;)
Apa yang akan kaulakukan bila
kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis
sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu
dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh
cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau
berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan.
Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom
atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa
berkhianat.
Merasa tawaran yang kedua lebih menarik? Kalau begitu, sila baca
Muslihat Musang Emas terlebih dahulu. Ada 21 cerita pendek yang siap disantap,
lebih banyak 1 cerita dan 25% lebih tebal dari Rumah Kopi Singa Tertawa. Tepat
di halaman ke-100, ada satu cerita teramat pendek, hanya 2 halaman saja.
Judulnya Pengelana Waktu. Tapi memang dasar waktu! Selalu menyimpan misteri,
saya sampai butuh waktu lama mencernanya, walau tak selama membaca cerpen
terpanjang di buku.
Dikisahkan seorang remaja cebol satu-satunya di Desa Jetaksari, hidup
membantu ayahnya mencari kodok di sawah. Pekerjaan yang dikatakan mendatangkan
kutuk, penyebab Jarwo terlahir dengan tubuh seperti hewan buruannya. Hingga ia
bertemu dengan orang-orang cebol lainnya di luar kota, menjadi ‘peliharaan’
perusahaan anggur cap Anggur Orang Tua, menyaksikan kawannya satu per satu
mati, hingga ia punya kehidupan sendiri dan kemudian menikah dan mati
dikisahkan dalam 30 halaman.
Di tengah begitu banyaknya Social
Justice Warrior beredar di dunia nyata dan maya kini, saya merekomendasikan
kalian untuk membaca buku ini. Pahitnya kehidupan serta sisi-sisi gelap manusia
diceritakan dengan bahasa yang begitu sederhana. Saran saya, bacalah buku-buku
ini sebelum tidur, jangan membaca sambil mencuri waktu atau kau akan kehilangan
kesempatan untuk merenung…