Aku tahu kau gemar bermain bola sepak,
tapi itu tak berarti kau boleh mengejarku hanya untuk kau tendang.
Yang kau kejar lagi, kemudian kau tendang lagi.
Yang kau kejar setengah mati,
dan kau tendang walau harus mati.
Tapi bagaimanapun aku bukan benda bundar konyol itu.
Ketika kau menendangku, kau hanya menambah radius jarak antara kau dan aku.
Takkan ku biarkan diriku masuk ke gawang.
Takkan kubiarkan kau memekik kegirangan di atas kekecewaanku.
Ku layangkan diriku di atas tiang gawang.
Ku nikmati tatapan sesalmu sebagai bayaran telah menendangku.
Ku daratkan diriku di dekapan si penjaga gawang.
Ku biarkan air matamu mengalir karna tak menahanku barang sedetik lagi saja.
Namun ternyata benda bundar itu tak lebih konyol dariku.
Tak tahukah kau, ku tak pernah melemparkan diriku keluar lapangan?
Tak tahukah kau, ku berusaha agar diriku tak rusak dan diganti dengan bola yang lain?
Tak sadarkah kau, yang ku inginkan hanya berada di dekatmu?
Meskipun itu hanya supaya kau dapat menendangku lagi.
Dan kau kejar lagi.
Dan kau tendang lagi.
Dan (kuharap) kau kejar lagi...
Wednesday, 5 February 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ungkapan dari kata bola yg seakan penuh dilema..:D
ReplyDeleteEeh jemi, makasih udah mampir :) hehe
DeleteJemi jangan mem'bola'kan wanita yaa ;) :P
Sippp..tenang aja vi..:D
DeleteRusuh dulu aaah. Haha...
ReplyDelete