Monday, 25 May 2020

Sister Fillah, You'll Never Be Alone



Jajan bukunya Mba Kalis kali ini berasa jajan buku dari luar negeri. Saya pesan tanggal 18 April, nyampainya tanggal 13 Mei! Tentu paketnya dibuka secara menggebu-gebu walau ternyata saya tidak termasuk 1000 pemesan pertama sehingga tidak mendapatkan post card :’). Selama masa penantian, saya membaca dua buku Mba Kalis yang terbit tahun lalu (lihat resensinya di sini).

Buku ini memuat dua puluh satu tulisan Kalis Mardiasih bertemakan perempuan. Berbeda dengan Muslimah yang Diperdebatkan yang mengangkat hal-hal trending di media sosial, di Sister Fillah ada beberapa pengalaman perempuan yang dibahas lebih jauh, seperti hak reproduksi dan pendidikan seks. Mba Kalis juga mengutip beberapa ayat Quran, sesuatu yang tidak dilakukannya di dua buku sebelumnya. Mungkin karena penerbit kali ini berbeda, Penerbit Qanita yang masih di bawah PT. Mizan Pustaka, bukannya Buku Mojok selaku penerbit Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Judul Sister Fillah, You’ll never Be Alone membuat saya berekspektasi penulis sedang berbicara kepada pembacanya, yang juga seorang perempuan. Namun gaya penulisan Mba Kalis masih sama dengan yang biasa saya baca di mojok.co, berbicara kepada ulama yang seolah memulikan perempuan, kepada masyarakat patriarki dengan menggunakan kata ganti ‘kami’ (kaum perempuan) alih-alih ‘kita’. Keintiman yang saya harapkan ada di buku ini ternyata tak terbangun sedemikian rupa.

Halaman di buku ini cukup berwarna (dalam arti sebenarnya). Namun sayang, saya kurang menyukai pemilihan warnanya, terlalu mencolok mata, padahal gradasi pink di sampul lembut sekali. Font pada ilutrasi juga beragam.

Di buku ini dapat ditemukan jargon-jargon seperti ‘Perempuan adalah hidup. Perempuan adalah Cinta.’ As a feminist, saya lebih percaya kita (manusia) adalah cinta, bukan hanya perempuan. Ada pula ‘Saya lebih memilih istilah keragaman atau keberagaman daripada menyebut perbedaan’, padahal bukannya kita harus sadar benar dalam menemukan perbedaan baru kita bisa menilai bahwa kita beragam? 

Jika Muslimah yang Diperdebatkan saya nilai ‘membebaskan’ dan menjadi salah satu buku favorit, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone hanya sedikit di atas dari buku pink kumpulan esai media feminis yang saya baca sebelumnya*.


*buku yang saya maksud, ini

Friday, 15 May 2020

Memperdebatkan Muslimah Kemudian Hijrah (Tapi Ga Berani Jauh-jauh, Takut Nyasar!)



Kalis Mardiasih mengumumkan peluncuran buku terbarunya di Bulan April lalu. Saya, yang memang doyan dengan tulisan Mba Kalis bahkan sebelum Mojok sempat mati suri, turut memesan buku tersebut meski gagal paham dengan judulnya, Sister Fillah, You’ll Never Be Alone. Sangka saya 'fillah' itu nama! Berhubung waktu pesannya cukup lama, sekitar dua minggu belum termasuk waktu pengiriman, saya jadi turut mencari buku Mba Kalis yang sebelumnya urung saya baca karna terdengar Islami sekali, Muslimah yang Diperdebatkan dan Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!.

Feminisme, gerakan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan diejawantahkan dengan baik di buku Muslimah yang Diperdebatkan. Teramat baik malah, karena isu-isu feminis yang kerap dipandang bertentangan dengan nilai keagamaan, dijabarkan secara sederhana melalui kegiatan sehari-hari dari sudut pandang Islam. Mba Kalis menyatakan dalam epilog bukunya bahwa Islam hadir lebih nyata di telinga, mata, bahkan aliran darahnya dalam ide feminisme tersebut.

Dogma masyarakat mayoritas dapat dengan mudah saya tepis dengan “saya bukan Islam”, tapi tentu tidak semudah itu untuk para muslimah. Hukum halal-haram sering kali dijatuhkan lebih awal pada mereka ketika berusaha menyuarakan relitasnya. Ya, harus kita akui bahwa tekanan justru datang lebih banyak dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

Kendati tema cerita buku ini tidak seberagam buku mengenai perempuan lainnya yang pernah saya baca, buku ini teramat ‘membebaskan’. Kemuliaan muslimah yang selama ini digambarkan melalui simbol (panjang kerudung misalnya), penyerahan diri (yang mungkin disalahartikan sebagai taat pada suami), laku anggun, dan hal sebangsanya harus dipertanyakan kembali. Apa lagi saat diperhadapkan dengan realitas pengalaman perempuan yang berbeda-beda.

Kalau dilihat dari judul, buku ketiga Mba Kalis terkesan ‘Mojok’ banget, Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar!. Tedengar sedikit nakal tapi banyak akal, ternyata isinya cukup serius jika dibandingkan dengan Muslimah yang Diperdebatkan, tapi ya tetap saja nakal!. Saya menilai buku ini serius karena ada banyak istilah keisalaman dan tokoh-tokoh Islam yang sangat awam bagi saya. Di halaman pertama prolognya saja saya sudah harus mencari arti Lailahailallah Muhamadan Rasullah di laman peramban.

Buku ini terbit di tahun 2019 sebagai repons terhadap fenomena ‘iklan hijrah’ yang marak di berbagai media, termasuk media sosial. Ada lima bab di buku ini: Islam dan Kebaikan Anak-anak, Islam dan Kemanusiaan, Islam dan Akal Sehat, Islam dan Contoh Baik, dan Islam dan Modernitas. Masing-masing berisikan tujuh hingga delapan tulisan pendek yang secara tak langsung mengajak kita untuk berhijrah ke dalam diri.

Kedua buku ini bukan buku perihal hukum-hukum Islam. Saya yang bukan Islam dapat menikmatinya tanpa harus pusing dengan dalil ataupun ayat. Konsep muslimah yang digambarkan pada Muslimah yang Diperdebatkan sangat saya harapkan juga tergambar di perempuan Kristen seperti saya, serta perempuan-perempuan lainnya. Dan apabila suatu saat saya memutuskan untuk memeluk agama Islam, mungkin buku Mba Kalis adalah buku yang akan saya dekap erat agar mampu berhijrah tanpa nyasar haha. Di buku yang sama saya juga belajar untuk memanusiakan manusia, tak seperti konsep agama surgawi yang acap kali digaungkan belakangan ini.