Monday, 11 December 2017

Lima Tahun yang Lalu

"Eh.. kak! Apa kabar?"
Begitu reaksiku ketika bertemu dengan kakak kelasku waktu itu, ketika kita memilih untuk menghabiskan malam bersama.

"Baik. Kalian awet ya?"

Aku hanya menjawabnya dengan tertawa. Kau pun tertawa.
Tapi dari tatapmu, aku tahu, kau tak mengerti.

"Maksudnya apa kita awet?"
Tanyamu ketika si senior sudah melangkahkan kaki-kakinya.

Aku menggeleng.
Berpura bahwa akupun tak mengerti.
Hah... ternyata kau tak sadar.
Kita melangkah bersama di tempat ini lalu bertemu dengannya.
Dan kita pernah melakukannya.
Di saat aku tak berharap kau kan mengisi hari-hariku lima tahun kemudian.

Story of "Travelling alone: Singapore!"

I'm an introvert yet admit that without people this life will be sucks yet people sucks more haha. This is about the unexpected persons who I met when I was in Singapore. Like it or not, these people did color my days there.

The first stranger I met succeed frightened me about being alone in a country of others. Thought he's a Malaysian but it turns out he's an Indian (he's white!). He said hello in Batam Center and sat next to me on the ferry. Scared me when he asked whether I do exercise or not because I look slim then started to seduce me by saying I like your eyes, you're beautiful, and bla bla. Thank God I through the immigration before him so I took quick steps and drown myself between racks in the very first store I met.

The next day, on my way to Little India, someone stopped me in front of a mall and asked me to fulfill a survey. I wanted to laugh, also wondered what world was trying to show me since the survey is about "The Mother God". The day before, someone posted a video on his instagram story, asking when I will move to Islam. Maybe the world wants to tease my determination to be an agnostic hahaha. Ah, this Mother God is a church who believes that if we have Heavenly Father then we should have a Heavenly Mother too. Cute, isn't it? The lady asked how long I will be in Singapore, when I will leave, and for sure, do I have time tomorrow to join the class and learn about The Mother God. My answer is no of course.

After strolling around Little India, I went to Bugis St., looking for City Tours, the travel agent that holds my night tour. I booked it online so I have to go to their office first. Pity me because no City Tours in Bugis on Google maps (yes, I rely myself on that thing while in Singapore) (that's why I survived). You know how tiring it is when you have to stroll around in a massive area yet you can't enjoy it because you're looking for something. Mbak. Someone smiled at me when he passed. I smiled back and became happy. Happy because I feel like I'm not alone. There is someone who knows that I'm his sister from the same motherland. That happiness lasts until I checked in to another hotel for that night. I was about to take a shower when a group coming in. Had shower then realize they are citizen of Pontianak too. Damn! Started to hate people again. I mean, why do I have to meet someone who has big chance I will meet again? Or perhaps an acquaintance of one of my friend? Can't I just be with a real stranger?? In fact, I was wearing a dress without bra, something that I won't do if I were in Pontianak. Oh geez! If someday one of you (Galaxy Pod's Indonesian guesses on December 1st, 2017) read this, please take my apology for being indifferent. I did it on purpose. I didn't want to ruin my vacation. You all won't, for sure, it's just me. I emphasize here, I hate people.

It almost midnight when I met another stranger. I was walking on the riverside, heading (and looking) for 1 Altitude, a rooftop bar. He said that he went back and forth near me to get my attention which failed because I put my focus on my Google maps. He offered me a drink, can't, wanna go to a bar with a rooftop view, asked to join me, yes, you may. But, surprise!, the queue for 1 Altitude was long. Looooong. So instead of waiting in a long line, I went with him to the nearest bar. He is a Japanese, works for an international bank, ever went to 30 something countries including Indonesia. Do you ever live outside Indonesia? Your english is good. Such a relieve heard him said so because it's hard for me to understand english spoken by the Chinese (except Xiaoran, the woman who introduced me to The Mother God) and Indian there. He is a nice person :) someone who makes me have a real talk when I was in Singapore.

Then, on my last day in Singapore, I met an Indonesian. I was wandering in Harbourfront then a guy approached ATM di mana ya? Another man recognize I'm Indonesian! He is from Batam, work in Singapore. Though we have the same mother language and had breakfast together, I don't think I had a real talk that morning. I was really tired. Even he offered me his shoulder when we're on boat, said kepala kamu terombang-ambing hahaha made me wonder am I that helpless when sleeping cause the Indian guy offered me the same.

As conclusion,
I (still) hate people.
No, I don't hate you.
It's people.
Thank you to you all, by the way.
And to You too for sure :)
Cheers!


Friday, 8 December 2017

Travelling Alone: Singapore!

Begitu mendengar akan ditugaskan ke Batam tanggal 28 - 30 November, serta merta saya turut menyiapkan rencana liburan ke Singapura *aji mumpung* hehe


Kamis siang acara kelar, langsung cus ke sebuah hostel murah di daerah Pasir Panas untuk menginapkan printer, laptop, dan pakaian kotor (Rp 50.000/malam) kemudian lanjut ke pelabuhan Batam Center, menukar uang IDR dengan SGD, beli tiket PP kapal Majestic (Rp 360.000). Ini merupakan harga promo (normal berkisar 450-500rb) dengan tiket pulang yang berlaku hingga 3 bulan ke depan, bebas kapan pulang. Nyesuain arloji dengan jam Singapur (lebih cepat 1 jam-an). Nunggu jam keberangkatan, ngisi disembarkation-embarkation card, liat2 toko bebas pajak di sekitaran boarding room. Disembarkation-embarkation card adalah kartu keluar/masuk negara lain. Selain identitas umum biasa juga tercantum berapa lama kita akan berada di negara tersebut dan alamat selama di sana. Hal ini penting agar negara tersebut tahu kalau kita punya tujuan yang jelas dan ga bakal lontang-lantung atau 'mencemari' negara mereka.



Passport, disembarkation-embarkation card, boarding pass


Tiba di Harbourfront. Beli SIM card di counter terdekat arrival gate, 1 GB untuk 7 hari $17 (masih sisa 800an MB. yaiks!). Kalau mau murah, silahkan cari counter di pinggir2 jalan di daerah Chinatown / Little India / Bugis. Dari cerita teman, dengan $5 sudah dapat 500 MB di sana. Nyinggah dulu ke VivoCity buat window shopping sampai dua jam terbuang tapi ga berasa. Balik lagi ke Harbourfront, beli ezLink card, kartu untuk naik transportasi publik di Singapur, $12 dapat saldo $7. Kita juga bisa membeli tiket per satu tujuan atau membayar langsung ke supir saat naik bus, namun harganya akan lebih mahal sekitar 2x lipat daripada menggunakan e-money. Naik MRT ini gampang, turunnya yang (menurut saya) rada bingung. Misal ingin ke Bugis dari Harbourfront, tinggal naik MRT North East Line (warna ungu) di Harbourfront kemudian turun di Outram Park, pindah MRT East West Line (hijau) tujuan Pasir Ris, turun di stasiun Bugis. Yang bikin bingung adalah pintu keluarnya. Ketika sampai di stasiun tujuan, bisa terdapat hingga 7 alternatif pintu keluar. Tentu saja semuanya dilengkapi dengan papan pengarah yang jelas, tapi kalau tidak tahu pintu keluar mana yang terdekat dengan tujuan kita, yaa selamat berjalan kaki ekstra!


My ezLink card


Singapore MRT map
Sumber gambar: https://mothership.sg/2017/05/here-are-the-real-distances-of-mrt-lines-compared-to-mrt-map/


Tiba di Shophouse Hostel pukul 10an. Resepsionisnya tidak 24 jam, kunci saya diletakkan di kotak dekat pintu masuk (sudah booking online sebelumnya). Mandi kemudian ke Sevel terdekat untuk membeli adapter stop kontak dan makan malam. FYI, stop kontak di Singapura itu yang kaki 3 dan pipih, jadi colokan dengan 2 kaki dan bulat seperti di Indonesia tidak bisa digunakan. Kelar makan keliling bentar di sekitar Arab St (ternyata isinya kebanyakan bar pas malam!), tidur.


On the bunk bed in Shophouse Hostel, Singapore

Jika berencana menginap di Shophouse Hostel, sebaiknya bawa sandal untuk digunakan di kamar & kamar mandi. Saya sih waktu itu nyeker aja, selalu ambil langkah seribu ketika masuk kamar karna lantainya dingin banget! Kamarnya bersih, loker ada di sebelah ranjang, free wifi, ada tempat setrika, sarapannya di rooftop (lt. 5). Lantai bawah Shophouse Hostel dimanfaatkan sebagai café. Yang menginap dapat rabat 20%, tapi tetap saja pricey menurut saya.



Shophouse Hostel 5th floor, Singapore


Kelar sarapan, mandi, check out, jalan-jalan di sekitar Bugis - Little India, malamnya ikut night tour keliling dengan bus dan berhenti di Clarke Quay kemudian check in di Galaxy Pods, Chinatown. Hanya di Bugis saya merasa $1 berarti karena ada jus yang dijual dengan harga segitu. Sebotol air kemasan kecil di Sevel harganya lebih dari itu. Jika bertandang ke Singapura pada masa natal, masukkanlah Orchard Rd dalam list tujuan wisata. Deretan mal di kiri kanan jalan didekorasi dengan ribuan lampu dan dimeriahkan beberapa pertujukan atraksi.



Bugis Food Street, Singapore


Clarke Quay, Singapore


One of the Christmas decorations on Orchard Road, Singapore


Souvenir shop in Chinatown, Singapore


Di Chinatown nyobain jajanan pasar bakpao dan bak kwa. Kepo aja, Chinese Pontianak atau Chinese Singapura yang lebih jago bikin penganan enak haha. Bagi yang makan babi, bak kwa cocok dijadikan oleh-oleh. Bak kwa itu mirip dendeng tapi dari daging babi. Soal rasa, saya lebih suka jajan di Gajahmada Pontianak 😆. Btw, di Chinatown ada Tintin Shop. Bagi penggemar Tintin wajib ke sini nih. Di depan tokonya ada tv yang nampilin film Tintin.



The Tintin Shop, Chinatown, Singapore



Singapura kota yang aman jika ingin melancong sendirian. Dari info pemandu night tour, tingkat kejahatan di Singapura hanya 2%. Buktinya saya tetap utuh walau jalan-jalan sendirian hingga lewat dari pukul 03:00 dini hari, menyusuri Singapore River hingga ke Gardens by the Bay. Jika ingin foto-foto tanpa 'bocor', jalan tengah malam sangat disarankan dengan konsekuensi akan kehilangan atraksi menarik. Saya saja tidak sempat melihat air muncrat dari mulut singa Merlion :'



Merlion Statue, Singapore


Helix Bridge & Marina Bay Sands, Singapore


The phenomenal artificial tree, Gardens by the Bay, Singapore


Night view from Dragonfly Bridge, Singapore


Pulang ke penginapan, menempuh kurleb 30 menit jalan kaki. Galaxy Pods menyajikan pengalaman menginap berbeda. Setiap kapsul mempunyai sistem tata udara dan cahaya masing-masing, jadi tidak perlu takut bakal pengap atau gelap. Ada ukuran single dan double bed. Selain tertutup, saya betah berlama-lama di dalam kapsul karna ada cermin 😁. Kapsul ini tidak kedap suara kok, jadi kalau kenapa2 di dalam, teriak aja, yang di luar pasti dengar. Common room di Galaxy Pods juga comfy. Nilai plus-nya lagi, amat bersih! Tak hanya ada roti, disediakan pula sereal saset, biskuit, dan telur rebus untuk sarapan.



Galaxy Pods, Chinatown, Singapore


Esok bangun dengan tujuan: Gardens by the Bay dan Cable Car di Mount Faber. Tidak tahu Gardens by the Bay begitu luas dan dapat dinikmati tanpa membeli tiket, jadilah saya menyiapkan tiket masuk senilai $28 dari jauh hari. Tiket ini digunakan untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. It's mesmerizing! Sayang saya menikmatinya dengan kaki terus melangkah sebab diburu waktu. Jika ada kesempatan berikutnya (amiiiinn), seharian penuh didedikasikan untuk tempat ini!



First view entering the Flower Dome


Liat persegi hitam dalam setiap panel pada gambar di atas? Di layar itu ditampilkan video proses tiap-tiap bunga dari kuncup hingga mekar. Flower Dome didominasi dengan hiasan natal (membuat saya ingin pergi lagi saat musim semi). Salut untuk Grant Associates, konseptor lanskap ikon Singapura ini. Salut akan tata udaranya, bagaimana mereka mengatur temperatur agar nyaman bagi pengunjung dan baik bagi tanaman di sana (FYI, tanamannya endemik Australia, Amerika, Mediterania, dll). Salut akan pola sirkulasinya, walau di beberapa titik harus ada petugas yang mengarahkan. Salut pada petugas di sana karna mereka nyiram tanamannya manual! Eh tidak tahu juga sih, bisa jadi sudah ada kontrol debit air sebelumnya. Tapi tentu berkat tangan mereka semua dekorasi terpasang, kan?



Christmas in the air! - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


The scariest Alice I've ever met - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


La Famille de voyageurs (a travelling family) - Flower Dome, Gardens by the Bay, Singapore


Cloud Forest, Gardens by the Bay, Singapore



Terdapat 6 lantai dengan wahana berbeda di balik air terjun dalam kubah Cloud Forest. Dibantu petugas yang mengarahkan, rute perjalanan dalam kubah: entrance - naik lift menuju lantai 6 - jalan naik menuju the lost world - jalan turun ke tiap level. Masuk Cloud Forest bikin berandai jalan tidak sendirian, bakal ada yang digandeng saat meniti cloud walk dan treetop walk (yes, ku rada ngeri di ketinggian), bakal ada yang ngangetin karna Cloud Forest dingin banget 😭. Di the lost world ada kolam koin-koin lemparan. Tak jelas apa tujuannya, di sekitar tak ada papan keterangan. Bila ga ada orang, udah kupunguti mungkin tu koin-koin buat jajan. Di level-level bawah ada semacam museum modern menginformasikan kondisi 'sakit'nya bumi saat ini dan sistem ramah lingkungan pada Gardens by the Bay. Menuju pintu keluar, secret garden memampang anggrek dengan ukuran super mini. Kaca pembesar dipasang di hadapan anggrek-anggrek untuk memudahkan kita menikmati cantiknya bunga tersebut.


The Lost World, Gardens by the Bay, Singapore

Thrown coins, Gardens by the Bay, Singapore

Secret Garden, Gardens by the Bay, Singapore


Perjalanan lanjut dengan bus menuju Marina Square, tukar bus tujuan Mount Faber. Saya menaiki bus wisata, bukan bus kota. Rutenya ada di brosur dari travel, lengkap dengan tempat dan waktu pemberhentian. Naik bus lebih menyenangkan karna bisa sambil liat kota Singapur, lebih hemat langkah juga dibanding naik MRT. Di Mount Faber saya ngalor ngidul ngetan ngulon nungguin matahari agak turun sedikit supaya dapat pemandangan kemerahan Singapur. 


Waiting for twilight in Mount Faber, Singapore

Twilight from cable car, Singapore

Nyampai di Sentosa cuma beli buah potong karna kaki udah ga sanggup jalan jauh. Turun di Harbourfront, isi ulang ezLink card padahal masih sisa $3 kurang sikit tapi scannernya ga mau nerima (minimal top up $10), naik MRT balik ke Chinatown buat ngambil barang, cus Harbourfront lagi, tidur di pelabuhan, naik feri paling pagi ke Batam.........

Thursday, 23 November 2017

Akibat Isi Rak Bagian Arsitektur di Toko Buku Itu-itu Saja



Tak hanya badan yang panas akibat ulah matahari bedengkang, hati arsitek-arsitek Pontianak jadi ikutan panas gara-gara ulah Bang Midji Tribun berita di Tribun mengenai opini Sutarmidji. Kita tidak usah menyalahkan oknum, salahkan beritanya saja, bisa-bisanya dia beredar begitu saja di dunia maya. Eh apa salahkan yang baca saja ya? Hohohohoho

Sebenarnya sih Bang Midji Tribun Si Berita tak salah bilang ‘Pontianak tak miliki arsitek imajinatif’ jika yang dimaksud dengan imajinatif merujuk pada desain-desain ala Zaha Hadid. Nyata bahwa di Pontianak tidak ada bangunan yang meliuk-meliuk seperti itu. Mungkin ini akibat jika rak-rak bagian arsitektur di toko buku hanya dipenuhi dengan buku-buku seperti Ragam Desain Fasad Rumah Minimalis, Ide Rumah di Lahan 70 – 120 m2, Inspirasi Desain Taman Kontemporer,  dan kawan-kawannya sehingga banyak orang awam berpikiran bahwa menjadi arsitek hanya semudah membalikkan telapak tangan, yang penting ide, yang penting imajinasi. Parahnya lagi, imajinasi hanya dikotakkan pada langgam tertentu, menyebabkan orang-orang yang mengedepankan moto less is more ingin tidak menjadi warga Pontianak saja :'

Terselip pula kalimat Selama ini ia melihat, apa yang dibangun tidak ada istimewanya dari segi arsitektur. Padahal mereka diberi kebebasan dalam berimajinasi. Waahh.... padahal semua bangunan yang lahir dari tangan arsitek itu istimewa. Seorang arsitek akan memikirkan fungsi bangunan, kondisi lingkungan sekitar bangunan tersebut akan dibangun (tanah, air, api, udara, eh maksudnya kondisi fisik tanah, arah matahari, pergerakan angin, dll), hingga psikologi bakal penghuni bangunan. Jika salah satu bagian dari elemen tersebut berubah, tentu akan berubah pula hasil rancangannya.

Gampangnya, coba bayangkan rumah panjang Dayak dan rumah Melayu. Walau berada di bawah langit yang sama, masyarakat kedua suku tersebut memenuhi kebutuhan akan tempat berlindung mereka dengan bentuk bangunan yang berbeda akibat adanya perbedaan filosofi hidup. Dan jangan harapkan kita bisa melihat bentuk bangunan seperti ini di Mesir yang kondisi alamnya jauh berbeda.

Arsitek ada sebagai respons atas kebutuhan ruang. Jika ada kebutuhan akan tampak ataupun bentuk bangunan yang "imajnatif", tentu arsitek akan menjawab kebutuhan tersebut.

Eh ini kok saya malah memberi penjelasan serius ya, padahal awalnya hanya ingin curhat :'

Ah, sudahlah, biarkan saja Si Berita jadi masalah arsitek-arsitek Pontianak. Saya ingin tidur saja, bermimpi dengan imajinasi-imajinasi saya sendiri.

Sunday, 17 September 2017

Pacar Pahlawan

Kemarin, akun iwashere.id di twitter membuat sebuah cuitan yang (menurut saya) menarik.

Saya bukan pecinta sejarah. Saya benci jika harus mengingat tanggal setiap kejadian dalam buku sejarah, mengingat setiap rinci kejadiannya. Opini saya, sejarah itu cukup diambil hikmahnya saja. Apa lagi notabene yang diceritakan dalam buku-buku pelajaran sejarah masih ada yang diragukan kebenarannya. *upsss
Tapi mengenal tokoh serta hal yang dilakukannya dan membuatnya tersohor tentu menarik. Saya yang minim pengetahuan tentang pahlawan-pahlawan nasional jadi kepo karna cuitan tersebut.


Baru tahu deh kalau Bung Hatta ngelamar istrinya pakai buku. Saya googling dengan kata kunci 'hatta lamar istri buku' dan tidak menumukan cerita yang relevan. Kalau ada yang tahu cerita ini, bagi-bagi ke saya ya :)


Sutan Sjahrir disejajarkan dengan Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka oleh Tempo sebagai Empat Serangkai Pendiri Republik. Yang saya tahu, Sutan Sjahrir ini merupakan pejuang yang mengedepankan diplomasi. Barangkali hal tersebut yang membuat Minski berpendapat Beliau merupakan pria supel.


Pertama kali engah kalau Pierre Tendean itu ganteng gara-gara baca bukunya Ayu Utami, Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita. Jelas tampan karna masih ada darah Prancis dalam diri Pierre Tendean. Beliau merupakan salah satu korban Gerakan 30 September, padahal seharusnya sih Pak Jenderal Nasution yang ditangkap dan masuk ke Lubang Buaya.


Ismail Marzuki ini yang menciptakan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Udah, ini aja yang saya tahu. Maaf ya, Pak Ismail :'



Dokter yang hobi politik ya Tjipto Mangoenkoesoemo. Sepertinya Beliau masuk ke dalam daftar pahlawan nasional karena kiprah di dunia politik dan bukannya kedokteran. Tapi kalau mau jadi pacar Tjipto Mangoenkoesoemo mungkin nggak terjamin amat lah ya kesejahteraannya, soalnya Beliau hobi keluar masuk kampung (menurut Wikipedia lah).


Kalau berbicara tentang Tan Malaka, saya bisa agak sedikit panjang hehee. Maklum, fans Tan Malaka rata-rata merupakan fans garis keras. Dipancing sedikit saja, banyak cerita yang bisa mereka bagikan ke saya. Terlebih lagi Tan Malaka banyak menuangkan pemikirannya dalam tulisan, sehingga dari dalam kubur suara Beliau lebih keras daripada di atas Bumi.
Selain kalimat barusan, kata-kata Beliau yang saya suka ialah:
Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.
Bila kamu muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!
Susah pastinya untuk menjadi kekasih Tan Malaka. Ia terkenal sebagai tokoh yang berhasil melakukan penyamaran di sejumlah negara selama 20 tahun (tempo.co). Mana tahan terpisah selama 20 tahun tanpa kabar. Ran aja sering mewek karena ga dapat kabar dari Shinichi. *eeh udah mulai keluar topik

Konon katanya, Dewi Sartika merupakan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Beliau mendirikan Sekolah Isteri di Bandung pada tahun 1904 dan terus berkembang hingga menjadi satu sekolah tiap kota dan kabupaten di Jawa Barat pada 1920.


Bung Tomo (Soetomo) merupakan salah satu tokoh yang menggerakkan rakyat Surabaya melawan penjajah pada pertempuran 10 November yang kini diperingati sebagai hari pahlawan. Coba saja ketik "bung tomo" pada peramban, gambar yang muncul pasti mengilustrasikan Bung Tomo yang tengah berdiri dan mengacungkan tangannya dengan mata nanar. Pantas saja Minski menganggap Beliau gagah. Bung Tomo pernah dipenjara pada masa Orde Baru karena kritiknya pada penguasa jaman itu. Menurut Wikipedia, selepas dari penjara itulah suara Bung Tomo tak lantang terdengar lagi.


Nama lengkap Beliau, Yosaphat Soedarso. Selayaknya impian pelaut (atau mungkin hanya bajak laut yang memimpikan ini), Yos Soedarso meninggal di laut dalam Pertempuran Laut Aru pada usia sedang tampan-tampannya, 36 tahun.


Mbak @asamsianida mengidamkan Agus Salim karena diceritakan ketika Beliau masih muda, Beliau pernah bertanya kepada seorang ulama: apakah Adam dan Hawa memiliki pusar? Ulama itu menjawab: ada, karena mereka juga manusia. Kemudian Agus Salim menimpal, "Kalau punya pusar, sebagaimana halnya kita itu tandanya mereka dilahirkan oleh seorang ibu." Orang-orang dengan sudut pandang seperti ini memang menggoda untuk dipacari ya, Kak Nidos?


Saya angkat topi untuk perempuan satu ini, Siti Manggopoh. Beliau ikut 'turun lapangan' dalam perang untuk melepaskan tahanan Indonesia yang dikenal dengan nama Perang Belasting, padahal saat itu Beliau masih menyusui anaknya. Beliau juga turut membawa anaknya dalam upaya pelarian diri ke hutan sebelum akhirnya tertangkap dan dipenjara.


Perempuan yang ini juga nggak kalah pemberani. Keumalahayati, putri kesultanan Aceh, terlibat perang melawan armada Belanda dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman dengan rencongnya. Saya perjelas ya, Malahayati menumbangkan 'pedagang Belanda' tersebut dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal dengan rencongnya. Saat itu, Beliau memimpin armada Inong Balee, pasukan yang awalnya terbentuk dari janda-janda pahlawan.


Total ada 12 tokoh yang disebut dalam cuitan-cuitan ngeyel jadi pacar pahlawan ini. Saya pribadi mungkin akan memilih Ali Anyang. Alasannya sederhana, biar ga perlu LDR-an hahaha. Kalau kamu kira-kira mau jadi pacar siapa?

Monday, 19 June 2017

Please Stay

I've been thanking for your existing. All that I ask now is you to stay with me.
.
I know I'm hard to be dealt with. I'm noisy over small things but in silent I stay when I'm nervous. I don't know how to do small talk. I speak sarcasm and harsh yet I'm also fragile and soft at the same time. I overthink about future. I have panic attacks. I walk out, even push you away when I'm mad. I'm an independent and strong one yet clingy and like to cry every time I feel blue.
Oh, see how many the 'I' words I used? I'm sorry for not sorry being a selfish.
.
I know I'm hard to be with.
.
But stay, please.
.
.
.
I beg.