Wednesday, 19 February 2014

Terima Kasih Atas Sapaanmu Sore Ini

"Vilda. . . vilda...."
Aku menoleh dan mendapatkanmu sebagai sumber suara.
Kau, yang sedang duduk di kursi dan memandang ke arahku.
Maaf jika aku membuatmu harus menahan senyum sedikit lebih lama.
Bukannya aku lupa akan dirimu...
Hanya saja, aku butuh waktu sedetik lebih banyak untuk percaya kalau memang kau yang menegurku.
Apalagi kau mengingat namaku.
Meneriakkannya dari seberang lapangan pula...

Ah, sudah lama aku tak melihat senyummu.
Siomay Bandung, waktu aku masih kelas 2 SMA.
Itu terakhir kali aku melihat senyummu sebagai balasan atas sapaanku.
Beberapa kali kita bertemu setelahnya... dalam keadaan yang membuatku canggung.
Aku tak berharap kau kan menegurku.
Tapi, ayolah... masak kan tersenyum dapat memberatkanmu?

Bisa jadi itu yang membuat sapaanmu hari ini terasa spesial bagiku.
Asal kamu tahu, aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Oh, kecuali saat seseorang hampir menabrak dan memakiku! padahal dia yang melanggar lampu merah.
Tapi dengan segera aku memutuskan untuk mengingat sapaanmu kembali.
Dan dengan segera pula aku tersenyum kembali, bahkan hingga saat ini. :)

Kau tahu? Aku mengagumimu... sedari dulu.
Kau satu-satunya yang tak marah ketika ku lupa.
Kau ingat ketika kau bertanya padaku guna memastikan aku tak lupa?
Kau tersenyum... saat aku melontarkan jawaban yang benar.
Seingatku itu pertama kalinya kau menyunggingkan bibirmu, yang memang kau tujukan kepadaku.
Oh, maaf... aku telah bergede rasa.
Bisa jadi itu hanya senyum yang kau tujukan untuk dirimu sendiri atas keberhasilan membuatku tak lupa.

Semoga kau tak mendapat masalah atas tulisanku ini.
Aku hanya sesorang yang tak dengan mudah melupakan kebaikanmu.
Terima kasih atas sapaanmu sore ini.
Ku harap kau kan selalu sehat dan bahagia. :D

. . . . Oh ya, tersenyumlah ketika kita bertemu lagi nanti~

Tuesday, 18 February 2014

Tak Cukupkah?

Apa dia tak cukup cantik bagimu
. . . hingga kau masih mendekatiku?

Apa dia tak cukup lembut bagimu
. . . hingga kau masih membelaiku?

Apa dia tak cukup kuat bagimu
. . . hingga kau masih bersandar padaku?

Apa dia tak cukup hangat bagimu
. . . hingga kau masih mendekapku?

APA DIA TAK CUKUP BAGIMU HINGGA KAU MASIH MENGINGINKANKU?!!
Lalu . . . apa aku tak cukup bagimu hingga kau tak kunjung melepas dirinya??

Friday, 14 February 2014

Kegagalan (katanya) Hanya Keberhasilan yang Tertunda

"Kegagalan hanya keberhasilan yang tertunda"

Omong kosong!
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal menghalangi kematian adikmu?*
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal menjaga keperawananmu?**
Keberhasilan apa yang tertunda ketika kau gagal mempertahankan rumah tanggamu?***

Aku gagal menutupi basah di pelupuk mataku.
Aku gagal menahan gemetar di tanganku.
Aku gagal menjaga otakku untuk tetap rasional.

Jika suatu saat nanti kau datang padaku kembali.
Membawa cinta yang hanya bisa menyakiti.
Akankah ku berhasil untuk tetap berpikir rasional?
Akankah ku berhasil untuk tak memecahkan gelas walau tubuhku bergetar?
Haruskah ku berhasil... tuk menahan air mata ini?


*Kematian memang misteri, dan kalau udah bicara takdir, manusia cuma bisa angkat tangan. Tapi beberapa hari yg lalu saya nonton film Step Up (yg pertama). Apa pernah kamu disuruh ngejagain adikmu tapi kamu malah lalai sehingga memberi kesempatan adikmu melakukan sesuatu yg dapat menyebabkan ia celaka? Itu sama halnya dengan kelahiran yang terjadi ketika kamu memutuskan untuk tetap berhubungan suami istri padahal di rumah lagi nggak ada kondom.

**Mungkin hal ini bisa jadi nggak masalah kalau kamu menganggap operasi keperawanan merupakan sebuah solusi.

***Dalam kepercayaan yang saya anut, pernikahan yang telah dilakukan atas nama Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia (hanya ketika kematian menjemput pasanganmu, kamu boleh menikah lagi). Saya benar-benar nggak kepikiran apa hal baik yang terjadi ketika saya (dan pasangan saya) gagal menjaga kasih dalam rumah tangga, yang mengakibatkan pasangan saya mempunyai 'simpanan' dan bahkan mendapat 'buah' dari hubungan yang dijalani.

untuk Kakak yang selalu ku kangenin

Kak, kakak apa kabar?
Kakak lagi di mana sekarang?
Vilda kangen kakak.....

Iya, vilda tau kok kita baru aja ketemu
Tapi vilda kangen.....

Nggak, vilda nggak minta kakak balik lagi kok.
Kangen vilda ke kakak udah lama, kak.
Waktu kita makan sama-sama vilda kangen kakak.
Waktu kita jalan bareng juga vilda masih kangen kakak.

Apa yang salah ya, kak?
Kenapa vilda masih kangen kakak walaupun kakak ada di depan vilda?

Monday, 10 February 2014

Kamu Lintah!

KAMU ITU LINTAH! yang doyannya menghisap darah
Tapi justru karena itu aku perlu kamu.. untuk menghisap darahku
Salahku, memang, lebih memilihmu daripada alat penghisap darah lainnya
Karna kau makhluk tak tau diuntung
Kau menyedot darahku dengan penuh nafsu
Terpaksa aku mengusirmu yang membawa serta cabikan kulitku.

Ku abaikan lukaku. Ku lupakan sakitku. Aku perlu kamu.
Tapi DASAR KAU LINTAH!
Kau benar-benar makhluk tak tau diuntung
Ku beri kau kesempatan mencicipi darah segar
Tapi kau malah menggerayangi tubuhku dan menghisap darah dari tiap inchi-nya
Aku meringis. Kau tak peduli.

Sakitku sembuh. Lukaku memudar. Aku kembali mencarimu.
Bodohnya aku percaya kau bisa kenyang
Tololnya aku berharap kau bisa bosan
Ku tempelkan lagi dirimu ke tubuhku
Ku rasakan sakit mendalam yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Ternyata kau bukan lagi lintah
KAU ULAR! yang menancapkan taringmu dan menyebarkan racun ke tubuhku.

Thursday, 6 February 2014

Kehidupan Sesudah Mati

Kehidupan sesudah mati
Keberadaanya masih misteri
Dikatakan berbeda dg bumi yg penuh penghuni.
Sungguh senang mendengar teori
Mengetahui ku kan tetap berdiri
Walau tanpa urat nadi.
Pantaskah ku percaya pada mitos ini?

Tapi tetap saja
Tubuhku terlanjur tumbuh dalam cinta
Walau tiap hari bermandi air mata.
Tak inginku menjatuhkan diri dari atas menara
Atau membiarkan lidah terbakar racun serangga.
Tak mampu ku menodongkan pistol ke kepala
Atau menghujam pisau tepat di dada.

Kenapa kau harus pergi?

Benarkah kau tak kembali?
Mungkinkah kita kan bertemu suatu saat nanti?
Pada yang keberadaannya masih misteri.
Di kehidupan sesudah mati.

Wednesday, 5 February 2014

Bola (di)Sepak

Aku tahu kau gemar bermain bola sepak,
tapi itu tak berarti kau boleh mengejarku hanya untuk kau tendang.
Yang kau kejar lagi, kemudian kau tendang lagi.
Yang kau kejar setengah mati,
dan kau tendang walau harus mati.

Tapi bagaimanapun aku bukan benda bundar konyol itu.
Ketika kau menendangku, kau hanya menambah radius jarak antara kau dan aku.
Takkan ku biarkan diriku masuk ke gawang.
Takkan kubiarkan kau memekik kegirangan di atas kekecewaanku.
Ku layangkan diriku di atas tiang gawang.
Ku nikmati tatapan sesalmu sebagai bayaran telah menendangku.
Ku daratkan diriku di dekapan si penjaga gawang.
Ku biarkan air matamu mengalir karna tak menahanku barang sedetik lagi saja.

Namun ternyata benda bundar itu tak lebih konyol dariku.
Tak tahukah kau, ku tak pernah melemparkan diriku keluar lapangan?
Tak tahukah kau, ku berusaha agar diriku tak rusak dan diganti dengan bola yang lain?
Tak sadarkah kau, yang ku inginkan hanya berada di dekatmu?
Meskipun itu hanya supaya kau dapat menendangku lagi.
Dan kau kejar lagi.
Dan kau tendang lagi.
Dan (kuharap) kau kejar lagi...

Tuesday, 4 February 2014

"Tidur"

"Tidur," ucapmu.
Dengan entengnya kau menyuruhku tidur padahal kau masih menjelajah.

Aku tertawa.
Ku tahu kau tak bermaksud menyuruhku tidur.
Itu hanya kata yg kau pilih untuk menyapaku.
(benarkah?)

Percakapan berlanjut.
Hingga salah satu dari kita tak mampu tuk menjaga mata tetap fokus.
Atau fajar tlah menyadarkan kita,
bahwa sudah saatnya tuk memulai rutinitas pagi hari.

Ku tak ingat siapa yg memulai duluan.
Tapi kini ku terbiasa tuk berharap.
Kan melihatmu muncul bersimbol titik hijau.
Dan sering ku terpaku gelisah
Menatap titik itu mengharap kau kan menyapaku.
Walau dengan "Tidur"-mu itu.