"Vilda. . . vilda...."
Aku menoleh dan mendapatkanmu sebagai sumber suara.
Kau, yang sedang duduk di kursi dan memandang ke arahku.
Maaf jika aku membuatmu harus menahan senyum sedikit lebih lama.
Bukannya aku lupa akan dirimu...
Hanya saja, aku butuh waktu sedetik lebih banyak untuk percaya kalau memang kau yang menegurku.
Apalagi kau mengingat namaku.
Meneriakkannya dari seberang lapangan pula...
Ah, sudah lama aku tak melihat senyummu.
Siomay Bandung, waktu aku masih kelas 2 SMA.
Itu terakhir kali aku melihat senyummu sebagai balasan atas sapaanku.
Beberapa kali kita bertemu setelahnya... dalam keadaan yang membuatku canggung.
Aku tak berharap kau kan menegurku.
Tapi, ayolah... masak kan tersenyum dapat memberatkanmu?
Bisa jadi itu yang membuat sapaanmu hari ini terasa spesial bagiku.
Asal kamu tahu, aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Oh, kecuali saat seseorang hampir menabrak dan memakiku! padahal dia yang melanggar lampu merah.
Tapi dengan segera aku memutuskan untuk mengingat sapaanmu kembali.
Dan dengan segera pula aku tersenyum kembali, bahkan hingga saat ini. :)
Kau tahu? Aku mengagumimu... sedari dulu.
Kau satu-satunya yang tak marah ketika ku lupa.
Kau ingat ketika kau bertanya padaku guna memastikan aku tak lupa?
Kau tersenyum... saat aku melontarkan jawaban yang benar.
Seingatku itu pertama kalinya kau menyunggingkan bibirmu, yang memang kau tujukan kepadaku.
Oh, maaf... aku telah bergede rasa.
Bisa jadi itu hanya senyum yang kau tujukan untuk dirimu sendiri atas keberhasilan membuatku tak lupa.
Semoga kau tak mendapat masalah atas tulisanku ini.
Aku hanya sesorang yang tak dengan mudah melupakan kebaikanmu.
Terima kasih atas sapaanmu sore ini.
Ku harap kau kan selalu sehat dan bahagia. :D
. . . . Oh ya, tersenyumlah ketika kita bertemu lagi nanti~
Aku menoleh dan mendapatkanmu sebagai sumber suara.
Kau, yang sedang duduk di kursi dan memandang ke arahku.
Maaf jika aku membuatmu harus menahan senyum sedikit lebih lama.
Bukannya aku lupa akan dirimu...
Hanya saja, aku butuh waktu sedetik lebih banyak untuk percaya kalau memang kau yang menegurku.
Apalagi kau mengingat namaku.
Meneriakkannya dari seberang lapangan pula...
Ah, sudah lama aku tak melihat senyummu.
Siomay Bandung, waktu aku masih kelas 2 SMA.
Itu terakhir kali aku melihat senyummu sebagai balasan atas sapaanku.
Beberapa kali kita bertemu setelahnya... dalam keadaan yang membuatku canggung.
Aku tak berharap kau kan menegurku.
Tapi, ayolah... masak kan tersenyum dapat memberatkanmu?
Bisa jadi itu yang membuat sapaanmu hari ini terasa spesial bagiku.
Asal kamu tahu, aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Oh, kecuali saat seseorang hampir menabrak dan memakiku! padahal dia yang melanggar lampu merah.
Tapi dengan segera aku memutuskan untuk mengingat sapaanmu kembali.
Dan dengan segera pula aku tersenyum kembali, bahkan hingga saat ini. :)
Kau tahu? Aku mengagumimu... sedari dulu.
Kau satu-satunya yang tak marah ketika ku lupa.
Kau ingat ketika kau bertanya padaku guna memastikan aku tak lupa?
Kau tersenyum... saat aku melontarkan jawaban yang benar.
Seingatku itu pertama kalinya kau menyunggingkan bibirmu, yang memang kau tujukan kepadaku.
Oh, maaf... aku telah bergede rasa.
Bisa jadi itu hanya senyum yang kau tujukan untuk dirimu sendiri atas keberhasilan membuatku tak lupa.
Semoga kau tak mendapat masalah atas tulisanku ini.
Aku hanya sesorang yang tak dengan mudah melupakan kebaikanmu.
Terima kasih atas sapaanmu sore ini.
Ku harap kau kan selalu sehat dan bahagia. :D
. . . . Oh ya, tersenyumlah ketika kita bertemu lagi nanti~