Sunday, 18 July 2021

REST IN PEACE

Bergoncengan di atas motor, saya pernah bercerita kepada seorang teman...

"Rasanya mati di saat pandemi merupakan momen yang baik. Yang benar-benar peduli akan langsung mendoakan dalam hatinya. Tak ada yang akan datang melayat hanya karna ikut-ikutan, atau bahkan agar tampak peduli. Keluarga tak perlu menjelaskan berulang-ulang kronologis menjelang ajal. Tak perlu ada pula kerabat yang menghabiskan uang demi perjalanan jauh mengantar ke liang lahat. Saya akan meninggal dalam sepi. Dalam damai."

Lalu hari ini, kabar duka kembali mampir di telinga saya.

Tunggu, rasanya penggunaan kata 'kabar duka' tidak tepat digunakan apabila merujuk pada paragraf sebelumnya. Mari kita sebut saja 'kabar meninggalnya seseorang'.

Saya tidak tahu apakah Beliau berpikiran sama, tentang waktu yang baik untuk mati. Tapi jelas tidak ada momen yang baik untuk kehilangan. 'Kabar duka' memang rasanya berlebihan. Tak pantas saya menyematkan nilai 'duka' padahal saya tidak pernah bertanya secara langsung, "Bagaimana rasanya mati?".

Rest in peace, Aki.

*foto di kiri (bersama sejumlah foto lainnya) tercecer ketika saya membereskan kamar jumat lalu pasca kebanjiran; foto di kanan tak sengaja ditemukan di laci tadi, saat mencari bingkai kacamata

Friday, 23 April 2021

Yang Ditulis Usai Berpisah

Andai penulisnya bukan Arman Dhani, saya mungkin tak memberi lima bintang untuk buku ini di Goodreads. Si penulis aduhaaaiii bodoh sekali dalam mencintai. Saya akan memaki-maki sebab Si Penulis berani-beraninya menyuguhkan 41 tulisan yang sama sekali tidak menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya. Seolah Ia mencari validasi akan perasaaannya dengan menerbitkan buku ini dan mengajak pembaca untuk menjadi bodoh bersama.

Tapi ia Arman Dhani, yang saya baca tulisannya setiap hari kecuali sedang tidak. Yang, sama dengan manusia lain, emosinya valid dan patut didengar. Tentu ia boleh jatuh cinta dan berjuang untuk seseorang yang bahkan tak menginginkannya lagi: M (di kepala saya, M untuk Maria).

Keempat puluh satu tulisannya diawali dengan sapaannya pada Maria.
Hai, M. I miss you and it hurts so much.
Hai, M. I miss you and maybe it’s better this way.
Hai, M. I miss you and I have lot of regrets.
Hai, M. I miss you and I feel pain in my chest.
Yang terakhir, Hai, M. I’m done trying, I no longer want to bother you anymore.

Empat puluh satu keping itu dibaginya menjadi lima bagian. Semuanya ditutup dengan pernyataan betapa ia mencintai Maria.
I’ll never get over you.
Aku akan tetap mencintaimu, sampai kamu memintaku berhenti untuk melakukannya (nampak kan, bodohnya, sudah ditolak berulang kali padahal, masa Maria harus mengemis meminta untuk tidak mencintainya lagi).
Yang paling sering dituliskan, Aku mencintaimu, M, sungguh mencintaimu.

Kesuraman-kesuraman dalam buku ini ditutupi dengan sampul berwarna kuning dan gambar sebuah kursi. Tulisan judulnya pun berwarna merah. Tidak seperti buku sebelumnya, Eminus Dolere, yang juga berisikan keluh kesah pascaberpisah tapi bersampul hitam dengan tulisan silver, dan… gambar dua buah kursi.

Sepertinya penata sampul ingin menunjukkan harapan cerah pada dirinya. Diri yang pada halaman ke-186 menuliskan: Aku berharap saat ini kamu telah bahagia. Selamat tinggal.

Wednesday, 17 February 2021

Senja yang Paling Tidak Menarik

 

Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.

Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.

Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.

Monday, 15 February 2021

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung. Ia mencurahkan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya dan tidak membiarkan apa pun melukai mereka. Sebagai pasangan, ia juga setia tanpa bergantung kepada pasangannya. Ia mampu melindungi diri sendiri, anak-anak, dan kelompoknya. Di sisi lain, serigala betina mendorong anaknya untuk mandiri, untuk mampu melindungi dirinya sendiri. Sepaham dengan Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian dan psikolog etnoklinis, Ester Lianawati menggunakan serigala betina sebagai representasi dari arketipe perempuan liar. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam.

Buku ini terdiri atas tiga bagian:
Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana; 
Semesta yang Tak Terlihat; dan 
Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan. 

Bagian pertama menceritakan tentang teori-teori psikologi feminis dan perkembangannya, bermula bahkan sebelum ada yang secara resmi disebut “psikolog”. Kendati penjelasannya tak runut dan tak dalam, Ester menyertakan tujuh halaman Daftar Pustaka sehingga memudahkan pembaca jika tertarik akan informasi tertentu. Saya sangat menyukai kalimat penutup bagian ini: à chacum son cerveau (tiap orang punya otaknya sendiri). Kalimat dari Cathrine Vidal untuk mempertegas bahwa sejatinya tidak ada otak laki-laki dan otak perempuan, tidak seperti teori populer yang “mencap” perempuan cenderung neurotik dan tidak secakap pria karena faktor biologis. 
Bagian kedua merupakan yang paling mengasyikkan untuk dibaca karena Ester menyajikan realitas dalam masyarakat, yang tentu saja sangat berkenaan dengan kehidupan keseharian kita, kehidupan patriarkis yang dipaparkan sedari kita dini dan acap kali kita langgengkan keberadaannya. Penjabaran ihwal serigala betina ada pada bagian ini. Sayangnya, terjadi repetisi beberapa contoh dan cerita di bagian ini sehingga terasa kurang seru.
Bagian ketiga dapat dikatakan yang terbaik. Pertanyaan pada sinopsis, “Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri?” dapat saya jawab dengan jawaban yang sama dengan penulisnya, “Saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya”.