Sunday, 25 December 2016

Sebuah kesalahankah?

"Jujur, aku ada perasaan ke kamu."

Aku menoleh, "Cukup besar buat bikin kamu ninggalin dia? Kalau nggak, kalikan nol aja."

"Kamu nggak bisa ya ngomongnya lembut dikit?"

Keep your tone, Nafa. Kamu nggak boleh luluh. Se-charming apapun Agus, dia calon suami orang!

"Kamu berharap aku bilang kalau aku juga punya perasaan ke kamu?"

"Iya. Ya setelah selama ini kita dekat, nggak mungkin kamu cuma nganggap aku teman kan?"

"Kamu lebih dari teman. Kamu tahu itu."

Damn! Why that words split out of my mouth? Alihkan kepalamu kembali ke Harry Potter and The Half Blood Prince, kamu nggak bakal sanggup ngeliat Agus dengan tatapan seperti itu.

"Terima kasih kalau gitu," kataku cepat-cepat.

"Terima kasih?"

"Ya. Terima kasih, Gus."

"Terima kasih buat?"

"Terima kasih karna udah punya perasaan lebih ke aku."

Udah dong, Gus. Pengakuan-pengakuan kayak gini cuma bikin hubungan kita nggak sehat.

"Sini.."

Apa lagi, Gus?

"Sini....."

Agus menarik tubuhku ke sisinya, melingkarkan tangannya di pinggangku. Irama napasnya terdengar jelas. Tak kupungkiri pelukannya tak pernah gagal membuatku nyaman. Ia mengecup pipiku pelan, menuruni leherku dengan bibirnya, membuatku.........

"Gus...." kataku seraya menarik tubuh menjauh.

Ditariknya kepalaku dalam dekapannya, "Iya, sayang."

"..."

Sebuah kesalahankah ini, Tuhan? Bagian mana yang salah?

Tuesday, 29 November 2016

Lebih Menyakitkan dari yang Tak Berbalas

Perasaan yang lebih menyakitkan
dari cinta yang tak berbalas
adalah yang tak tersampaikan

Apabila kau merasakan cinta tak berbalas,
mungkin kau akan jatuh

Tapi di situlah kehebatannya:
ia akan mengajarkanmu berdiri
bangkit dari sebuah keterpurukan
dan berjalan dengan lebih tegap kemudian
Mendapat sebuah pelajaran dari sebuah pengalaman cinta

Namun apabila kau merasakan cinta tak tersampaikan:

Kau terlalu takut untuk menunjukkan isi hatimu
membiarkan dirimu larut dalam dunia yang penuh khayal akan-nya

Kau hanya mampu berdiri
berdiri di tempat di mana kau berpijak sekarang
menunggu dan berharap ia akan menoleh kepadamu

Kau tidak dapat mundur
tapi juga tak mampu untuk melangkah maju

Ketika ia datang menghampirimu
kau hanya dapat tersenyum
tak dapat melompat dan memuntahkan luapan bahagia dalam dirimu

Dan ketika ia pergi lagi
kau juga hanya perlu tersenyum
menutup semua perasaan
memendam semua kesedihanmu
tetap berdiri di situ........

Saturday, 29 October 2016

Ben Hur, Snowden, Inferno, & Doctor Strange

Ben Hur
Ever watched the 1959 version. An elementary student at that time, watched it by television night movie show. The ship scene, Ben Hur's mother and sister got home with leprosy scene, and when Ben Hur's biru benhur cloak waving at the end of the movie are scenes that stay in my memory.
Believes that the older version does better since I cry more in that time. And the costume! the newer version gave less ancient atmosphere to me. Ah, I also like the 1959 version more because Jesus's face doesn't showed up.
This movie is about a Jewish prince named Ben Hur who's betrayed by his adopted brother who's a Roman. He becomes a slave but then gains his glory again. The movie is something because it takes the same time set as Jesus alive on earth, then Ben Hur meets Him several times in his life.


Snowden
Came late to the theater at that time.
Like the movie though. Logic. The romance scene not sucks. The player just suits the role. The end.
Oh okay, that's too short.
My personal favorite of this movie because Snowden, Edward Snowden, has his own idealism on his work. It's about (illegal) surveillance techniques. He decides to leave his well-paid job in NSA, shout out what he believes to public though it makes him a fugitive and has to leave his wife and everybody else.


Inferno
The ending of this film is sucks. The thing that I like much about Dan Brown is his neutral position. He characterizes characters in his story as a human that do both good and bad things. That A who has A standing position believes that A thing is right but B who disagree with A also right because he sees things from the B side. Even though they do that because of the same reason. Humanity in this case (as always).
But I still enjoyed the movie. I mean, see what you have read be visualized clearly is something. Really something since it takes famous places and things as its set properties. And saw Hagia Sophia in such a big screen did impress me.
Hagia Sophia is a building. Fancy name, isn't it? The largest cathedral for almost 1000 years. It once a church, later a mosque for 500 years, and now a museum since 1935. Ancient and great architecture which had many histories in itself.
The love story in the movie doesn't appear in the book, by the way.


Doctor Strange
Mr. Holmes is trying to take Watson's job this time. Kidding!
It's Benedict Cumberbatch who plays as Doctor Stephen Strange, a neurosurgeon. He got an accident. Cannot be healed by medical surgery.Went to Nepal, looking for mystical healing. It turned out that the healer rules such an organization which keeps the world working well. Then bad men come and the war begins. That's it. Just like almost every superhero movie.
The best part of this movie is it is starring Benedict Cumberbatch, someone who looked like needs no effort to become a smart-arrogant-cynic-yet charming person. If it's not him, I may not like the movie. How subjective I am! Ah, Intelegensi Embun Pagi by Dewi Dee Lestari came into my mind when I watch the movie. What the characters in the novels do just similar to what the healer organization does.

Tuesday, 26 July 2016

Jatuh

Lagi-lagi aku terjatuh
salah perhitungan
tak kuprediksi ada lubang di sana
memang tak dalam
tapi jelas sakit.

Aku mensyukuri tragedi ini, kadang
setidaknya aku punya alasan berhenti berjalan
untuk sesaat atau mungkin beberapa saat
hingga aku merasa baik-baik saja berjalan kembali

Tapi jujur saja
aku benci jatuh kali ini
ia berjalan beriringan denganku, mengapa cuma aku yang jatuh?
ketika ku jatuh, mengapa dia tak membantuku berdiri?
aku memanggil namanya, mengapa ia terus berjalan?



Lubang itu
tak bernama seperti lubang buaya

Lukaku
tak terlihat, tak menyisakan lebam pada kulit

Jatuhku
dikenal orang-orang

Cinta, kata mereka
jatuh cinta.

Friday, 24 June 2016

Adakah Keindahan Perlu Sebuah Nama?

     Ada satu kedai di pinggir kota yang cukup sering kusambangi. Kedai yang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Dan hari libur, tentunya. Pada hari kerja, seperti hari ini, l e n g a n g . . . . .

     Walau bangunannya terlihat sangat biasa dari luar, aku sangat menikmati berada di dalam kedai. Meja-meja disusun dengan jarak yang cukup sehingga memberi privasi bagi tiap pengunjung. Dindingnya dibiarkan polos, seolah berpesan, "Fokuslah pada apa yang ada di cangkirmu." Belum lagi Dimas, pemilik sekaligus barista yang sudah sangat familiar  dengan wajahku, tak pernah kehilangan moodnya untuk bersikap ramah. Bahkan ia sangat mengerti kapan aku sedang ingin menghabiskan waktuku sendiri dan kapan bertandang semata akibat rindu kopi racikannya. Dan keunggulan utama kedai ini adalah luas bangunannya. Pas. Seakan memang dirancang demikian sehingga aroma kopi dapat menjangkau setiap sudut ruangan. Aroma yang sangat menenangkan bagiku.

     Jika kau masuk ke dalam kedai, melangkahlah hingga pandanganmu menangkap meja terakhir di sisi kanan. Meja favoritku. Di meja ini bercangkir-cangkir kopi telah kuhabiskan sebagai teman membaca. Menghabiskan waktu dengan bacaan di tangan ditambah sesapan-sesapan kopi di lidah terasa seperti liburan kecil. Aku tak perlu ke mana-mana, tapi pikiranku di mana-mana. Pada setiap halamannya, imajinasiku menari. Membuatku lupa segala kepenatan yang harus aku hadapi kembali ketika melangkah keluar kedai.

     Hari ini Kamis, hari ke dua puluh tiga bulan enam. Aku datang ke kedai bersama buku baruku. Begitu rapi ia terbungkus dalam wrapping plastic. Tiba di rumahku sore tadi. Diantar oleh Iwan, Pak (Mas, maksudku) Pos yang sudah ditakdirkan singgah ke rumahku tiap dua minggu sekali.
     Setelah memesan secangkir kopi susu dan sebotol kecil air mineral, aku langsung mengeluarkan Perempuan Bernama Arjuna. Buah pikir Remy Sylado. Bersampul merah. Ah, aku selalu menikmati aroma buku baru. Memabukkan. Sama seperti aroma lembaran uang baru. Aku membetulkan posisi dudukku saat menemukan tulisan 'bukan bacaan ringan'.
     Dengan semangat aku mengedarkan bola mataku dari kiri ke kanan. Melahap kata demi kata yang ternyata...... benar-benar berat. Buku fiksi filsafat ini mengisahkan seorang perempuan bernama Arjuna. Halaman-halaman awal sangat menyenangkan untuk dibaca. Aku menyukai cara Remy bercerita sambil menjelaskan makna kata. Mulai dari 'mata keranjang', berbagai macam makna huruf V, hingga mengkritik penggunaan istilah 'tuna susila' di Indonesia.
     Namun ketika semakin banyak lembaran yang kubalikkan, aku mulai pusing. Kuselipkan bookmark di antara halaman 28 dan 29. Bayangkan saja, sudah ada tiga puluh sembilan catatan kaki tentang berbagai filsuf dan karyanya yang harus kubaca pelan-pelan. Ditambah lagi ada kata-kata dalam Bahasa Jawa dan Sunda yang tidak kumengerti maknanya.

     Mataku beralih pandang ke isi ruangan. Ada empat pengunjung lain selain aku. Dua sejoli duduk di meja paling depan. Satu orang duduk di kursi bar berbincang dengan Dimas. Dilihat dari cara mereka saling melontar umpatan, sepertinya mereka teman baik. Dan seorang laki-laki yang duduk di seberang mejaku. Ia juga pelanggan tetap kedai ini. Walau sering berada di tempat dan waktu yang sama, kami lebih memilih tenggelam dalam dunia kami masing-masing. Aku dengan bukuku, ia dengan laptopnya. Kadang juga tanpa laptop, hanya cangkir kopi dan bungkus rokok. Pernah aku melihatnya membawa buku. Literatur sepertinya. Terlalu tebal dan terlalu keras sampulnya untuk dikategorikan sebagai bacaan ringan.

     Kuraih kembali bukuku. Satu baris. Dua baris. Tunggu! Kuturunkan sedikit posisi bukuku. Keriting? Lelaki di depanku berambut keriting?? Yang benar saja! Sudah lebih dari sepuluh kali aku bertemu dengannya di kedai. Bahkan akhir-akhir ini kami bertukar senyum saat berpapasan. Dan aku baru menyadari bahwa ia keriting? Payah sekali aku ini! Kuturunkan daguku dan mulai membaca lagi.
     Ah! Maaf Remy Sylado, ada yang lebih menarik perhatianku daripada tulisanmu kali ini. Aku sangat menyukai Namaku Mata Hari kok. Sungguh! Kebetulkan posisi dudukku sekali lagi. Dengan sikap bak membaca, aku mulai mengamati pria di hadapanku ini.

     Berbeda denganku yang lebih senang duduk menghadap dinding sisi kiri (ke mejanya), ia memilih memiliki pandangan luas mengarah ke pintu masuk. Namun sama sepertiku, ia (seingatku) selalu sendiri ketika datang ke kedai. Seolah tak ingin ada orang lain yang tahu tempat persembunyian kami.

     Bukan seorang kidal. Ia sepertinya bersahabat dengan jeans. Sepatu gunung. Itukah alas kaki yang kerap ia pakai kemari? Selayaknya sepatu itu memang sering ia gunakan. Terlihat dari noda-noda yang tertinggal. Tempelan tanah yang masih basah di bawah solnya menunjukkan ia baru saja dari lapangan. Sudah bekerjakah ia? Apakah pekerjaannya membuat ia tak sempat mengurus diri? Lihatlah pipinya yang cekung itu! Akibat kurang makankah? Ia (seingatku, lagi) tak pernah tampak segar. Jauhkah rumahnya hingga ia enggan pulang terlebih dahulu sebelum bepergian lagi? Atau memang ia malas mandi?
     Hahahaha ia mempunyai kebiasaan aneh. Sudah beberapa kali ia terlihat menggunakan jarinya menyisir rambut ke belakang. Dengan rambut keriting pendek, itu sungguh hal yang menggelikan! Posisi rambutnya tak berubah sama sekali! Atau mungkinkah ia pernah grondong sebelumnya? Ia...
     ... mematikan laptopnya. Dengan segera kualihkan pandangan kembali ke buku yang masih erat kupegang. Melalui ekor mataku, aku memerhatikan ia memasukkan laptopnya ke dalam tas. Meneguk kopi hitamnya. Menyalakan sebatang rokok lagi.

     Ia perokok berat! Asbak itu buktinya. Penuh dengan abu dan puntung rokok dari jenis yang sama. Contoh pria ideal yang akan cepat mati karena rokok. Ia belum beranjak dari kursinya. Aku jadi penasaran, seberapa cepat ia menghabiskan satu puntung rokok?
     Satu isapan.
     Dua isapan. Ia benar-benar mengisap dalam-dalam rokoknya.
     Tiga isapan. Kenapa ia tak terbatuk dipenuhi sebegitu banyak asap di paru-parunya?
     Empat isapan. Rokok apa yang diisapnya?
     Lima isapan.
     Enam isapan. Ia terlihat sangat menikmati rokoknya.
     Tujuh isapan.
     Delapan isapan. Aku......
     Sembilan isapan. Aku menikmati ia merokok.
     Sepuluh isapan. Ekspresinya begitu berbeda dibandingkan saat menghadapi layar laptop barusan.
     Sebelas isapan.
     Dua belas isapan. Bagaimana ia bisa menemukan kedamaian dari sepuntung rokok?
     Tiga belas isapan.
     Empat belas isapan.
     Lima belas isapan. Aku benar-benar menikmati ia merokok.
     Enam belas isapan. Sejak kapan orang merokok merupakan objek yang indah?
     Tujuh belas isapan. Ia seperti menyerap energi dari rokok. Segala penatnya menjelma asap.
     Delapan belas isapan. Siapa laki-laki ini?
     Sembilan belas isapan. Aku tak tahu siapa laki-laki ini!

     Ia berdiri. Menekan ujung puntung di asbak. Menyampirkan tas di salah satu bahunya. Berjalan ke arah Dimas. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Membakar sebatang rokok lagi. Indaaaaaaah!
     Ia melangkah lagi. Aku bergegas mengemasi bukuku. Ia tiba di ambang pintu. Aku berlari, hendak meneriakkan namanya. Aku tercekat. Aku tak tahu namanya! Aku tak tahu siapa dia!

     Ia menghilang dari pandangan.

Tuesday, 7 June 2016

Semoga :)

"Semoga selamat sampai tujuan!"

Hah.... bukan itu yang sesungguhnya ingin kuucapkan.

Tunggu, jangan berprasangka buruk. Bukannya aku tak menginginkanmu tiba di sana dengan selamat....
Aku sangat menginginkan itu, kawan. Sungguh.
Hanya saja......

Hanya saja yang teramat kuinginkan adalah..
kau
kembali
ke sini
bersamaku.

"Semoga kau kembali dengan selamat, Sayang."

Sunday, 5 June 2016

Kemarilah, mendekatlah...

Kemarilah...
Ada yang ingin ku sampaikan padamu
Sesuatu yang telah sekian lama aku ketahui
Dan kini aku tak sanggup memendamnya lebih lama lagi.

Mendekatlah...
Tempelkan telingamu ke bibirku
Tak ingin ku angin mencuri dengar.
Aku akan mengatakannya sepelan mungkin
Hingga tak sepatah katapun didengar oleh telingaku.

Kemarilah, mendekatlah...
Hanya dirimu yang boleh mendengar ini
Aku ingin mengatakan sesuatu
Bahwa sebenarnya aku . . . . . . . . .

Monday, 30 May 2016

Untukmu, Pujangga

Jatuh cinta padamu, Pujangga, sungguh adalah suatu petaka
Semua sikapmu sama sekali tak terbaca
Aku hanya mampu memendam rasa.

Tulisanmu muncul di dunia maya, menggambarkan seseorang yang berbahagia
Padahal beberapa saat sebelumnya kau menemuiku dan bercerita dengan penuh lara.

Kadang, saat kita sedang tertawa bersama
Kau mengganti statusmu dengan rasa kecewa.

Apakah sebegitu hebatnya dirimu hingga kau hanya perlu membayangkan kemudian lahirlah tulisan?
Atau memang, ada sesorang di sana, yang membuatmu kecewa, bahagia, jatuh cinta..... hingga diriku tak pantas diperhitungkan keberadaannya?

Wednesday, 4 May 2016

#NyalaUntukYuyun

Berita seorang perempuan diperkosa 14 laki-laki beredar sudah.
Satu hal yang membuat saya jengah.
Ada saja yang akhirnya berpesan, "Makanya jangan pake yang mini yah."

Hahahahahahahaha
BANGSAAAAAAT!!! KEPARAT!! BIADAB!!

Tuan...... tuan.........
Kenapa kami yang disalahkan ketika kalian tak dapat manis berkelakuan?
Kenapa harus kami yang menjadi penjaga iman kalian?
Apakah semata karna kami ....perempuan?

Kenapa ada pelacur?

Ga ada orangtua yang ingin anaknya jadi pelacur.
Ga ada laki-laki yang berharap punya istri seorang pelacur.
Ga ada satupun perempuan di dunia ini yang bercita-cita jadi pelacur.

Lalu... kenapa profesi itu ada?

. . . . .

Mungkin sama kayak pembantu.
Ga ada kan yang bercita-cita jadi pembantu? Namun, kenapa profesi itu ada?



....... karna ada yang butuh.

Friday, 22 January 2016

Renjana Dyana - order and chaos

Apakah dua belas bulan bisa dibilang singkat, atau malah terlalu lama?

Bagi orang yang saling mencintai, waktu berjalan begitu cepat. Bertahun pun tidak terasa, malah selamanya mungkin rasanya cuma sebentar. Seperti yang kurasakan saat tidur di kedalaman pelukannya, aku mendapati tiba-tiba saja sudah pagi. Pada setiap pertemuan, waktu seakan berjalan terburu-buru, dan tanpa kusadari, aku sudah merindukannya lagi.

Tetapi bagi orang yang sedang bersedih, waktu seperti bergerak merangkak. Satu jam saja rasanya begitu lambat. Rasanya seperti tak ingin lagi berada di tempat ini. Saat merasa tersiksa, aku merasa ingin berada di mana saja, asal tidak di sini.

Awalnya, aku merasakan hal yang pertama. Kebahagiaan bertubi-tubi datang kepadaku. Semua sapanya beraroma bunga. Kecupan-kecupannya membuatku gila. Seluruh pandangannya hanya tertuju padaku. Semua kebahagiaannya memenuhi kebahagiaanku.

Aku terangkat tinggi-tinggi ke udara. Tangan-tanganku serasa menggapai nirwana. Kaki-kakiku tidak lagi menjejak tanah. Surga yang dulu pernah tidak kupercaya, kini mengada. Dan aku berada di dalamnya, tak ingin ke mana-mana.

"Suatu hari, kau akan mencium sesorang dan saat itu kau akan tahu itu adalah orang yang ingin kau cium terus seumur hidupmu."

Dan saat menciumnya, aku menemukan sebuah bibir yang sempurna, bibir yang selama ini kutunggu-tunggu. Bibir yang membasahi kekeringan jiwaku, yang selama ini membuatku selalu menyepi di sebuah sudut ruangan yang sempit.

Aku yang tadinya juga tidak percaya dengan teori-teori tentang takdir dan pasangan jiwa, kini mulai berubah pikiran. Aku ingin dialah yang akan menemaniku hingga aku mati. Aku ingin bersamanya hingga kami menua nanti. Aku ingin menggenggam tangannya saat berjalan tertatih-tatih. Aku ingin meraba keriput di wajahnya, aku ingin memeluk napas terakhirnya. Aku tidak ingin melepaskannya, bahkan jika salah satu dari kami meninggal lebih dahulu.

Hidupku mulus dan lancar. Ssperti permukaan kulitku yang halus bagi sutra, katanya. Seperti alam semesta, yang selalu berputar pada tempatnya. Jika aku jatuh, aku tidak lagi merasakan sakit. Aku tidak pernah menangis lagi, kecuali jika merengek manja menginginkan sesuatu kepadanya. Aku bahkan tidak pernah kecewa. Semua seolah meniada jika dibandingkan dengan apa yang sedang kurasakan.

Di setiap malam yang terasa panjang, aku menjadi kerap berdoa. Padahal aku jarang, atau bahkan bisa dibilang tidak pernah berdoa. Tetapi aku punya sebuah pengharapan, dan aku ingin agar pengharapan itu menjadi kenyataan. Aku ingin sebuah kekuasaan besar di jagat raya ini mengabulkannya. Dengan kehadirannya, aku bahkan menjadi percaya kalau Tuhan itu ada.

Tetapi beberapa minggu terakhir ini, kenapa surga menutup ketujuh pintunya? Tuhan seakan menghindariku lagi. Doa-doaku kembali meniada.

Keindahan itu mendadak berubah menjadi bencana. Keteraturan itu tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Aku tidak bisa tidur. Apa pun yang kumakan rasanya tidak enak di lidah. Aku tidak ingin keluar rumah. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku ingin meringkuk saja di tempat tidurku sepanjang hari. Dadaku hampir setiap saat berdebar kencang. Kepalaku berputar tidak beraturan. Segala sesuatu yang ada di dalam diriku kacau. Bagai bulan yang terlempar dari orbitnya, tidak ada gravitasi lagi yang menahannya. Semuanya kacau.

Aku orang yang sangat mengagungkan keteraturan. Seperti bumi yang selalu berputar pada porosnya, seperti waktu yang selalu sama, seperti detak metronom yang stabil dan teratur. Aku menginginkan hidupku seperti itu semua.

Tetapi ada sebuah kuasa yang seolah berada di luar kekuatanku. Kuasa itu memorak-porandakan segala keteraturan yang sudah kutata dengan rapi. Keteraturan yang begitu sulit kutegakkan selama bertahun-tahun ini.

Kupandangi kembali gurat-gurat yang ada di kedua pergelangan tanganku. Sebuah pola acak, sebuah kekacauan yang sempurna, tetes-tetes darah yang mengalir deras.

Ini harus segera dihentikan.

----------------------------------------------------------------

Adi Kurniadi.
Fotografer yang tenar dengan nama adimodel;
yang menulis beberapa novel termasuk Renjana Dyana;
yang kata-katanya dalam chapter order and chaos saya ketik dan kalian baca barusan.

I like the way he describes time flies fast when we are happy.
I like the way he tells how suffer we are when our heart hurt.
And most of all, he slaps me on my face by writing about pray and hope.
Yeah, pengharapan.
I kinda know what does she (the woman in the novel) feel.
I only pray when I have pengharapan, when I believe that that thing cannot be held by me but there is Someone who can.

I just agree to every word he choose. That's it.
And that's why, I made this and suggest you to read and buy the book.




PS.
I haven't finished read the book.
What do you think adimodel means 'ini' in the last line?
Her sadness?
Or her life, perhaps?

Tuesday, 5 January 2016

2015


Looking back to 2015.....

Me and my family always do the to-close-and-open-year-praying in the middle of the night, so was last year, and that was the year I spent its very first seconds with tears. I just can't help it, when I saw Bue (=grandfather in Dayak Ngaju language) getting thinner on his wheelchair. I used to know him as a great man. I still can't accept he should be in that condition. But knowing that he's still breathing and be with us until this day, I thank God.

 Thank God again, because in 2015 I traveled aboard for the first time. That lucky country (or lucky me :P) is Japan. Not really enjoy the trip, actually. We had a tight schedule so I never had enough time to travel around and I got PMS. So yaa I'm sorry to SCENErs for being sensitive and quite suck at that time. Btw, these guys, the SCENErs, are the most 'ga-ada-jaim-jaimnya' people.

 My birthday in 2015 is quite something too. I turned 22 and not only people in my church congratulate me but also Al-mudrikyah members. It's really something when you accepted by people who differ with you. I'm thank you because of that. Ah, someone asked what I want on my birthday. He has almost everything and I totally aware that He may give me anything. But, (I dunno what the hell I was thinking about) I only asked for a prayer. Silly, huh? No.. it’s kinda weird, but I never regret it. My prayer is about . . .

 . . . final project. That thing was somewhat frustrating me. I started it in February and (finally) finished it in December. Until this time, I am the student (in my generation) who takes the longest time to finish a final project. I thank for that, actually (terima kasih, Bu, Pak). But it shouldn't be counted as 11 months because I was ‘disappearing’ for almost 2 months to do the preparation for my trip to Japan. Ah, I also do some others in March, April, July (to Singkawang) and November (to Bogor). My campus mates (and lecturers) didn’t know that I really take some dates enjoying my time. Haha. By the way, do you know what date I did the final presentation of my final project? 23rd! Yeah, 23rd of December! Poor my mom because she must take over the christmas-cookies-making job. (If I have to thank someone at most, she is the one. Not sure I will ‘works’ if she wasn’t there.)

 The last but not least, you, the man who became my sentris of the year. Ah, I use sentris instead of translating it to ‘central’ because I used to call this phenomenon as ‘(his name)sentris’ just like geosentris or egosentris because my life goes around surround you since I have you. Though 2015 is over, I’m not over you (yet) (or never will, maybe). Haha. Thanks for both the laugh and the tears.

 So, ya, 2015 is really a year. I also know Jostein Gaarder, Dewi Dee Lestari, M. Aan Mansyur, Remy Sylado, and Agus Noor by their great writings (that make me fall in love again and again), first in 2015. I hope 2016 will be greater than you, 2015. Thank you again!