Wednesday, 9 December 2015

Aku Takut Menanyakan Kabarmu

Aku takut menanyakan kabarmu.

Aku takut jika kau menjawab kau sedang tak baik.
Jika kau tak baik, maka tak baik pulalah diriku.
Tak nafsu makan, bertingkah seperti orang linglung, cemas memikirkan dirimu.

Dan aku lebih takut lagi jika kau menjawab kau baik-baik saja.
Karna bagaimana mungkin kau dapat baik tanpa diriku?
Sedang aku kerap mengacaukan segala hal saat mendapati kau tak lagi melangkah bersamaku.

Monday, 28 September 2015

Sebelum kau pergi....,

Dekaplah aku
Hingga sesak di dadaku lenyap terganti debar jantungmu

Kecup kedua mataku
Agar tak kembali hujan menyombongkan rinainya

Kunci bibirku dengan bibirmu
Biar semua isak terbungkam, semua kata terpendam

Ah, atau kau bunuh saja aku
Toh melepaskanmu pergi sama saja dengan berjalan menuju pemakamanku sendiri.

Friday, 7 August 2015

Lesak

Memberontak ia
Tak terima dirantai dibelenggu
Teriak
Pekik
Amuk..
Tangis
Keluar juga melalui mata
Mengalir di pipi hingga dagu
Membuktikan ku tak kuasa menahan lesakan itu lebih lama
Tak inginkah kau datang, sayang?
Agar air mata ini berubah menjadi haru
Sebelum aku menggelantang diri di bawah langit biru

Thursday, 2 July 2015

Aku Benci Pernyataan Merambang!

Tanpa kode.
Tanpa taka-teki.
Tanpa petunjuk.
Kau hanya melantunkan pernyataan-pernyataan merambang.
Dan bahkan tanpa pertanyaan!
Membuat ku tak tahu harus berfokus pada apa.
Benci!
Aku benci!
Aku benci menginterpretasi!
Karna itu membuat ku berpegang pada sesuatu yang tak pasti benar.
Tak bisakah?
Tak bisakah kau?
Tak bisakah kau menyatakannya?
Tak bisakah kau menyatakannya secara gamblang?
Bahwa kau mencintaiku....
Atau bahwa kau, tak mencintaiku lagi.

Wednesday, 1 July 2015

Wednesday, 10 June 2015

Bak Setetes Air yang Kembali ke Samudra

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
      - Kejadian 1:26a -


Kita tahu, bahwa segala yang ada di alam semesta ini berasal dariNya, termasuk kita.
Tetapi, hanya kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya.
Tentu kita sudah sering mendengar hal ini. Segambar dan serupa dengan Allah. Demikianlah istilah yang sering beredar.
Namun seperti apa 'segambar dan serupa' itu?

       Bila diibaratkan, mungkin kita seperti setetes air, dan Tuhan samudranya.
Kau bisa melihat tetes-tetes air, tapi kau pasti tak bisa melihat Samudra secara keseluruhan dengan satu   pandangan mata.

       Mungkin juga kita seperti bunga api, dan Tuhan adalah api unggun abadi.
Kau mungkin akan mengaduh saat sepercik bunga api mengenai kulitmu, tapi tentu kau tak mau membayangkan apa yang terjadi jika Sang Api Unggun menjilatimu. Berdiri di dekatnya saja kau tak mampu.

       Bisa juga kita ibaratkan pasir, dan Tuhan pantainya.
Kau pasti sanggup menghitung ada berapa butiran pasir yang menyangkut di kukumu, tapi kau pasti tak sanggup menghitung pasir yang terhampar di sepanjang pantai.

       Atau mungkin kita seperti hembusan nafas, dan Tuhan adalah atmosfer.
Sebuah hembusan nafas mungkin dapat menggelitik tengkukmu, tapi tentu kita tak ingin seluruh udara bergerak secara bersamaan. Sebagian saja sudah dapat menerbangkan jalanan!

Ya, mungkin seperti itu.
Benda-benda kecil itu mempunyai substansi yang sama dengan benda asalnya.
Sama seperti kita yang berasal dariNya, yang diciptakan segambar dan serupa denganNya.

Benarkah pemikiranku?
Setujukah kau denganku?

Dan ketika semua  yang berasal dariNya akan kembali padaNya, maka kita akan melebur bak embun yang jatuh ke atas samudra, menyatu bak sumbu yang terbakar kobaran api, membaur selayaknya triliunan pasir di pantai, menjadi padu bak udara yang mengisi setiap rongga.
Ketika kita kembali padaNya, tak akan ada yang tersisa. Tak ada kehidupan. Tak ada pula kehidupan sesudah mati.

Yang ada hanya Dia. Kembali seperti semula. Ke ketiadaan.
Masih setujukah kau denganku?

Monday, 8 June 2015

Yesus lahir di Bulan Desember karena.....

Kau tahu mengapa Yesus memilih lahir ke dunia pada Bulan Desember?

Kalau menurutku, karena Desember itu dingin..
Tuhan memilih turun pada Bulan Desember untuk menghangatkannya!

Karena ada natal, pemandangan serba putih akibat salju jadi tak membosankan dihalau oleh kerlip lampu dan kilaunya ornamen natal berwarna-warni
Karena ada natal, pikiranmu akan direlaksasi dengan aroma kue panggang dan lupa akan kencangnya angin salju di balik jendela
Supaya di saat Desember, di masa-masa paling dingin sedunia, kau tetap bisa merasa hangat karena seluruh anggota keluarga ada di sekitarmu
Bahkan kau bisa menari di atas salju setelah merasakan panasnya berduaan di bawah mistletoe!

Ah, Tuhan keren.... Ia menyalakan api kecil di setiap hati melalui semangat serta keceriaan natal dan menjadikan Desember salah satu bulan terhangat yang aku miliki.

Saturday, 6 June 2015

Tuhan........,

Tuhan, mengapa harus selalu ada akhir di dunia ini?

Mengapa aku tak bisa selamanya bermain sebagai anak kecil?
Tak bisa selamanya menikmati hijaunya dedaunan dari bangku taman favoritku?
Selamanya mendekap orang yang ku cintai?
Mengapa suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibuku.......?

Tuhan, Engkau lucu.........
Engkau mengadakan sebuah arena yang disebut dunia
Kemudian Engkau menurunkan jutaan rintangan
Siapa yang berhasil menaklukan rintangan-rintangan itu, akan kembali bersama-Mu di Nirwana
Siapa yang gagal, akan Engkau kirim ke tempat penyiksaan yang bernama neraka

Tak bisakah Engkau mencipta dan meletakkan kami di sisi-Mu, Tuhan?
Mengapa ???!

Apakah Engkau begitu ingin dipuja sehingga menurunkan berjuta manusia dan bersabda bahwa aku ini begitu hina?
Apakah Engkau menikmati setiap rintihan dan air mata yang ku cucurkan ketika ku tersandung berjalan melewati rintangan-Mu?
Ah.... atau apakah Engkau ingin ku anggap Pahlawan? Hingga menciptakan skenario turun ke bumi dan mati di kayu salib demi menyelamatkanku
Tuhan, Kau................................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................

tolong aku.................., Tuhan

Saturday, 21 March 2015

me tasting heaven

It's raining now
and I'm cold
My mind goes to you
At the moment we spent the day together . . . .

It wasn't the sun radiating heat
It was you
Did the conduction
by a little quick kiss
at my waist
when you laid your head on my lap

Just a moment before
You said it is heaven
'Surgee'.... then you laid your head closer to me
Put your hands on my left and my right, felt like you were hugging me
And it turns to
me tasted heaven

........shit!
How can I remember all of those?!
Even my skin can recall that sensation;
my flesh be a conductor, transferring warmth
to my chest
to my head
to my thighs, my knees

I feel warm
Though my fingers' tips can't feel this embossed keyboard

'Fall in love, vi?'
'Seems like.. and I fall depth this time'

Saturday, 14 March 2015

Manusia Modern

'Manusia modern' itu egois.

Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga adatnya.
Padahal ia telah lupa akan kebudayaannya.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya tetap tinggal di rumah tradisional.
Padahal ia membangun rumah kotak-kotak dari beton dan kaca.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menggarap lahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal ia taunya hanya memBELI bahan makanan di pasar ber-AC.
Berkata masyarakat pedalaman itu seharusnya menjaga alamnya.
Padahal ia yang merusak hutan demi memperkaya diri.
Berkata "bukan pedalaman namanya kalau masih terjangkau kendaraan" "bukan pedalaman namanya kalau penduduknya punya ponsel".
Padahal apa salah mereka kalau mereka ingin MAJU? ingin MEMPERMUDAH hidup? ingin MELIHAT dunia luar?
Berkata masyarakat pedalaman itu tidak mencintai INDONESIA!
Padahal apa salah mereka menukar sayur menjadi minyak goreng dan gula di negara sebelah?
Sedangkan ia ke negara lain untuk SHOPPING! TRAVELLING! Sekedar FOTO2!

Merasa pintar dan berpendidikan.
Seolah mereka yang tidak sekolah itu bodoh dan lebih rendah derajatnya.
Merasa paling tahu karena sudah membaca buku-buku terbitan luar.
Padahal yang lebih mengenali alam itu MEREKA!!
Merasa mereka itu syirik dan patut dilaknat karena melakukan persembahan dan ritual-ritual.
Padahal nilai luhur mereka menaungi hati-hati yang jauh lebih bersih!
Merasa menang karena mempunyai banyak investasi.
INVESTASI APA??
Tanah yang seharusnya bisa ditinggali orang lain?
Rumah-rumah yang tak dihuni dan membuat harga material meroket?

Salah mereka? yang tak mampu menahan perkembangan teknologi.
Salah mereka? yang tak mampu melawan arus globalisasi.
Salah mereka? yang tak mampu bersilat lidah di hadapan para investor.
Salah KAMU, MANUSIA MODERN!!
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di balik layar laptop.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila dihabiskan di gedung bertingkat tinggi.
Yang memberi contoh seakan hidup lebih baik bila semuanya tinggal KLIK, tinggal SENTUH, tinggal SURUH!