Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
- Kejadian 1:26a -
Kita tahu, bahwa segala yang ada di alam semesta ini berasal dariNya, termasuk kita.
Tetapi, hanya kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya.
Tentu kita sudah sering mendengar hal ini. Segambar dan serupa dengan Allah. Demikianlah istilah yang sering beredar.
Namun seperti apa 'segambar dan serupa' itu?
Bila diibaratkan, mungkin kita seperti setetes air, dan Tuhan samudranya.
Kau bisa melihat tetes-tetes air, tapi kau pasti tak bisa melihat Samudra secara keseluruhan dengan satu pandangan mata.
Mungkin juga kita seperti bunga api, dan Tuhan adalah api unggun abadi.
Kau mungkin akan mengaduh saat sepercik bunga api mengenai kulitmu, tapi tentu kau tak mau membayangkan apa yang terjadi jika Sang Api Unggun menjilatimu. Berdiri di dekatnya saja kau tak mampu.
Bisa juga kita ibaratkan pasir, dan Tuhan pantainya.
Kau pasti sanggup menghitung ada berapa butiran pasir yang menyangkut di kukumu, tapi kau pasti tak sanggup menghitung pasir yang terhampar di sepanjang pantai.
Atau mungkin kita seperti hembusan nafas, dan Tuhan adalah atmosfer.
Sebuah hembusan nafas mungkin dapat menggelitik tengkukmu, tapi tentu kita tak ingin seluruh udara bergerak secara bersamaan. Sebagian saja sudah dapat menerbangkan jalanan!
Ya, mungkin seperti itu.
Benda-benda kecil itu mempunyai substansi yang sama dengan benda asalnya.
Sama seperti kita yang berasal dariNya, yang diciptakan segambar dan serupa denganNya.
Benarkah pemikiranku?
Setujukah kau denganku?
Dan ketika semua yang berasal dariNya akan kembali padaNya, maka kita akan melebur bak embun yang jatuh ke atas samudra, menyatu bak sumbu yang terbakar kobaran api, membaur selayaknya triliunan pasir di pantai, menjadi padu bak udara yang mengisi setiap rongga.
Ketika kita kembali padaNya, tak akan ada yang tersisa. Tak ada kehidupan. Tak ada pula kehidupan sesudah mati.
Yang ada hanya Dia. Kembali seperti semula. Ke ketiadaan.
Masih setujukah kau denganku?