Bergoncengan di atas motor, saya pernah bercerita kepada seorang teman...
"Rasanya mati di saat pandemi merupakan momen yang baik. Yang benar-benar peduli akan langsung mendoakan dalam hatinya. Tak ada yang akan datang melayat hanya karna ikut-ikutan, atau bahkan agar tampak peduli. Keluarga tak perlu menjelaskan berulang-ulang kronologis menjelang ajal. Tak perlu ada pula kerabat yang menghabiskan uang demi perjalanan jauh mengantar ke liang lahat. Saya akan meninggal dalam sepi. Dalam damai."
Lalu hari ini, kabar duka kembali mampir di telinga saya.
Tunggu, rasanya penggunaan kata 'kabar duka' tidak tepat digunakan apabila merujuk pada paragraf sebelumnya. Mari kita sebut saja 'kabar meninggalnya seseorang'.
Saya tidak tahu apakah Beliau berpikiran sama, tentang waktu yang baik untuk mati. Tapi jelas tidak ada momen yang baik untuk kehilangan. 'Kabar duka' memang rasanya berlebihan. Tak pantas saya menyematkan nilai 'duka' padahal saya tidak pernah bertanya secara langsung, "Bagaimana rasanya mati?".
Rest in peace, Aki.
