Wednesday, 17 February 2021

Senja yang Paling Tidak Menarik

 

Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.

Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.

Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.

Monday, 15 February 2021

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung. Ia mencurahkan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya dan tidak membiarkan apa pun melukai mereka. Sebagai pasangan, ia juga setia tanpa bergantung kepada pasangannya. Ia mampu melindungi diri sendiri, anak-anak, dan kelompoknya. Di sisi lain, serigala betina mendorong anaknya untuk mandiri, untuk mampu melindungi dirinya sendiri. Sepaham dengan Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian dan psikolog etnoklinis, Ester Lianawati menggunakan serigala betina sebagai representasi dari arketipe perempuan liar. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam.

Buku ini terdiri atas tiga bagian:
Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana; 
Semesta yang Tak Terlihat; dan 
Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan. 

Bagian pertama menceritakan tentang teori-teori psikologi feminis dan perkembangannya, bermula bahkan sebelum ada yang secara resmi disebut “psikolog”. Kendati penjelasannya tak runut dan tak dalam, Ester menyertakan tujuh halaman Daftar Pustaka sehingga memudahkan pembaca jika tertarik akan informasi tertentu. Saya sangat menyukai kalimat penutup bagian ini: à chacum son cerveau (tiap orang punya otaknya sendiri). Kalimat dari Cathrine Vidal untuk mempertegas bahwa sejatinya tidak ada otak laki-laki dan otak perempuan, tidak seperti teori populer yang “mencap” perempuan cenderung neurotik dan tidak secakap pria karena faktor biologis. 
Bagian kedua merupakan yang paling mengasyikkan untuk dibaca karena Ester menyajikan realitas dalam masyarakat, yang tentu saja sangat berkenaan dengan kehidupan keseharian kita, kehidupan patriarkis yang dipaparkan sedari kita dini dan acap kali kita langgengkan keberadaannya. Penjabaran ihwal serigala betina ada pada bagian ini. Sayangnya, terjadi repetisi beberapa contoh dan cerita di bagian ini sehingga terasa kurang seru.
Bagian ketiga dapat dikatakan yang terbaik. Pertanyaan pada sinopsis, “Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri?” dapat saya jawab dengan jawaban yang sama dengan penulisnya, “Saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya”.