Cerpen-cerpen dalam Senja yang Paling Tidak Menarik merupakan dokumentasi Arswendo Atmowiloto di awal karirnya yang sebagian besar dimuat di Mahasiswa Indonesia (koran mingguan Bandung) antara tahun 1968 – 1970. Waktu itu, ia biasa menumpang di kantor kelurahan sebab tak punya mesin tik. Indonesia Tera pertama kali menerbitkan buku ini tahun 2001. Kemudian dicetak kembali 18 tahun setelahnya dengan sampul bernuansa senja yang berhiaskan telur mata sapi alih-alih matahari dan dibatasi dinding. Unik, dan menurut saya, sangat menggambarkan isinya.
Secara alfabetis, 17 cerpen dirunut berdasarkan judulnya. Saya, yang memperoleh buku ini sebagai kado dari kekasih, mulai membaca dari cerpen keempat, Kado Kekasih, yang serta-merta jadi cerpen favorit saya. Kaum jomlo tak perlu takut membaca buku ini, jauh dari romantis. Saya malah menemukan lebih banyak kegetiran. Ringan, namun tiap cerita diakhiri dengan pengejawantahan sisi lain cerita. Entah sedang tren pada saat itu atau memang begitulah cerpen-cerpen Arswendo.
Bisa jadi juga, atas kesamaan itu cerpen-cerpen ini dirajut jadi sebuah buku. Hingga pada Pengantar, Arswendo menuliskan, Kini giliran pembaca yang menemukan pendapat sebagai suatu nilai, suatu makna. Dari situ (muncullah) sebuah senja yang ada di Pantai Kuta atau di mana saja yang kita maui, senja yang menarik atau membosankan, senja yang ajaib justru karena kita menjadikannya sebagai realitas baru.

