Wednesday, 29 July 2020

Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?




Man bisa jadi laki-laki atau perempuan, tapi woman pasti perempuan.
Perempuan dapat berpakaian seperti laki-laki dan dipandang normal karena maskulinitas bersifat netral, tapi tidak ada laki-laki ‘normal’ yang berkebaya ataupun menggunakan rok tutu.
Laki-laki bersifat universal. Jika ingin memahami manusia, kita akan membaca cerita yang sama-sama dialami oleh laki-laki dan perempuan. Kita tak perlu repot membaca buku tentang persalinan, sebab melahirkan tidak termasuk pengalaman manusia. Melahirkan adalah pengalaman perempuan.

Demikianlah dunia bekerja hingga tak pantas jika kita menyalahkan Adam Smith, Bapak ilmu ekonomi, yang meniadakan pekerjaan perempuan dalam perhitungan ekonominya. Pada 1776 ia menuliskan kutipan terkenal: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri-sendiri.” Ia memandang motif ekonomi sebagai penggerak tindakan manusia, seolah lupa bahwa hampir sepanjang hayatnya, Smith dirawat dan disiapkan makan oleh kebaikan hati ibunya.

Pekerjaan merawat (yang lazim dilakukan oleh perempuan) memang masih dipandang rendah oleh dunia hingga kini, dua setengah abad kemudian, walau tak dapat dinafikan bahwa pekerjaan merawatlah yang membuat kehidupan tetap berputar. Bahkan para ekonom berkelakar bahwa jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, Pendapatan Domestik Bruto negaranya turun, tapi jika ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.

Dengan kocak, dan tentu saja cerdas, Katrine Marรงal membeberkan fakta, menggiring kita memahami jalan pikirannya tanpa menghakimi pihak manapun. Ia menceritakan sejarah ekonomi mulai dari manusia baru mengenal konsep uang hingga akhirnya kapitalisme menyatukan orang lebih banyak daripada agama apapun, menceritakan perempuan melalui pengalaman yang acap kali ditemui di belahan dunia manapun, lalu mengaduk semuanya...