Tak hanya badan
yang panas akibat ulah matahari bedengkang, hati arsitek-arsitek Pontianak jadi
ikutan panas gara-gara ulah Bang Midji Tribun berita di Tribun mengenai opini Sutarmidji. Kita tidak usah
menyalahkan oknum, salahkan beritanya saja, bisa-bisanya dia beredar begitu
saja di dunia maya. Eh apa salahkan yang baca saja ya? Hohohohoho
Sebenarnya sih Bang Midji Tribun Si Berita tak salah
bilang ‘Pontianak tak miliki arsitek imajinatif’ jika yang dimaksud dengan
imajinatif merujuk pada desain-desain ala Zaha Hadid. Nyata bahwa di Pontianak
tidak ada bangunan yang meliuk-meliuk seperti itu. Mungkin ini
akibat jika rak-rak bagian arsitektur di toko buku hanya dipenuhi dengan buku-buku
seperti Ragam Desain Fasad Rumah
Minimalis, Ide Rumah di Lahan 70 –
120 m2, Inspirasi Desain Taman Kontemporer, dan kawan-kawannya sehingga
banyak orang awam berpikiran bahwa menjadi arsitek hanya semudah membalikkan telapak
tangan, yang penting ide, yang penting imajinasi. Parahnya lagi, imajinasi hanya dikotakkan pada langgam tertentu, menyebabkan orang-orang yang mengedepankan moto less is more ingin tidak menjadi warga Pontianak saja :'
Terselip pula
kalimat “Selama ini ia melihat, apa yang dibangun tidak ada istimewanya dari
segi arsitektur. Padahal mereka diberi kebebasan dalam berimajinasi.” Waahh.... padahal semua
bangunan yang lahir dari tangan arsitek itu istimewa. Seorang arsitek akan
memikirkan fungsi bangunan, kondisi lingkungan sekitar bangunan tersebut akan
dibangun (tanah, air, api, udara, eh maksudnya kondisi fisik tanah, arah
matahari, pergerakan angin, dll), hingga psikologi bakal penghuni bangunan.
Jika salah satu bagian dari elemen tersebut berubah, tentu akan berubah pula
hasil rancangannya.
Gampangnya, coba bayangkan rumah panjang Dayak dan rumah Melayu. Walau berada di bawah langit yang sama, masyarakat kedua suku tersebut memenuhi kebutuhan akan tempat berlindung mereka dengan bentuk bangunan yang berbeda akibat adanya perbedaan filosofi hidup. Dan jangan harapkan kita bisa melihat bentuk bangunan seperti ini di Mesir yang kondisi alamnya jauh berbeda.
Arsitek ada sebagai respons atas kebutuhan ruang. Jika ada kebutuhan akan tampak ataupun bentuk bangunan yang "imajnatif", tentu arsitek akan menjawab kebutuhan tersebut.
Eh ini kok saya malah memberi penjelasan serius ya, padahal awalnya hanya ingin curhat :'
Ah, sudahlah, biarkan saja Si Berita jadi masalah arsitek-arsitek Pontianak. Saya ingin tidur saja, bermimpi dengan imajinasi-imajinasi saya sendiri.
Gampangnya, coba bayangkan rumah panjang Dayak dan rumah Melayu. Walau berada di bawah langit yang sama, masyarakat kedua suku tersebut memenuhi kebutuhan akan tempat berlindung mereka dengan bentuk bangunan yang berbeda akibat adanya perbedaan filosofi hidup. Dan jangan harapkan kita bisa melihat bentuk bangunan seperti ini di Mesir yang kondisi alamnya jauh berbeda.
Arsitek ada sebagai respons atas kebutuhan ruang. Jika ada kebutuhan akan tampak ataupun bentuk bangunan yang "imajnatif", tentu arsitek akan menjawab kebutuhan tersebut.
Eh ini kok saya malah memberi penjelasan serius ya, padahal awalnya hanya ingin curhat :'
Ah, sudahlah, biarkan saja Si Berita jadi masalah arsitek-arsitek Pontianak. Saya ingin tidur saja, bermimpi dengan imajinasi-imajinasi saya sendiri.