Sunday, 25 December 2016

Sebuah kesalahankah?

"Jujur, aku ada perasaan ke kamu."

Aku menoleh, "Cukup besar buat bikin kamu ninggalin dia? Kalau nggak, kalikan nol aja."

"Kamu nggak bisa ya ngomongnya lembut dikit?"

Keep your tone, Nafa. Kamu nggak boleh luluh. Se-charming apapun Agus, dia calon suami orang!

"Kamu berharap aku bilang kalau aku juga punya perasaan ke kamu?"

"Iya. Ya setelah selama ini kita dekat, nggak mungkin kamu cuma nganggap aku teman kan?"

"Kamu lebih dari teman. Kamu tahu itu."

Damn! Why that words split out of my mouth? Alihkan kepalamu kembali ke Harry Potter and The Half Blood Prince, kamu nggak bakal sanggup ngeliat Agus dengan tatapan seperti itu.

"Terima kasih kalau gitu," kataku cepat-cepat.

"Terima kasih?"

"Ya. Terima kasih, Gus."

"Terima kasih buat?"

"Terima kasih karna udah punya perasaan lebih ke aku."

Udah dong, Gus. Pengakuan-pengakuan kayak gini cuma bikin hubungan kita nggak sehat.

"Sini.."

Apa lagi, Gus?

"Sini....."

Agus menarik tubuhku ke sisinya, melingkarkan tangannya di pinggangku. Irama napasnya terdengar jelas. Tak kupungkiri pelukannya tak pernah gagal membuatku nyaman. Ia mengecup pipiku pelan, menuruni leherku dengan bibirnya, membuatku.........

"Gus...." kataku seraya menarik tubuh menjauh.

Ditariknya kepalaku dalam dekapannya, "Iya, sayang."

"..."

Sebuah kesalahankah ini, Tuhan? Bagian mana yang salah?