Friday, 22 January 2016

Renjana Dyana - order and chaos

Apakah dua belas bulan bisa dibilang singkat, atau malah terlalu lama?

Bagi orang yang saling mencintai, waktu berjalan begitu cepat. Bertahun pun tidak terasa, malah selamanya mungkin rasanya cuma sebentar. Seperti yang kurasakan saat tidur di kedalaman pelukannya, aku mendapati tiba-tiba saja sudah pagi. Pada setiap pertemuan, waktu seakan berjalan terburu-buru, dan tanpa kusadari, aku sudah merindukannya lagi.

Tetapi bagi orang yang sedang bersedih, waktu seperti bergerak merangkak. Satu jam saja rasanya begitu lambat. Rasanya seperti tak ingin lagi berada di tempat ini. Saat merasa tersiksa, aku merasa ingin berada di mana saja, asal tidak di sini.

Awalnya, aku merasakan hal yang pertama. Kebahagiaan bertubi-tubi datang kepadaku. Semua sapanya beraroma bunga. Kecupan-kecupannya membuatku gila. Seluruh pandangannya hanya tertuju padaku. Semua kebahagiaannya memenuhi kebahagiaanku.

Aku terangkat tinggi-tinggi ke udara. Tangan-tanganku serasa menggapai nirwana. Kaki-kakiku tidak lagi menjejak tanah. Surga yang dulu pernah tidak kupercaya, kini mengada. Dan aku berada di dalamnya, tak ingin ke mana-mana.

"Suatu hari, kau akan mencium sesorang dan saat itu kau akan tahu itu adalah orang yang ingin kau cium terus seumur hidupmu."

Dan saat menciumnya, aku menemukan sebuah bibir yang sempurna, bibir yang selama ini kutunggu-tunggu. Bibir yang membasahi kekeringan jiwaku, yang selama ini membuatku selalu menyepi di sebuah sudut ruangan yang sempit.

Aku yang tadinya juga tidak percaya dengan teori-teori tentang takdir dan pasangan jiwa, kini mulai berubah pikiran. Aku ingin dialah yang akan menemaniku hingga aku mati. Aku ingin bersamanya hingga kami menua nanti. Aku ingin menggenggam tangannya saat berjalan tertatih-tatih. Aku ingin meraba keriput di wajahnya, aku ingin memeluk napas terakhirnya. Aku tidak ingin melepaskannya, bahkan jika salah satu dari kami meninggal lebih dahulu.

Hidupku mulus dan lancar. Ssperti permukaan kulitku yang halus bagi sutra, katanya. Seperti alam semesta, yang selalu berputar pada tempatnya. Jika aku jatuh, aku tidak lagi merasakan sakit. Aku tidak pernah menangis lagi, kecuali jika merengek manja menginginkan sesuatu kepadanya. Aku bahkan tidak pernah kecewa. Semua seolah meniada jika dibandingkan dengan apa yang sedang kurasakan.

Di setiap malam yang terasa panjang, aku menjadi kerap berdoa. Padahal aku jarang, atau bahkan bisa dibilang tidak pernah berdoa. Tetapi aku punya sebuah pengharapan, dan aku ingin agar pengharapan itu menjadi kenyataan. Aku ingin sebuah kekuasaan besar di jagat raya ini mengabulkannya. Dengan kehadirannya, aku bahkan menjadi percaya kalau Tuhan itu ada.

Tetapi beberapa minggu terakhir ini, kenapa surga menutup ketujuh pintunya? Tuhan seakan menghindariku lagi. Doa-doaku kembali meniada.

Keindahan itu mendadak berubah menjadi bencana. Keteraturan itu tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Aku tidak bisa tidur. Apa pun yang kumakan rasanya tidak enak di lidah. Aku tidak ingin keluar rumah. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku ingin meringkuk saja di tempat tidurku sepanjang hari. Dadaku hampir setiap saat berdebar kencang. Kepalaku berputar tidak beraturan. Segala sesuatu yang ada di dalam diriku kacau. Bagai bulan yang terlempar dari orbitnya, tidak ada gravitasi lagi yang menahannya. Semuanya kacau.

Aku orang yang sangat mengagungkan keteraturan. Seperti bumi yang selalu berputar pada porosnya, seperti waktu yang selalu sama, seperti detak metronom yang stabil dan teratur. Aku menginginkan hidupku seperti itu semua.

Tetapi ada sebuah kuasa yang seolah berada di luar kekuatanku. Kuasa itu memorak-porandakan segala keteraturan yang sudah kutata dengan rapi. Keteraturan yang begitu sulit kutegakkan selama bertahun-tahun ini.

Kupandangi kembali gurat-gurat yang ada di kedua pergelangan tanganku. Sebuah pola acak, sebuah kekacauan yang sempurna, tetes-tetes darah yang mengalir deras.

Ini harus segera dihentikan.

----------------------------------------------------------------

Adi Kurniadi.
Fotografer yang tenar dengan nama adimodel;
yang menulis beberapa novel termasuk Renjana Dyana;
yang kata-katanya dalam chapter order and chaos saya ketik dan kalian baca barusan.

I like the way he describes time flies fast when we are happy.
I like the way he tells how suffer we are when our heart hurt.
And most of all, he slaps me on my face by writing about pray and hope.
Yeah, pengharapan.
I kinda know what does she (the woman in the novel) feel.
I only pray when I have pengharapan, when I believe that that thing cannot be held by me but there is Someone who can.

I just agree to every word he choose. That's it.
And that's why, I made this and suggest you to read and buy the book.




PS.
I haven't finished read the book.
What do you think adimodel means 'ini' in the last line?
Her sadness?
Or her life, perhaps?

Tuesday, 5 January 2016

2015


Looking back to 2015.....

Me and my family always do the to-close-and-open-year-praying in the middle of the night, so was last year, and that was the year I spent its very first seconds with tears. I just can't help it, when I saw Bue (=grandfather in Dayak Ngaju language) getting thinner on his wheelchair. I used to know him as a great man. I still can't accept he should be in that condition. But knowing that he's still breathing and be with us until this day, I thank God.

 Thank God again, because in 2015 I traveled aboard for the first time. That lucky country (or lucky me :P) is Japan. Not really enjoy the trip, actually. We had a tight schedule so I never had enough time to travel around and I got PMS. So yaa I'm sorry to SCENErs for being sensitive and quite suck at that time. Btw, these guys, the SCENErs, are the most 'ga-ada-jaim-jaimnya' people.

 My birthday in 2015 is quite something too. I turned 22 and not only people in my church congratulate me but also Al-mudrikyah members. It's really something when you accepted by people who differ with you. I'm thank you because of that. Ah, someone asked what I want on my birthday. He has almost everything and I totally aware that He may give me anything. But, (I dunno what the hell I was thinking about) I only asked for a prayer. Silly, huh? No.. it’s kinda weird, but I never regret it. My prayer is about . . .

 . . . final project. That thing was somewhat frustrating me. I started it in February and (finally) finished it in December. Until this time, I am the student (in my generation) who takes the longest time to finish a final project. I thank for that, actually (terima kasih, Bu, Pak). But it shouldn't be counted as 11 months because I was ‘disappearing’ for almost 2 months to do the preparation for my trip to Japan. Ah, I also do some others in March, April, July (to Singkawang) and November (to Bogor). My campus mates (and lecturers) didn’t know that I really take some dates enjoying my time. Haha. By the way, do you know what date I did the final presentation of my final project? 23rd! Yeah, 23rd of December! Poor my mom because she must take over the christmas-cookies-making job. (If I have to thank someone at most, she is the one. Not sure I will ‘works’ if she wasn’t there.)

 The last but not least, you, the man who became my sentris of the year. Ah, I use sentris instead of translating it to ‘central’ because I used to call this phenomenon as ‘(his name)sentris’ just like geosentris or egosentris because my life goes around surround you since I have you. Though 2015 is over, I’m not over you (yet) (or never will, maybe). Haha. Thanks for both the laugh and the tears.

 So, ya, 2015 is really a year. I also know Jostein Gaarder, Dewi Dee Lestari, M. Aan Mansyur, Remy Sylado, and Agus Noor by their great writings (that make me fall in love again and again), first in 2015. I hope 2016 will be greater than you, 2015. Thank you again!