Wednesday, 10 June 2015

Bak Setetes Air yang Kembali ke Samudra

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
      - Kejadian 1:26a -


Kita tahu, bahwa segala yang ada di alam semesta ini berasal dariNya, termasuk kita.
Tetapi, hanya kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya.
Tentu kita sudah sering mendengar hal ini. Segambar dan serupa dengan Allah. Demikianlah istilah yang sering beredar.
Namun seperti apa 'segambar dan serupa' itu?

       Bila diibaratkan, mungkin kita seperti setetes air, dan Tuhan samudranya.
Kau bisa melihat tetes-tetes air, tapi kau pasti tak bisa melihat Samudra secara keseluruhan dengan satu   pandangan mata.

       Mungkin juga kita seperti bunga api, dan Tuhan adalah api unggun abadi.
Kau mungkin akan mengaduh saat sepercik bunga api mengenai kulitmu, tapi tentu kau tak mau membayangkan apa yang terjadi jika Sang Api Unggun menjilatimu. Berdiri di dekatnya saja kau tak mampu.

       Bisa juga kita ibaratkan pasir, dan Tuhan pantainya.
Kau pasti sanggup menghitung ada berapa butiran pasir yang menyangkut di kukumu, tapi kau pasti tak sanggup menghitung pasir yang terhampar di sepanjang pantai.

       Atau mungkin kita seperti hembusan nafas, dan Tuhan adalah atmosfer.
Sebuah hembusan nafas mungkin dapat menggelitik tengkukmu, tapi tentu kita tak ingin seluruh udara bergerak secara bersamaan. Sebagian saja sudah dapat menerbangkan jalanan!

Ya, mungkin seperti itu.
Benda-benda kecil itu mempunyai substansi yang sama dengan benda asalnya.
Sama seperti kita yang berasal dariNya, yang diciptakan segambar dan serupa denganNya.

Benarkah pemikiranku?
Setujukah kau denganku?

Dan ketika semua  yang berasal dariNya akan kembali padaNya, maka kita akan melebur bak embun yang jatuh ke atas samudra, menyatu bak sumbu yang terbakar kobaran api, membaur selayaknya triliunan pasir di pantai, menjadi padu bak udara yang mengisi setiap rongga.
Ketika kita kembali padaNya, tak akan ada yang tersisa. Tak ada kehidupan. Tak ada pula kehidupan sesudah mati.

Yang ada hanya Dia. Kembali seperti semula. Ke ketiadaan.
Masih setujukah kau denganku?

Monday, 8 June 2015

Yesus lahir di Bulan Desember karena.....

Kau tahu mengapa Yesus memilih lahir ke dunia pada Bulan Desember?

Kalau menurutku, karena Desember itu dingin..
Tuhan memilih turun pada Bulan Desember untuk menghangatkannya!

Karena ada natal, pemandangan serba putih akibat salju jadi tak membosankan dihalau oleh kerlip lampu dan kilaunya ornamen natal berwarna-warni
Karena ada natal, pikiranmu akan direlaksasi dengan aroma kue panggang dan lupa akan kencangnya angin salju di balik jendela
Supaya di saat Desember, di masa-masa paling dingin sedunia, kau tetap bisa merasa hangat karena seluruh anggota keluarga ada di sekitarmu
Bahkan kau bisa menari di atas salju setelah merasakan panasnya berduaan di bawah mistletoe!

Ah, Tuhan keren.... Ia menyalakan api kecil di setiap hati melalui semangat serta keceriaan natal dan menjadikan Desember salah satu bulan terhangat yang aku miliki.

Saturday, 6 June 2015

Tuhan........,

Tuhan, mengapa harus selalu ada akhir di dunia ini?

Mengapa aku tak bisa selamanya bermain sebagai anak kecil?
Tak bisa selamanya menikmati hijaunya dedaunan dari bangku taman favoritku?
Selamanya mendekap orang yang ku cintai?
Mengapa suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibuku.......?

Tuhan, Engkau lucu.........
Engkau mengadakan sebuah arena yang disebut dunia
Kemudian Engkau menurunkan jutaan rintangan
Siapa yang berhasil menaklukan rintangan-rintangan itu, akan kembali bersama-Mu di Nirwana
Siapa yang gagal, akan Engkau kirim ke tempat penyiksaan yang bernama neraka

Tak bisakah Engkau mencipta dan meletakkan kami di sisi-Mu, Tuhan?
Mengapa ???!

Apakah Engkau begitu ingin dipuja sehingga menurunkan berjuta manusia dan bersabda bahwa aku ini begitu hina?
Apakah Engkau menikmati setiap rintihan dan air mata yang ku cucurkan ketika ku tersandung berjalan melewati rintangan-Mu?
Ah.... atau apakah Engkau ingin ku anggap Pahlawan? Hingga menciptakan skenario turun ke bumi dan mati di kayu salib demi menyelamatkanku
Tuhan, Kau................................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................
...................

tolong aku.................., Tuhan